Suasana bongkar muat di Pelabuhan Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (30/9/2022). | ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Opini

Impor Penggerus Pertumbuhan

Jika kita impor nol rupiah, pertumbuhan ekonomi yang 5 persen bisa menjadi 6,5 persen.

ALOIS WISNUHARDANA, Corporate Secretary PT PLN (Persero)

Indonesia baru saja menyelesaikan tugas presidensi G-20 di Bali. Perhelatan megah, sukses, aman, lancar. Sebagai anggota G-20, yaitu negara-negara dengan produk domestik bruto (PDB) di atas 1 triliun dolar AS, Indonesia kini peringkat 15 dengan PDB 1,05 triliun dolar AS.

Tahun 2045, ketika negeri ini berumur satu abad, peringkat Indonesia diprediksi di nomor 5 atau 6, dengan PDB lima atau enam kali lipat dari hari ini.

PDB saat ini masih menjadi ukuran kekayaan sebuah bangsa. AS dan Cina, terus bersaing menjadi yang terbesar dengan kekayaan menembus dua digit triliun dolar AS. AS sebesar 20 triliun dolar AS, sedangkan Cina 15 triliun dolar AS.

PDB dapat dihitung dengan tiga cara, yakni menghitung nilai produksi barang dan jasa suatu negara, menghitung belanjanya, atau menghitung pendapatan per kapitanya.

 
Jika kita membuat kondisi ekstrem impor nol rupiah, pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5 persen bisa bertambah 1,5 persen menjadi 6,5 persen.
 
 

Cara paling simpel dan lazim digunakan menghitung PDB adalah menjumlahkan konsumsi sektor privat (PC), investasi sektor privat (PI), investasi pemerintah (GI), belanja pemerintah (GS), nilai ekspor (X) dikurangi nilai impor (M).

Formulanya menjadi: GDP/PDB= PC + PI + GI + GS + (X – M). Dari formula itu, kita bisa menyimpulkan, setiap aktivitas impor mengurangi nilai PDB suatu negara. Artinya, pertumbuhan ekonomi negara yang lebih suka impor akan tergerus jika impornya terlalu berlebihan.

Indonesia misalnya. Dengan PDB Rp 16 ribu triliun, bila nilai impornya Rp 160 triliun, pertumbuhan ekonominya turun satu persen. Berapa impor Indonesia pada 2021 lalu? Tercatat 15,26 miliar dolar AS atau sekitar Rp 250 triliun.

Jika kita membuat kondisi ekstrem impor nol rupiah, pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5 persen bisa bertambah 1,5 persen menjadi 6,5 persen. Namun, kondisi ini mustahil, yang bisa dilakukan mengurangi impor dan mengganti dengan produksi dalam negeri.

 
Gampangnya, kalau negara lebih banyak impor, pertumbuhan ekonomi terjadi di negara-negara yang mengekspornya.
 
 

Karena itu, salah satu upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi adalah mendongkrak tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN. Gampangnya, kalau negara lebih banyak impor, pertumbuhan ekonomi terjadi di negara-negara yang mengekspornya.

Lapangan kerja di negara pengekspor meningkat. Kesejahteraannya juga ikut meningkat. Di sektor ketenagalistrikan, upaya menaikkan TKDN terus ditingkatkan. Saat ini, angka TKDN-nya berkisar 46-47 persen.

Angka TKDN di sektor ini merupakan akumulasi dari penggunaan komponen atau peralatan di sektor hulu, yaitu pembangkitan; sektor tengah, yaitu transmisi; dan sektor hilir, yaitu distribusi.

Upaya menaikkan TKDN, menekan penggunaan barang impor, yang persentasenya sangat signifikan adalah di sisi transmisi. Baru saja, PLN berhasil menyambungkan titik Selaru-Sebuku di Kalimantan Selatan dan memberikan tegangan/energizing jaringan 150 KV.

Jaringan transmisi tersebut dibangun dengan TKDN mencapai 86,7 persen. Dengan tersambungnya jaringan listrik tersebut, hampir 2.000 warga di Pulau Sebuku yang tadinya hanya bisa menikmati listrik separuh hari, kini bisa menikmatinya sehari penuh, 24 jam nonsetop.

 
Upaya menaikkan TKDN, menekan penggunaan barang impor, yang persentasenya sangat signifikan adalah di sisi transmisi.
 
 

Tidak hanya itu. Jaringan listrik itu berfungsi memenuhi kebutuhan listrik industri smelter di Pulau Sebuku, yang akan mengolah bahan mineral menjadi bahan baku besi. Industri tersebut tumbuh setelah pemerintah melarang ekspor bahan galian tambang mentah.

Maka itu, pembangunan jaringan transmisi Selaru-Sebuku dengan panjang lintasan 76,04 kilometer sirkuit (kms), yang ditopang pada 114 tower tersebut punya dua arti strategis.

Pertama, mengurangi impor peralatan pembangunan transmisi listrik. Kedua, nantinya mengerek nilai ekspor secara signifikan dengan adanya produksi besi olahan dari bahan tambang setempat. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Mari kita lihat bagaimana tenaga kerja tercipta dari pembangunan transmisi. Jalur transmisi Selaru-Sebuku ini ada uniknya. Dari 114 tower yang dibangun, terdapat tiga tower di atas laut yang membelah Selat Sebuku.

 
Jalur transmisi Selaru-Sebuku ini ada uniknya. Dari 114 tower yang dibangun, terdapat tiga tower di atas laut yang membelah Selat Sebuku.
 
 

Selat ini termasuk selat yang ramai. Kapal hilir mudik di situ. Untuk itu, perlu dibangun tower lebih tinggi lagi. Supaya kapal-kapal tetap leluasa melintas tanpa terganggu kabel yang melintang.

Nah, proyek pembangunannya mampu menyerap tenaga kerja lokal lebih dari 500 orang. Tepatnya 539 pekerja lokal. Itu tidak termasuk pekerja organik dari PLN ataupun dari kontraktor pelaksananya.

Jika saja TKDN di sektor ketenagalistrikan dan sektor lainnya makin meningkat –didukung regulasi yang kuat untuk mendongkrak komponen produksi dalam negeri—pertumbuhan ekonomi tentu saja juga terkerek lebih kuat.

Penciptaan lapangan kerja makin banyak, aktivitas ekonomi semakin tumbuh, dan ujung-ujungnya kesejahteraan atau kemakmuran juga semakin meningkat.

Pesona Baru TMII Tarik Minat Pengunjung

Masih banyak warga yang membawa kendaraan pribadi kesulitan mencari lokasi parkir

SELENGKAPNYA

Haedar-Mu'ti Kembali Pimpin Muhammadiyah

Pandangan Islam yang maju dan membawa rahmat bagi semesta alam harus terimplementasi.

SELENGKAPNYA