vp,,rm
Hikmah November Pekan ke-3 | Republika

Hikmah

Tanggung Jawab

Cepat atau lambat, pasti akan tiba di mana semua itu akan Allah mintai pertanggungjawaban.

OLEH IMAM NAWAWI

“Jika seandainya kita dibiarkan begitu saja setelah mati. Niscaya maut (kematian) adalah peristirahatan bagi setiap insan. Tetapi, setelah mati, kita dibangkitkan. Lalu ditanyakan segala perbuatan.” 

Kalimat di atas adalah sebuah syair yang oleh Syekh Nawawi al-Bantani kutip dalam karangannya Maraqi al-Ubudiyah edisi Indonesia, Tangga Menuju Kesempurnaan Ibadah.

Jadi, kematian bukanlah akhir. Namun, justru awal setiap insan harus siap menghadapi hari “persidangan” yang semua jenis ucapan dan perbuatan harus kita pertanggungjawabkan.

Jangankan dalam kehidupan setelah kematian, dalam kehidupan saat ini saja, di dunia ini, kita harus bisa mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita sendiri. Oleh karena itu, ada istilah akuntabilitas, responsibilitas, integritas, dan sebagainya.

Oleh karena itu, Islam memberikan panduan bahkan kabar lebih dini bahwa jika benar ingin hidup selamat, biasakanlah bertanggung jawab terhadap segala jenis amal, amanah, dan peran yang dipercayakan kepada setiap jiwa.

Dalam kehidupan dunia, orang bisa mengelak dari persidangan di depan hakim. Namun, nanti setelah kematian, tidak ada satu orang pun yang bisa mengelak, mengelabui, apalagi lari dari tanggung jawab.

“Pada hari di mana lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan.” (QS an-Nur [24]: 24).

Sebagian mufasir menerangkan bahwa pada hari pembalasan orang tidak lagi bisa berbicara sebagaimana kala di dunia. Karena anggota badan yang ada Allah jadikan bisa berucap dan memberikan kesaksian atas segala jenis ucapan dan perbuatan manusia.

Syekh Nawawi al-Bantani menuliskan, “Ia (tangan, kaki, dan lainnya) akan berkata dengan fasih dan jelas pada hari kiamat nanti tanpa bisa engkau cegah sedikit pun. Anggota badanmu akan mengungkapkan semua keburukanmu di hadapan khalayak.”

Penjelasan itu juga sebagai sebuah bukti rasional bahwa akhirat itu ada dan pasti kita jumpai, cepat atau lambat. Kemudian, akhirat berbeda dengan dunia, yang mana dunia adalah tempat manusia diuji untuk berani jujur, tanggung jawab, dan taat kepada Allah. Adapun akhirat, di sana setiap jiwa harus menyiapkan diri untuk benar-benar bertanggung jawab. 

Pada ayat yang lain, Allah SWT berfirman, “Pada hari ini Kami menutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS Yasin [36]: 65).

Pendek kata, tidak ada jalan kelak di akhirat, manusia bisa lepas dari tuntutan hukum atas segala bentuk kesalahan dan kejahatan yang telah diperbuat. Karena saksi akan semua keburukan itu justru anggota badannya sendiri.

Dengan demikian, hendaklah setiap jiwa berhati-hati, jangan sampai lisan yang harusnya mengucapkan ilmu, kebaikan dan hal bermanfaat, justru menyeret diri dalam kerugian, dunia dan akhirat.

Pun demikian dengan kekuasaan dan kekayaan, jangan sampai semua itu menjadikan mata, tangan, dan kaki mudah melakukan perkara yang Allah benci. Karena cepat atau lambat, pasti akan tiba di mana semua itu akan Allah mintai pertanggungjawaban.

Shalat Dhuha Jokowi di Masjid Raya Syekh Zayed

Warga solo dan penggembira muktamar yang sedang berkunjung ikut menyambut kedatangan Jokowi.

SELENGKAPNYA

Nilai Perjuangan

Islam memandang perjuangan sebagai sebuah keharusan.

SELENGKAPNYA

Haedar-Mu'ti Kembali Pimpin Muhammadiyah

Pandangan Islam yang maju dan membawa rahmat bagi semesta alam harus terimplementasi.

SELENGKAPNYA