Tenaga kesehatan membantu siswa saat melihat bakteri Tuberkulosis (TBC) menggunakan mikroskop saat penyuluhan di SMPN 4 Kota Tangerang, Banten, Kamis (24/3/2022). | ANTARA FOTO/Fauzan/rwa.

Opini

Mengendalikan Tuberkulosis

Di “Global TB Report 2022” kita kembali jadi penyumbang kasus tuberkulosis kedua terbanyak di dunia.

TJANDRA YOGA ADITAMA, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Guru Besar FKUI

Pada akhir Oktober 2022, WHO mengeluarkan “Global TB Report 2022”, yang menggambarkan situasi tuberkulosis (TB) dunia dan masing-masing negara, termasuk Indonesia. Laporan ini selalu menyajikan data satu tahun sebelumnya, jadi Global TB Report 2022 menampilkan data 2021.

Laporan seperti ini, sejak 1997 setiap tahun selalu dipublikasikan sehingga bukan saja kita dapat melihat situasi tahun tersebut, melainkan juga membandingkannya dengan tahun-tahun sebelumnya.

Secara umum disebutkan, jumlah kasus baru (insidens) TB di dunia meningkat dibanding pada tahun sebelumnya. Kontributor utama peningkatan insiden TB dunia antara 2020 dan 2021 adalah India, Indonesia, dan Filipina.

Kalau bicara tentang kematian akibat tuberkulosis, data estimasi dunia tadinya menunjukkan penurunan angka kematian antara 2005 sampai 2019. Namun, estimasi 2020 dan 2021 ternyata sebaliknya, angka kematian meningkat.

 
Kontributor utama peningkatan insiden TB dunia antara 2020 dan 2021 adalah India, Indonesia, dan Filipina.
 
 

Diperkirakan di dunia, ada sekitar 1,4 juta kematian TB pada mereka yang HIV negatif dan 187 ribu kematian TB pada mereka yang HIV (+), jadi totalnya 1,6 juta kematian. Angka kematian akibat TB meningkat dari 1,5 juta kematian pada 2020 dan 1,4 juta kematian pada 2019.

Sedihnya untuk kita, “Global TB Report 2022” menyebutkan, sebagian besar peningkatan kematian terjadi di empat negara, yaitu India, Indonesia, Myanmar, dan Filipina.

Dalam “Global TB Report 2022” disebutkan, ada 30 negara dengan jumlah kasus TB terbanyak di dunia yang secara total merupakan 87 persen dari estimasi seluruh kasus dunia. Delapan dari 30 negara ini melingkupi lebih dari dua pertiga kasus TB di dunia.

Urutannya, India (28 persen), Indonesia (9,2), Cina (7,4), Filipina (7,0), Pakistan (5,8), Nigeria (4,4), Bangladesh (3,6), dan Republik Demokratik Kongo (2,9 persen). Jadi, kita ada di urutan kedua kasus TB terbanyak di dunia.

Pada Global TB Report 2020, Indonesia memang juga penyumbang kasus kedua terbesar dunia sesudah India, tetapi setahun sesudahnya pada “Global TB Report 2021”, peringkat Indonesia membaik menjadi urutan ketiga, yaitu India (26 persen), Cina (8,5), dan Indonesia (8,4).

 
Sayangnya, di “Global TB Report 2022”, kita kembali jadi penyumbang kasus tuberkulosis kedua terbanyak di dunia.
 
 

Walaupun begitu, perbedaan persentasenya tipis saja dengan Cina, 0,1 persen. Sayangnya, di “Global TB Report 2022”, kita kembali jadi penyumbang kasus tuberkulosis kedua terbanyak di dunia. Dengan perbedaan persentase cukup jauh dari Cina, antara 9,2 dan 7,4 persen.

Penemuan kasus

Salah satu masalah utama pengendalian TB di dunia saat ini adalah turunnya kemampuan menemukan kasus. Kalau pasien di tengah masyarakat tak ditemukan, tentu tidak dapat diobati, bahkan mungkin terus jadi sumber penularan tuberkulosis pada sekitarnya.

Hal ini tentu amat penting bagi negara kita karena menurut “Global TB Report 2021”, kita diperkirakan, mempunyai 824 ribu kasus baru setahunnya, dan di “Global TB Report 2022” angkanya bahkan meningkat menjadi 969 ribu kasus .

Sementara itu, yang ditemukan sejauh ini masih sedikit. Mungkin sekitar setengahnya. “Global TB Report 2022” menyebutkan, ada 10 negara yang memiliki beban besar TB dengan cakupan pengobatan rendah, diperkirakan di bawah 50 persen.

 
Salah satu masalah utama pengendalian TB di dunia saat ini adalah turunnya kemampuan menemukan kasus.
 
 

Yaitu, negara kita, Indonesia bersama sembilan negara lainnya, yaitu Republik Afrika Tengah, Gabon, Lesotho, Liberia, Mongolia, Myanmar, Nigeria, Filipina, dan Vietnam.

Dalam penemuan kasus TB di berbagai negara, kita biasanya membandingkan berapa perkiraan jumlah kasus di negara itu dan berapa yang berhasil ditemukan untuk ditangani.

