Siswi Madrasah Aliyah (MA) Ali Maksum menyiapkan peralatan untuk studi di Kantor Kalurahan Panggungharjo, Bantul, Yogyakarta, Selasa (4/1). Sebanyak 50 siswa MA Ali Maksum mengikuti pelatihan menjadi perangkat desa di Kalurahan Panggungharjo. Mereka menc | Wihdan Hidayat / Republika

Khazanah

Mutu Madrasah Ditingkatkan Lewat Konversi

Disparitas mutu madrasah masih tajam

MALANG – Pemerintah terus mengupayakan peningkatan mutu (kualitas) madrasah di seluruh Tanah Air. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengonversi madrasah swasta yang tidak maju menjadi madrasah negeri.

"Kita terus berupaya meningkatkan kualitas madrasah," ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Rohmat Mulyana kepada Republika di Malang, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

Ia menjelaskan, saat ini madrasah tidak lagi disebut sebagai sekolah kelas kedua seperti beberapa tahun yang lalu. Dulu siswa yang tidak bisa masuk di sekolah umum, terpaksa dimasukkan ke madrasah sebagai pilihan kedua. Namun, sekarang sudah terbalik kondisinya, madrasah menjadi tujuan pertama. Artinya, para orang tua ingin anaknya masuk madrasah.

photo
Siswa didampingi guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Solo meneliti unsur kandungan DNA babi pada makanan saat praktik di Laboratorium Uji Produk Halal sekolahan setempat, Solo, Jawa Tengah, Kamis (3/2/2022). Kegiatan praktik dengan penerapan protokol kesehatan COVID-19 tersebut untuk mengetahui halal dan haram berbagai makanan yang dijajakan di sekitar sekolah setempat. - (ANTARAFOTO/Maulana Surya)

"Walau memang kita jujur dari jumlah madrasah masih banyak yang perlu diperjuangkan (agar menjadi lebih baik), khususnya madrasah swasta," kata Rohmat.

 

 

Walau memang kita jujur dari jumlah madrasah masih banyak yang perlu diperjuangkan (agar menjadi lebih baik), khususnya madrasah swasta

 

ROHMAT MULYANA Sekretaris Ditjen Pendis Kemenag
 

 

Ia menerangkan, saat ini jumlah madrasah negeri sekitar 6,5 persen dari total madrasah yang ada di Indonesia. Sementara itu, sekitar 93,5 persennya adalah madrasah swasta.

Rohmat yakin madrasah negeri kualitasnya bagus dan merata, tapi di antara yang bagus itu ada yang terbaik, contohnya MAN 2, MAN 1, MIN 1, dan MTsN 1 Kota Malang yang banyak meraih prestasi tingkat regional, provinsi, nasional, bahkan internasional. Di beberapa kota besar lainnya, banyak juga madrasah yang sudah bagus seperti mereka.

Ia menerangkan, madrasah negeri disubsidi, artinya pemerintah wajib mengeluarkan anggaran untuk madrasah negeri. Kalau madrasah swasta, jika ada, bisa dibantu, tetapi jika tidak ada, tidak dibantu. Kalau status madrasah swasta digeser menjadi madrasah negeri, tagihan lembaga pendidikan yang perlu disubsidi makin banyak.

Ia menjelaskan, kondisi madrasah terbalik dengan sekolah umum. Di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebanyak 10 persen merupakan sekolah swasta dan 90 persen sekolah negeri. Sementara itu, madrasah negeri jumlahnya sekitar 6,5 persen dan sisanya madrasah swasta.

photo
Siswa kelas I dan II mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas dalam satu ruang kelas di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pasawahan, Dusun Ciakar, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (9/9/2021). Siswa terpaksa belajar di posyandu, teras warga, serta mushola lantaran belum memilik ruang kelas sejak 2017 silam, karena sekolah tersebut hanya memiliki satu ruang kelas dan ruang guru. - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.)

"Sekarang ada sekitar 162 madrasah, kita coba alih statuskan dari madrasah swasta menjadi madrasah negeri. Kami secara bertahap membangun madrasah yang sudah dinegerikan itu, itu upaya kami untuk memperbanyak madrasah seperti ini (MAN 2 dan MAN 1 Kota Malang)," kata Rohmat. 

Ia mengatakan, ada kriteria yang ditetapkan agar madrasah swasta bisa menjadi negeri. Kriteria dibuat supaya tidak terlalu berat prosesnya. Di antaranya, standar tanahnya harus sekian hektare, statusnya harus sudah dialihkan ke Kemenag dan sebagainya.

Terkait kondisi madrasah di Tanah Air, pengamat pendidikan Islam, Jejen Musfah, menilai, disparitas mutu madrasah di Indonesia masih sangat tajam. Mayoritas madrasah masih di bawah standar nasional karena sebagian madrasah didirikan bukan karena visi yang besar, dana yang memadai, dan sumber daya manusia yang unggul.

"Tapi (madrasah sebagian besar didirikan) dengan tujuan sosial, yaitu keberpihakan pada masyarakat lemah di desa, tidak ada uang pangkal dan gratis, jikapun ada sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sangat kecil, di bawah Rp 100 ribu," kata Jejen kepada Republika, Rabu (5/10).

 

 

Tapi (madrasah sebagian besar didirikan) dengan tujuan sosial, yaitu keberpihakan pada masyarakat lemah di desa

 

JEJEN MUSFAH Pengamat Pendidikan
 

 

Mengenai upaya menegerikan madrasah swasta, Jejen berpendapat, boleh saja pemerintah mengubah madrasah swasta menjadi negeri asalkan prosesnya sesuai aturan dan tidak merugikan swasta. Jika sudah dinegerikan, diutamakan mengakomodasi sumber daya manusia sebelumnya.

Jejen juga menyampaikan, ada hal-hal yang perlu diperhatikan Kemenag dalam upaya meningkatkan madrasah. Di antaranya, mewujudkan bangunan dan fasilitas belajar yang standar di setiap madrasah, meningkatkan kualitas guru dan staf. Kemudian, membuat visi madrasah yang sesuai kebutuhan industri, masyarakat, dan perwujudan dunia yang aman serta damai.

"Singkatnya lulusan madrasah disiapkan tidak hanya sebagai agamawan tapi juga ilmuwan yang memecahkan masalah kemanusiaan dan dunia yang hijau dan pelestarian lingkungan, hablumminallah, hablumminannas, hablum minal 'alam," ujar Jejen.

Memperkuat Madrasah

Dimasukkannya kembali eksistensi madrasah, membuat lega banyak kalangan.

SELENGKAPNYA

Perbaiki Kesejahteraan Guru Madrasah

Anggaran kesejahteraan guru madrasah harus terus diperjuangkan.

SELENGKAPNYA

Transformasi Digital Madrasah

Transformasi digital madrasah dengan mengintegrasikan cyber pedagogy dan cyber technology.

SELENGKAPNYA