
Internasional
Gencatan Senjata di Myanmar Lancarkan Bantuan Gempa
Korban jiwa gempa bumi Myanmar lampaui 3.000 orang.
NAYPYIDAW – Stasiun televisi MRTV yang dikelola pemerintah militer mengumumkan gencatan senjata berlangsung selama 20 hari untuk mendukung upaya penyelamatan korban gempa Myanmar. Keputusan itu diambil setelah perang sipil menghambat penanggulangan gempa dahsyat yang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang itu.
Junta memperingatkan pihak berwenang akan "mengambil respon yang tepat" bila pemberontak melancarkan serangan. Pengumuman kemarin setelah aliansi besar pemberontak mendeklarasikan gencatan senjata untuk membantu upaya kemanusiaan.
“(Gencatan senjata) untuk bersimpati kepada para korban gempa bumi di seluruh negeri, untuk menyediakan operasi penyelamatan dan rehabilitasi yang efektif,” kata MRTV melaporkan, seperti dikutip dari kantor berita UPI, Jumat (4/4/2025).
Perang yang berlangsung sejak militer mengkudeta pemerintah terpilih pemenang Hadiah Nobel Aung San Suu Kyi pada 2021 lalu mempersulit upaya penyelamatan gempa di Myanmar. Pemerintah militer melaporkan jumlah korban jiwa dalam gempa 7,7 skala Richter pekan lalu tembus 3.000 orang lebih.
Para jenderal yang berkuasa terisolasi di panggung internasional sejak kudeta. Pemimpin junta Min Aung Hlaing dilarang mengikuti pertemuan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Isolasi Myanmar di panggung internasional mempersulit ekonomi dan memperlemah layanan dasar negara itu termasuk layanan kesehatan. Hal ini memperumit upaya pemulihan daerah terdampak gempa seperti Mandalay, Sagaing, dan ibu kota Naypyidaw.

Kelompok pemberontak Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang mengatakan pada Selasa (2/4/2025) malam tentara junta menembaki konvoi sembilan kendaraan mereka yang dalam perjalanan menuju Mandalay pada hari Selasa.
Namun pemerintah mengatakan peristiwa tersebut kesalahpahaman dan bersikeras tentara menembakkan senjatanya ke udara dan hanya melepaskan tembakan ke arah konvoi tersebut setelah konvoi tidak menghiraukan perintah untuk berhenti.
Seorang juru bicara pemerintah tampaknya menyalahkan kontingen Palang Merah Cina karena gagal menginformasikan kepada pemerintah mengenai pergerakan mereka. Juru bicara itu mengatakan organisasi internasional harus memberitahu Naypyidaw mengenai kehadiran mereka. Para pemberontak yang menyediakan keamanan untuk konvoi tersebut bersikeras mereka telah memberi tahu dewan militer tentang rute yang akan ditempuh ke Mandalay.
Pemimpin militer Myanmar, Min Aung Hlaing, dijadwalkan untuk bertemu dengan para pemimpin regional pada pertemuan yang berjarak 800 mil jauhnya di Bangkok, Thailand. Pertemuan ini digelar saat Thailand masih dalam proses pemulihan dari dampak gempa bumi di ibukota yang menewaskan sedikitnya 22 orang, 15 diantaranya adalah para pekerja bangunan yang terperangkap dalam runtuhnya gedung pencakar langit yang belum selesai dibangun.
Gempa 7,7 skala Richter menjadi gempa terkuat yang mengguncang Myanmar dalam satu abad terakhir. Kekuatan gempa menghancurkan bangunan-bangunan seperti rumah sakit, meratakan pemukiman dan membuat banyak warga tidak memiliki akses ke makanan, air dan tempat penampungan. Pada Kamis (3/4/2025) junta militer yang berkuasa di Myanmar mengatakan total korban jiwa mencapai 3.085 orang, dengan 4.715 korban luka dan 341 orang hilang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan risiko penyebaran kolera dan penyakit menular lainnya di daerah-daerah paling terdampak seperti Mandalaya, Sagaing dan Ibukota Naypyitaw. Sementara lembaga PBB itu mempersiapkan bantuan kemanusiaan termasuk kantong jenazah senilai 1 juta dolar AS. "Kolera masih yang paling membuat kami cemas," kata deputi kepala kantor WHO Myanmar Elena Vuolo.
Ia menyinggung tentang penyebaran kolera di Mandalay tahun lalu. Vuolo menambahkan risiko di daerah terdampak semakin parah karena setengah dari fasilitas kesehatan hancur termasuk rumah sakit-rumah sakit di Mandalay dan Naypyitaw.
Vuolo mengatakan korban terdampak gempa berkemah di luar ruangan dengan suhu 38 derajat Celcius karena mereka masih takut pulang ke rumah. Selain itu banyak rumah sakit yang juga mendirikan fasilitas sementara.
Ia mengatakan penyakit kulit, malaria, dan dengue menjadi penyakit yang dapat menimbulkan krisis berkepanjangan seperti yang terjadi di Myanmar. Tetapi kondisi pengiriman bantuan diperkirakan akan lebih sulit.
Badan pemantau cuaca memperingatkan hujan akan mengguyur daerah paling terdampak gempa mulai dari Ahad (6/4/2024) sampai Jumat (11/4/2025). "Saya mendengar besok atau dua hari kedepan akan ada hujan (yang tidak diperkirakan)," kata perwakilan Program Pembangunan PBB (UNDP) Myanmar Titon Mitra.