Nah data “Global TB Report” terbaru ini menunjukkan, 10 negara yang secara bersama merupakan penyumbang 75 persen dari gap/perbedaan antara insidens jumlah kasus dan yang ditemukan/dilaporkan.

Lima negara teratas penyumbang gap ini India (24 persen), Indonesia (13), Filipina (10), Pakistan (6,6), dan Nigeria (6,3 persen).

Gap terjadi karena kurangnya laporan kasus dari mereka yang sebenarnya sudah terdiagnosis TB, juga tidak/kurangnya kemampuan diagnosis, yaitu pasien TB tak dapat akses ke fasilitas pelayanan kesehatan atau dapat akses, tapi tak terdiagnosis dengan baik.

 
Anjuran dari tingkat global, negara-negara ini termasuk Indonesia tentunya amat perlu meningkatkan upaya deteksi kasus TB.
 
 

Anjuran dari tingkat global, negara-negara ini termasuk Indonesia tentunya amat perlu meningkatkan upaya deteksi kasus TB. Salah satu masalah penting pengendalian tuberkulosis adalah terjadinya kasus yang resisten.

Baik bersifat “multidrug resistance – MDR” maupun yang resisten terhadap obat utama rifampisin, “rifampicine resistance” (RR). Kasus MDR dan RR juga prioritas untuk ditemukan agar dapat ditangani segera dan tidak menyebarkan keadaan MDR dan RR ke orang lain.

Data “Global TB report 2022” menunjukkan, 10 negara penyumbang sekitar 70 persen gap antara jumlah perkiraan insidens kasus MDR/RR-TB di dunia dan kasus yang berhasil mereka temukan dan obati.

Kesepuluh negara itu Cina, Republik Demokratik Kongo, India, Indonesia, Nigeria, Pakistan, Filipina, Rusia, Afrika Selatan, dan Vietnam.

Penemuan kasus harus senapas dengan penyembuhan. Karena rendahnya penemuan kasus ini, Kementerian Kesehatan menargetkan untuk menemukan setidaknya 60 ribu kasus dalam sebulan sejak Januari 2023, sesuai itu target yang memang amat kita perlukan.

Namun, tentu kasus-kasus itu bukan hanya harus ditemukan, melainkan juga perlu disembuhkan. Dalam hal ini, kita tahu kalau kasus hanya ditemukan sesuai target, tetapi tidak tersembuhkan dengan baik, setidaknya ada tiga dampaknya.

 
Penemuan kasus harus senapas dengan penyembuhan.
 
 

Pertama, kalau pasien tidak dijamin makan obat secara teratur, bukan hanya dia tidak sembuh, melainkan malah mungkin dapat terjadi resistensi obat, bahkan mungkin “multidrug resistance (MDR)”, yang selalu menjadi masalah besar pengendalian TB.

Sebab, kian sulit diobati, makin banyak efek samping obatnya dan makin tinggi kemungkinan penyakitnya menjadi parah. Kedua, kalau ditemukan, tapi tidak mendapatkan fasilitas pengobatan dengan baik, kepercayaan dan keyakinan publik terganggu.

Ketiga, kalau kasus ditemukan, tetapi tidak disembuhkan dalam persentase memadai, target eliminasi TB jadi sulit tercapai. Karena itu, upaya besar untuk penemuan kasus TB mesti dijalankan bersama-sama untuk menjamin segala liku pengobatan yang diperlukan.

Penemuan kasus harus senapas dengan penyembuhannya. Data “Global TB Report 2022” ini menunjukkan, masih banyak masalah yang kita hadapi dan negara kita masuk dalam berbagai daftar yang tidak menguntungkan, dalam hal TB seperti dibahas di atas.

Untuk itu, kita perlu bekerja maksimal untuk pengendalian tuberkulosis di negara kita. Apalagi, kalau kita lihat, ada dua target yang sudah dicanangkan. Target dunia “Sustainable Development Goals ‘’ (SDGs) mengharapkan, penghentian epidemi TB di dunia pada 2030.

Di tingkat nasional juga sudah ada Peraturan Presiden No 67 Tahun 2021 tentang penanggulangan tuberkulosis yang di Pasal 4 disebutkan, target eliminasi tuberkulosis pada 2030.

Dapat juga disampaikan di sini, tuberkulosis merupakan salah satu acara dalam “side event” G-20 Presidensi Indonesia. Kita menyadari, pandemi Covid-19 memang punya dampak besar dalam upaya pengendalian TB di dunia dan negara kita.

Namun, kita tidak bisa hanya “menyalahkan” pandemi. Marilah kita melakukan terobosan, inovasi, dan memberi prioritas lebih tinggi lagi bagi pengendalian tuberkulosis, penyakit yang sudah ditemukan kuman penyebabnya sejak 1882.

HK Antisipasi Kepadatan Tol Bakauheni

Agar lalu lintas saat Nataru lancar, Hutama Karya mengoperasikan delapan ruas JTTS.

SELENGKAPNYA

‘Haedar-Mu’ti Kompak Bawa Misi Muhammadiyah’

Muhammadiyah diharapkan terus menjaga muruah dan visi perjuangannya.

SELENGKAPNYA

Duka untuk Cianjur

Gempa di Cianjur tidak terkait potensi gempa megathrust di selatan Jawa.

SELENGKAPNYA