Pabrik ToyotaPengecekan KualitasPekerja sedang melakukan pengecekan kualitas mobil usai dirakit di Toyota Motor Manufacturing Indonesia di TMMIN, Karawang, Jawa Barat, Selasa (24/11). | Tahta Aidilla/Republika
04 Jun 2020, 06:08 WIB

Pasar Otomotif Kian tak Menentu

Meski berhenti berproduksi, perusahaan menjamin pelayanan after sales tetap berjalan.

Awalnya, prediksi pasar otomotif nasional tahun ini akan lebih baik dibandingkan 2019. Tapi ternyata, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Virus Covid-19 telah membuyarkan harapan itu, sehingga pabrikan pun harus menghitung ulang produksi, dan bahkan beberapa di antaranya menghentikan produksi untuk sementara, serta merumahkan karyawannya.

Sejumlah pabrikan yang sudah resmi menghentikan produksinya mulai bulan ini, di antaranya Honda, Mercedes-Benz, dan Suzuki. Business Innovation and Marketing & Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy mengatakan, lewat kebijakan itu, maka karyawan yang berhubungan langsung dengan proses produksi untuk sementara tidak perlu datang ke kantor.

"Kebijakan ini mulai berlaku pada 13 April 2020 dalam kurun waktu selama 14 hari," kata Yusak, Selasa (7/4).

Ia menekankan, selama periode itu hanya lini produksi yang berhenti beroperasi, sedangkan kegiatan operasional lain di pabrik dan head office masih tetap berjalan. Di satu sisi, HPM juga terus memonitor permintaan pasar untuk mempersiapkan strategi yang tepat dalam menjalankan aktivitas produksi di bulan-bulan mendatang.

Terkini

photo
Pekerja memeriksa kondisi rakitan mobil sebelum di pasarkan di sebuah pabrik mobil di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (27/2). - (ANTARA FOTO)

Produksi HPM saat ini dilakukan di pabriknya di Karawang, Jawa Barat dengan kapasitas mencapai 200 ribu unit per tahun. Model yang diproduksi di pabrik ini meliputi Honda Brio, Mobilio, BR-V, HR- V, CR-V, dan Honda Jazz.

Menurut Yusak, penghentian produksi tersebut akan berdampak terhadap sekitar 7.000 unit mobil yang dibuat untuk pasar domestik, tapi tidak berdampak terhadap produksi untuk pasar ekspor. Penyesuaian di lini produksi juga tidak berimbas pada pengurangan karyawan di pabrik HPM dan semua karyawan tetap mendapatkan gaji pokok penuh serta tunjangan sesuai ketentuan yang berlaku.

 
Penghentian produksi akan berdampak terhadap sekitar 7.000 unit mobil untuk pasar domestik, tapi tidak berdampak terhadap produksi untuk pasar ekspor.
Business Innovation and Marketing & Sales Director PT Honda Prospect Motor
   

Kebijakan ini dilakukan, lanjut dia, untuk menjaga keseimbangan antara persediaan dan permintaan, mengingat penyebaran virus korona telah membuat penjualan Honda mengalami penurunan.

Berdasarkan hasil rekapitulasi HPM pada Maret 2020, tercatat sebanyak 10.657 unit mobil Honda terjual di Indonesia atau turun 11 persen dari bulan sebelumnya. "Dalam kondisi pasar yang sedang turun saat ini, sangat penting untuk tetap menjaga level stok dan pasokan agar tetap seimbang dengan permintaan pasar. Karena itu, kami akan melakukan penyesuaian dengan menghentikan sementara aktivitas produksi di pabrik," ujarnya.

Terkait target penjualan pada 2020, ia masih mengacu pada angka awal. Karena, Yusak menilai, saat ini masih terlalu dini untuk melakukan prediksi pasar hingga akhir tahun. HPM menilai kondisi pasar masih belum stabil dan dapat berubah dengan cepat dari waktu ke waktu.

"Kita harus fleksibel menentukan strategi yang paling sesuai dengan kondisi terkini. Tentu kami akan menyesuaikan target untuk mempertahankan tingkat stok yang sehat," ucap dia.

Penghentian sementara lini produksi juga dilakukan Mercedes-Benz pada fasilitas produksinya di Wanaherang, Bogor. Penutupan ini telah dilakukan sejak 26 Maret 2020 lalu.

Public Relations Department Head PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia, Dennis Kadaruskan, mengatakan, keputusan menutup sementara fasilitas pabrik dilakukan untuk mematuhi rekomendasi dari pemerintah. "Kami mematuhi arahan dan instruksi dari otoritas. Penghentian aktivitas pabrik sementara ini akan diperpanjang jika dibutuhkan. Keputusan akan ditetapkan berdasarkan perkembangan selanjutnya," kata Dennis.

Ia menekankan, karyawan Mercedes-Benz saat ini bekerja dari rumah (work from home) untuk mematuhi pedoman social distancing. Meski demikian, karyawan juga akan tetap menerima kompensasi atau gaji secara normal.

Saat ini, fasilitas produksi Mercedes-Benz untuk perakitan kendaraan penumpang dan kendaraan komersial melibatkan sekitar 500 orang. Namun, Dennis memastikan bahwa penyebaran Covid-19 tidak memaksa Mercedes-Benz untuk melakukan pengurangan karyawan.

