
Nostalgia
Siti Hajinah Bicara Lantang untuk Perempuan
Siti Hajinah membela perempuan dalam Kongres XIX Muhammadiyah di Fort De Kock.
Oleh FIKRUL HANIF SUFYAN, periset dan pengajar sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Art University of Melbourne Australia
Bermula dari Kongres XIX di Tepian Ngarai Sianok
Tersebutlah kisah diselenggarakannya Kongres XIX Muhammadiyah di Fort de Kock (baca: Bukittinggi) pada 14-21 Maret 1930. Kongres yang diselenggarakan kali pertama di luar Jawa dan banyak diprediksi masa itu bakal gagal.
Apa pasal? Karena perhelatan akbar yang dilaksanakan persyarikatan Muhammadiyah itu berlangsung di masa deraan depresi ekonomi yang menghantam dunia. Alih-alih gagal, malah perhelatan akbar ini tercatat yang paling meriah, selama penyelenggaraan kongres, atau hari ini dikenal dengan nama muktamar.
Tidak hanya laki-laki saja yang memeriahkan. Perempuan yang tergabung dalam organisasi Aisyiyah pun turut dalam gegap gempita kongres yang diselenggarakan di tepi Ngarai Sianok yang indah itu.
Pada 16 Maret 1930 diselenggarakan kali pertama rapat umum (openbare) Aisyiyah yang dihadiri 5000 orang perempuan. Mereka tumpah ruah di medan kongres yang dibuka secara langsung oleh istri Kiyai Ahmad Dahlan, yakni Siti Walidah.
Pascatampilnya Nyai Ahmad Dahlan, seorang perempuan bernama Siti Hajinah pun tampil sebagai orator. Ia bicara tentang perempuan, Aisyiah, amal usaha, dan gerakannya. Ia pun segera menjadi pusat perempuan yang berkumpul di ranah kelahirannya Bung Hatta tersebut.
Perempuan bernama Siti Hajinah
Siti Hajinah lahir di Yogyakarta tahun 1906. Dia adalah putri aktivis Muhammadiyah dan pengusaha batik terkenal Haji Mohammad Nardjoe. Hajinah adalah salah satu dari banyak santriwati yang dididik oleh KH Ahmad Dahlan dan istrinya.
Ia melanjutkan pendidikan formalnya di Neutraal Meisjes School dan Fur Huischoudschool di Yogyakarta. Pembelajaran memasak, menjahit, dan keterampilan lain yang diperlukan dalam kehidupan rumah tangga didalaminya di Fur Huischoudschool. Setelah lulus, Hajinah hanya menerima pendidikan agama dari ayahnya dan kursus yang digelar Nyai Ahmad Dahlan (Sumatra-Bode, 17 Maret 1930).
Sejak remaja, Hajinah telah menjadi anggota aktif Aisyiyah. Dia ditunjuk sebagai sekretaris Hoofdbestuur Muhammadiyah bagian Aisyiyah pada tahun 1925. Saat itu, dia baru berusia 19 tahun. Hajinah mendapat amanat sebagai sekretaris pada Rapat Besar Tahunan Muhammadiyah tahun 1925 di Yogyakarta yang dipimpin oleh Kiai Ibrahim (De Courier, 19 Mei 1928).
Hajinah bekerja dengan Nyai Ahmad Dahlan selaku Presiden (baca: ketua) Hoofdbestuur Muhammadiyah bagian Aisyiyah. Tidak satupun perempuan yang mau mengisi posisi sekretaris.
Hajinah pasti tidak akan mendapatkan posisi sekretaris bila tidak memiliki keahlian khusus, serta wawasan yang luas. Hajinah adalah salah satu dari dua perwakilan perempuan dari Aisyiyah yang menjadi anggota pimpinan Kongres Perempuan Indonesia I yang berlangsung dari 22–25 Desember 1928.
Pada rapat umum ketiga pada tanggal 25 Desember 1928, sebelum kongres ditutup, Hajinah diberi kesempatan untuk berbicara di depan khalayak ramai. Tema pidatonya adalah “Persatuan Manusia”, dan itu jelas terkait dengan semangat persatuan, yang sedang diperjuangkan selama Kongres Perempuan Indonesia pertama.
Persatuan, menurut Hajinah, adalah cara untuk mencapai hal-hal penting seperti kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Jalan menuju persatuan ditempuh melalui saling bergaul, berkomunikasi, mempertahankan persaudaraan, mendirikan perkumpulan, dan berbicara tentang hal-hal yang harus dilakukan bersama. Ia mendukung upaya untuk menyatukan perserikatan perempuan (Hasan, 2023; Mu’arif dan Hajar N.S., 2011).
Hajinah Menggebrak Lewat Narasi Perempuan Aisyiyah
Uraian pidato Hajinah di openbare Aisyiyah dimulai dengan kondisi gerakan perempuan sebelum depresi ekonomi. Selaku pengurus Aisyiyah, ia gembira dengan bertumbuhnya organisasi perempuan.
Perhimpunan Perempuan Islam Indonesia (PPII) telah bertumbuh dan melaksanakan kongres. Dalam perhelatan PPII utusan dari Aisyiyah ikut berorasi. Gaya retorika dan orasi Hajinah yang menyentuh pun mendorong pengurus PPII untuk meminta anggotanya belajar pada Aisyiyah (De Locomotief, 21 Maret 1930).
Hajinah menuturkan bahwa Sarekat Kaum Ibu Sumatra pun sudah bangkit. Buktinya, mereka menggelar kongres pertamanya di Fort de Kock. Jong Islamietien Bond—alias JIB— melalui organisasi perempuannya yang dinamakan Meisjeskring bergerak membangun kesadaran kaumnya.