Ia mengatakan hujan akan semakin mempersulit hidup warga yang masih berkemah di luar ruangan. "Bila hujan turun, ada warga, banyak warga, di tempat penampungan sementara, yang mendirikan tenda di jalanan, dan akan menimbulkan masalah nyata," katanya. Mitra menambahkan UNDP juga mengkhawatirkan penyebaran wabah penyakit menular dari air.
Bantuan Indonesia. Sementara, pemerintah Indonesia mengirimkan bantuan kemanusian setotal 124 ton atau setara Rp 1,2 juta dolar AS ke Myanmar. Bantuan kemanusian dari Indonesia, dikirimkan melalui penerbangan udara via Halim Perdanakusumah, pada Kamis (3/4/2025).
Menteri Luar Negeri Sugino mengatakan, bantuan kemanusian kali ini merupakan respons Indonesia untuk membantu negara tetangga, sesama anggota ASEAN. “Bantuan yang dikirimkan sebagian besar merupakan logistik, dan peralatan-peralatan yang dibutuhkan oleh pemerintahan di Myanmar, untuk membantu masyarakatnya yang terdampak. Beberapa yang dikirimkan mulai dari shelter, alat-alat kesehatan, hingga obat-obatan,” kata Sugiono, di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis (3/4/2025).
Sugiono menerangkan, pengiriman bantuan tersebut setelah pekan lalu, otoritas Myanmar menyampaikan langsung permintaan bantuan ke negara-negara ASEAN. Kata Sugiono, dari koordinasi dengan negara-negara sesama ASEAN, pun sepakat untuk mengerahkan bantuan, mulai dari personel untuk evakuasi, sampai dengan logistik, maupun peralatan-peralatan lainnya. “Kita mengirimkan bantuan berdasarkan dari apa yang masyarakat Myanmar butuhkan berdasarkan rapat bersama Kementerian Luar Negeri dengan negara-negara ASEAN beberapa waktu lalu,” ujar Sugiono.

Pada Selasa (1/4/2025) tim bantuan kemanusian Indonesia sudah terlebih dahulu diberangkatkan. Melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia mengerahkan 73 personel kemanusian untuk membantu evakuasi, dan pemulihan pascabencana di Myanmar. Puluhan personel kemanusian tersebut terdiri dari SAR, tim medis, dan tim kesehatan lainnya. “Untuk sementara waktu tim USAR (Urban Search dan Rescue) akan bertugas selama dua pekan di sana (Myanmar) dan bisa menyesuaikan jika masih dibutuhkan,” kata Kepala BNPB Letnan Jenderal (Letjen) Suharyanto.
Selain mengerahkan tim kemanusian, dalam pengerahan bantuan pertama itu, Indonesia juga membawa perbantuan logistik lainnya. berupa 1.300 pouch biskuit protein, serta 500 paket makanan siap santap. Serta 700 pakaian dan selimut. Kementerian Pertahanan (Kemenhan) turut berpartisipasi dalam pemberian 20 set tenda pengungsi, sarung sebanyak 1.000 lembar, dan mi instan sebanyak 100 dus. “Dan Badan SAR Nasional (Basarnas) mengirimkan satu unit truk dengan dua unit genset,” begitu sambung Letjen Suharyanto.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
Perang Hambat Penanganan Gempa Myanmar
Korban jiwa gempa Myanmar dikhawatirkan lampaui 3.000 orang.
SELENGKAPNYAEvakuasi Korban Gempa Myanmar Terkendala
Jumlah korban jiwa gempa Myanmar lampaui 1.600 orang.
SELENGKAPNYAKorban Jiwa Gempa Myanmar-Thailand Terus Melonjak
Jumlah korban jiwa dikhawatirkan mencapai angka ribuan.
SELENGKAPNYA