
Internasional
Israel-Suriah di Ambang Perang Terbuka?
Warga Suriah terlibat tembak-menembak dengan Israel untuk kedua kalinya.
DAMASKUS – Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Israel dan penduduk lokal di wilayah Hauran di pedesaan Daraa, Suriah selatan. Eskalasi ini dikhawatirkan memicu perang terbuka Israel melawan Suriah.
Baku tembak itu terjadi setelah serbuan Israel di dekat kota Nawa, yang memicu seruan mobilisasi umum di kalangan penduduk setempat. Laporan mengkonfirmasi bahwa delapan peluru artileri menghantam Hutan Jubailiya, yang terletak 10 kilometer dari Nawa.
Selepas bentrokan itu, Kantor Berita Suriah (SANA) melaporkan bahwa serangan udara Israel menargetkan area sekitar Gedung Penelitian Ilmiah di lingkungan Barzeh di Damaskus pada hari Rabu. Serangan itu juga menargetkan Bandara Militer Hama.
Pesawat tempur Israel melakukan lebih dari 10 serangan udara di Bandara Militer Hama. Korban jiwa baik dari pihak militer maupun warga sipil telah dilaporkan mencapai 11 orang. Pasukan Israel juga melancarkan tembakan artileri dan tank ke Tell Al-Jomou di Daraa barat pada Rabu malam.
Pasukan Israel mengubah arah setelah serangan itu, bergerak menuju Bendungan Tasil alih-alih maju lebih jauh ke dalam hutan. Tidak ada korban jiwa atau kerusakan properti yang dilaporkan. Drone Israel terlihat terbang di atas wilayah tersebut, menandai peningkatan gerakan militer Israel di sepanjang perbatasan Suriah dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki.

Quds news Network melansir, dalam beberapa bulan terakhir, Israel telah berulang kali mengirimkan pasukan darat ke daerah pedesaan di provinsi Daraa dan Quneitra. Pada Rabu malam, konvoi militer Israel mencapai Tell Al-Ahmar Al-Gharbi di pedesaan Quneitra. Pasukan masuk dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki melalui jalan baru yang dibangun oleh pasukan Israel sebagai bagian dari perluasan wilayah mereka.
Tell Al-Jomou merupakan bukit yang sangat strategis, menjulang 200 meter di atas daerah sekitarnya. Itu menghadap Sheikh Maskin di pusat Daraa di timur dan Wadi Al-Yarmouk di selatan. Israel telah berulang kali menargetkan situs tersebut karena kepentingan militer dan intelijennya. Pasukan Israel menembakkan bom suar di desa Koya di Cekungan Yarmouk, Daraa barat.
Sumber lokal mengkonfirmasi bahwa suar tersebut berasal dari pos terdepan Israel di desa Maaria. Warga khawatir akan terjadi eskalasi militer skala penuh, karena serangan Israel sudah kian sering dari hari ke hari.
Kementerian Luar Negeri Suriah mengutuk keras serangan terbaru Israel, dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan Suriah. Kementerian tersebut melaporkan bahwa serangan udara Israel menghantam lima lokasi berbeda dalam waktu 30 menit, menyebabkan kerusakan parah, termasuk kehancuran total Bandara Militer Hama dan banyak korban luka di kalangan warga sipil dan tentara.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa Israel dengan sengaja mengacaukan stabilitas Suriah dan menghambat upaya rekonstruksi setelah 14 tahun perang. Suriah mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan dan menekan Israel untuk mengakhiri operasi militernya. Mereka juga meminta PBB untuk campur tangan dan mencegah pelanggaran lebih lanjut.
Rescue teams and locals recovered the bodies of several victims who were killed in an Israeli airstrike targeting rural areas of Daraa in southern Syria. pic.twitter.com/LviD8UP8MG — Quds News Network (QudsNen) April 3, 2025
Sedangkan militer Israel menyatakan mereka menyita “peralatan tempur dan menghancurkan infrastruktur teror”. Pasukan Israel mendapat tembakan selama serangan itu dan membalasnya dengan serangan darat dan udara yang “melenyapkan beberapa teroris bersenjata”, kata militer dalam sebuah postingan di media sosial.
Militer juga mengatakan tidak akan mentolerir “kehadiran peralatan tempur di Suriah selatan” yang menurut mereka merupakan “ancaman bagi Negara Israel”. Dilaporkan sebelumnya bahwa pesawat tempur Israel mengebom ibu kota Suriah, Damaskus, dan provinsi tengah Hama.
Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz memperingatkan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa pada hari Kamis bahwa ia akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan jika ia mengancam keamanan Israel.
“Saya memperingatkan pemimpin Suriah al-Julani: Jika Anda membiarkan pasukan musuh memasuki Suriah dan mengancam kepentingan keamanan Israel, Anda akan menanggung akibatnya yang besar,” kata Katz dalam sebuah pernyataan, merujuk pada presiden Suriah yang dulu bernama Abu Muhammad al-Julani.
Breaking | Armed Syrian resistance fighters are battling Israeli occupation forces following a reported military incursion into a rural area of Daraa, southern Syria. pic.twitter.com/slzZsQ7BKu — Quds News Network (QudsNen) April 2, 2025
Katz menambahkan bahwa serangan udara tadi malam terhadap Hama dan Damaskus adalah “pesan yang jelas dan peringatan untuk masa depan… Kami tidak akan membiarkan adanya kerugian terhadap keamanan Negara Israel,” katanya.
Katz tidak merinci siapa yang dimaksud dengan pasukan musuh yang ia peringatkan agar Damaskus tidak mengizinkan masuk ke Suriah. Namun, media Israel dalam beberapa pekan terakhir telah melaporkan kekhawatiran Tel Aviv mengenai perjanjian antara Damaskus dan Ankara yang akan memberi Turki pengaruh dan pangkalan militer di Suriah, yang berpotensi membatasi operasi dan pergerakan Israel di wilayah udara Suriah.
Sejak jatuhnya Presiden Bashar al-Assad yang digulingkan pada 8 Desember, Israel telah melakukan ratusan serangan udara terhadap situs militer Suriah. Setelah jatuhnya Assad, tentara Israel menembus zona penyangga demiliterisasi di Dataran Tinggi Golan, yang terletak di tepi dataran tinggi Suriah yang diduduki Israel, dan mengambil kendali atas wilayah tersebut dan memperluas wilayahnya.
Februari lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan demiliterisasi menyeluruh di Suriah selatan, dan memperingatkan bahwa pemerintahannya tidak akan menerima kehadiran pasukan keamanan yang berafiliasi dengan pemerintah baru Suriah di dekat perbatasannya.
Selama bertahun-tahun, Israel melakukan serangan udara di Suriah pada masa pemerintahan Presiden terguling Bashar al-Assad, menargetkan apa yang digambarkannya sebagai fasilitas militer yang terkait dengan Iran dan transfer senjata dari Teheran ke kelompok Hizbullah Lebanon.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.