Ia turut memuji gerakan pencerahan untuk perempuan yang digelar Dinijah School Padang Panjang, Sabiloessalam Fort de Kock, dan Rahmatoen Niswan di Nagari Koto Gadang.
"Bukan main, dan menggirangkan hati. Di Nganjuk juga ada persyarikatan yang menggembirakan kaum ibu. Demikian pun di Benkoelen, dipimpin oleh oleh istri yang terpelajar tinggi,” pujinya dan disambut gemuruh tepuk tangan dari utusan (De Courier, 20 Maret 1930).
Tidak hanya kabar gembira, Hajinah juga mengungkap berita yang menyedihkan yang mendera perempuan, mulai dari persoalan poligami, warisan, cekcok suami–istri, dan kekerasan dalam rumah tangga. Kasus lain yang menimpa perempuan adalah di dunia pendidikan.
Murid-murid perempuan yang ingin melanjutkan pendidikannya dilarang lantaran orang tuanya miskin. “Terutama yang terlanjur menerjun pada pendidikan dan pergerakan cara material yang sangat jauh dari agama Islam,” lanjutnya mengurai dilema sekolah-sekolah milik Aisyiyah (Sumatra-Bode, 17 Maret 1930).
Permasalahan yang tidak kalah peliknya muncul di Celebes bagian utara. Di sana, perempuan perempuan muslim larut dalam budaya westernisasi, mulai dari kursus dansa, kegiatan piknik, dan lainnya. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan sebab menganggu psikis dan aktivitas mereka selaku muslimah. Ia berharap hadirnya cabang Muhammadiyah di Celebes bagian utara segera diikuti dengan dirintisnya persyarikatan Aisyiyah.
Pergerakan Aisyiyah di Sumatra tidak luput dari pantauan Hajinah. Bertumbuhnya cabang dan groep mulai dari Aceh hingga Lampung menandakan perempuan tidak ingin lagi terbelenggu. “Ia mesti terampil dan bekerja sebagai seorang Aisyiyah.”
Demikian harapan Hajinah yang kembali mengundang gemuruh tepuk tangan. Makin banyak perempuan yang tertarik mengikuti kursus-kursus yang digelar Aisyiyah, tentunya mendulang simpati dari berbagai arah (De Locomotief, 21 Maret 1930).
Aksi spontan untuk mencerahkan perempuan, lewat kursus tulis baca, jahit menjahit, memasak, menyulam dan lainnya, sambung Hajinah adalah bentuk perlawanan terhadap pihak-pihak yang memusuhi dan merendahkan mereka.
Persoalan yang dihadapi ibu-ibu Aisyiyah, tidak akan memadamkan pergerakannya, hanya karena diremehkan, diejek, “diserang” baik oleh otoritas tradisional, maupun pemerintah Hindia Belanda. “Cabang dan groep Aisyiyah gemar menjalankan kewajibannya dan mempropagandakan di mana-mana tempat, sehingga menambah bilangannya,” sambungnya dengan penuh semangat (Sumatra-Bode, 17 Maret 1930).
Gerakan ibu-ibu Aisyiyah di Jawa rupanya sudah bersaing dengan Muhammadiyah. Umumnya amal usaha yang didirikan Aisyiyah sampai tahun 1929 adalah musala dan madrasah. Untuk membantu murid-murid yang miskin, Studiefonds Aisyiyah sudah bergerak. Bahkan, di beberapa cabang, Studiefonds Aisyiyah telah menolong anak-anak miskin untuk melanjutkan studinya (Keterangan Wakil Oetoesan, Groep Aisjijah, 1930).
Sekolah Moeballighat Aisyiyah yang subur di tanah Jawa pun banyak peminatnya sebab di Moeballighat materi kursus diperbanyak, seperti memasak, menenun, menjahit, juga kegiatan tablig. Dengan demikian, ibu-ibu lulusan Moeballighat mampu menggerakkan groep di daerahnya masing-masing.
Mengenai sekolah-sekolah yang dirintis Aisyiyah, Hanijah mengutarakan,“Demikian pun sekolah-sekolah Aisyiyah tidak boleh dibilang mundur. Sebab banyak cabangcabang yang sudah membuka standaardschool dan meijesschool. Hanya madrasah Aisyiyah di Yogyakarta yang agak mundur karena kesibukan dari gurunya sehingga keluarannya (baca: lulusan) tidak seperti tahun yang lalu.” (Keterangan Wakil Oetoesan, Groep Aisjijah, 1930).
Keberhasilan lainnya dari organisasi perempuan Muhammadiyah adalah produk pers Soeara Aisjijah, yang makin beragam beritanya. Demikian halnya dengan Wal-Ashri yang tidak putus-putusnya menyiarkan pelajaran agama Islam.
Adzakirat turut membantu untuk dana gerakan Muhammadiyah, Aisyiyah, dan HW. Untuk menampung wakaf, persyarikatan merintis Comite Adl-dloehawijah. Siswoprodjo pun makin lincah bergerak dan suatu saat akan melengkapi hadirnya Aisyiyah (Hajinah, 1930: 2).
Di akhir pidatonya, Hanijah berharap kepada seluruh utusan Aisyiyah untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan untuk perempuan sesamanya serta taat dalam menjalankan kewajiban keislamannya. Kemudian, penampilan Hanijah yang memukau itu ditutup dengan dibacanya terjemahan Surah Al-Ashr (Keterangan Wakil Oetoesan, Groep Aisjijah, 1930).
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.