Suzuki pun melakukan hal yang sama. Presiden Direktur PT Suzuki Indomobil Sales, Seiji Itayama, mengatakan, perusahaan melakukan sejumlah upaya demi dapat melindungi kesehatan karyawan.

photo
Pekerja merakit mesin mobil di Pabrik Mobil Esemka, Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019). - (ANTARA FOTO)

"Saat ini yang menjadi prioritas utama kami adalah kesehatan seluruh elemen perusahaan. Untuk alasan itu, Suzuki akan menghentikan sementara kegiatan produksi di pabrik sebagai salah satu upaya melindungi karyawan," kata Itamaya.

Penghentian kegiatan produksi tersebut akan berlangsung selama dua pekan mulai dari 13 April sampai 24 April 2020 di ketiga lokasi pabrik Suzuki, yaitu di Cakung, Tambun, dan Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Meski begitu, Suzuki tetap akan memberikan upah secara penuh kepada karyawan yang sementara tidak bekerja.

Selain memprioritaskan kesehatan karyawan, di sisi lain Suzuki juga tetap fokus pada kualitas layanan pelanggan. "Karena di saat seperti ini, justru kami harus memberikan hal positif kepada masyarakat agar tetap tenang, termasuk dalam merawat kendaraan. Saya pastikan layanan after sales Suzuki tetap berjalan di masa yang berat ini," kata Itayama.

 
Karena di saat seperti ini, justru kami harus memberikan hal positif kepada masyarakat agar tetap tenang, termasuk dalam merawat kendaraan
Seiji Itayama, Presiden Direktur PT Suzuki Indomobil Sales
 

 

Target pasti meleset

Saat ini, kondisi penuh dengan ketidakpastian. Target penjualan nasional yang kembali mampu menembus satu juta unit pun terancam tak tercapai. Mengingat, penurunan penjualan sudah mulai terasa pada Maret 2020.

Pengamat otomotif Bebin Juana menilai, adalah hal yang sangat menantang bagi pabrikan yang memiliki ambisi untuk melakukan pembukuan penjualan sesuai dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya. "Artinya, target penjualan nasional di atas satu juta unit kemungkinan besar akan sangat sulit dapat dicapai," katanya, Selasa (7/4).

Oleh karena itu, ia menilai Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan pabrikan perlu melakukan kajian kondisi pasar. Lewat kajian itu, diharapkan Gaikindo dan pabrikan dapat melakukan revisi target penjualan yang lebih realistis setelah melihat dampak dari pandemi.

 
Gaikindo dan pabrikan dapat melakukan revisi target penjualan yang lebih realistis setelah melihat dampak dari pandemi
Bebin Juana, Pengamat Otomotif
 

Menurutnya, Gaikindo dan pabrikan terus melakukan kajian demi dapat menghadirkan strategi yang paling akurat. Biasanya revisi target itu akan diumumkan pada awal semester kedua.

"Jika melihat realitas saat ini, rasanya target penjualan memang perlu direvisi. Tapi tentu revisi ini baru dapat ditetapkan setelah melihat data penjualan pada bulan April dan Mei."

Soal penghentian sementara lini produksi sejumlah pabrikan, Bebin menilai hal itu merupakan aksi yang tepat. Karena, hal ini sekaligus menyiratkan bahwa pabrikan juga sangat memperhatikan keselamatan karyawan. Meskipun, tentu kebijakan ini dilakukan dengan pertimbangan terkait jumlah persediaan kendaraan.

Menurutnya, penghentian sementara ini dilakukan karena jumlah stok yang ada saat ini sudah cukup memenuhi permintaan dalam beberapa pekan ke depan. Sehingga, penghentian sementara pun dinilai jadi strategi yang paling efisien.

"Jika hanya mengurangi shift pabrik, maka proses produksi akan berjalan dengan tidak efisien dan biaya produksi akan meningkat. Padahal, dalam kondisi seperti ini rasanya sangat tidak pas jika pabrikan harus meningkatkan harga jual kendaraan," ujarnya.

Kembali pada soal angka penjualan, kondisi pasar saat ini pun membuat Gaikindo terpaksa mengiyakan bahwa angka total diperkirakan tak akan mencapai satu juta unit. Ketua I Gaikindo, Jongkie D Sugiarto memprediksi, jika dampak korona terjadi selama beberapa bulan, maka angka penjualan akan terpangkas sekitar 40 persen dari target yang telah ditetapkan sebelumnya.

"Jika pandemi masih terjadi hingga beberapa bulan, maka diprediksi total penjualan nasional sepanjang 2020 hanya sekitar 600 ribu unit," kata Jongkie.

Prediksi itu dihitung berdasarkan penurunan penjualan yang mulai terjadi pada Maret 2020. Menurutnya, pada Januari dan Februari, catatan penjualan berada pada level sekitar 80 ribu unit per bulan. Sedangkan pada Maret, berdasarkan data sementara, penjualanya hanya sekitar 60 ribu unit.

Ia memperkirakan, penurunan signifikan juga akan terjadi bulan ini mengingat penjualan sepanjang April hingga Juli akan sangat bergantung pada status pandemi korona di Indonesia.

"Kami berharap, wabah ini dapat segera berakhir. Jika wabah berakhir, maka penurunan penjualan tak perlu terjadi hingga tiga bulan," ujarnya.

 


×