Pengunjung memesan makanan di Kafe Kampus Berbasis Wakaf Produktif usai diluncurkan di Universitas Muhammadiyah Bandung, Kota Bandung, Kamis (15/9/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

Kawasan Wakaf Terpadu

KWT menjadi penting direalisasikan sebagai portofolio model unggulan pengembangan wakaf produktif.

MUHAMMAD SYAFI'IE EL-BANTANIE, Praktisi Wakaf dan Pendiri Ekselensia Tahfizh School Dompet Dhuafa

Salah satu tantangan terbesar pengembangan wakaf produktif adalah membangun kawasan wakaf terpadu (KWT). Ini merupakan grand design kawasan terpadu berbasis wakaf yang memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Meliputi bidang keagamaan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan hiburan.

KWT menjadi penting direalisasikan sebagai portofolio model unggulan pengembangan wakaf produktif. Selama ini, pengembangan wakaf produktif cenderung sektoral. Bidang keagamaan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi berjalan masing-masing.

Karena itu, perlu dihadirkan model pengembangan wakaf produktif bersifat integral. Selain itu, KWT menjadi miniatur dan representasi peradaban Islam berbasis wakaf untuk mewujudkan model masyarakat madani yang ditopang pengembangan wakaf produktif.

Dalam hal ini, KWT menghadirkan layanan berkualitas bidang keagamaan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan hiburan secara terpadu. Pertama, KWT menghadirkan layanan fasilitas keagamaan berupa masjid sebagai pusat peribadatan dan kajian keislaman.

 
KWT menjadi penting direalisasikan sebagai portofolio model unggulan pengembangan wakaf produktif.
 
 

Masjid mesti dikelola profesional sehingga mampu memberikan layanan terbaik dan menjalankan peran strategisnya dalam mendidik umat. Dengan demikian, umat menjadi terbina pengamalan dan pemahaman keislamannya.

Kedua, KWT menghadirkan layanan kesehatan berkualitas berupa klinik dan rumah sakit berbasis wakaf sebagai layanan kesehatan bagi masyarakat. Klinik bisa berdampingan dengan puskesmas sebagai fasilitas kesehatan (faskes) satu dalam memberikan layanan kesehatan.

Sedangkan rumah sakit wakaf menjadi rujukan dari klinik dan puskesmas bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan lebih lanjut. Ketiga, KWT menghadirkan layanan pendidikan berkualitas bagi masyarakat.

Pendidikan bisa menjadi layanan unggulan KWT. Sebab, pendidikan merupakan panglima dalam membangun peradaban Islam dengan melahirkan sumber daya manusia unggul. Layanan pendidikan dimulai pada jenjang PAUD/TK sampai SMA/MA.

 
Pendidikan bisa menjadi layanan unggulan KWT. Sebab, pendidikan merupakan panglima dalam membangun peradaban Islam dengan melahirkan sumber daya manusia unggul.
 
 

Keempat, KWT menghadirkan layanan ekonomi berupa Baitul Mal wat Tamwil (BMT) dan pasar wakaf. BMT menjawab kebutuhan masyarakat terhadap akses permodalan berbasis akad mudharabah dan jual beli berbasis akad murabahah.

Sementara, pasar wakaf menjawab kebutuhan ekonomi harian masyarakat. Pasar wakaf mesti dikelola secara modern dan profesional. Pasar wakaf mesti bersih dan hanya menjual barang-barang yang terjamin kehalalannya.

Selain itu, praktik jual beli yang beroperasi di pasar wakaf mesti sesuai syariah. Tidak boleh ada praktik mengurangi timbangan, ijon, dan gharar dalam transaksi ekonominya. Pasar wakaf harus bebas monopoli atas sebuah komoditas.

Kelima, KWT melengkapi konsep kawasan terpadunya dengan menghadirkan layanan hiburan bernuasa edukasi. Layanan hiburan mesti satu visi dan orientasi dengan layanan-layanan lainnya guna mewujudkan masyarakat madani.

Karenanya, KWT hanya menyajikan layanan hiburan bernuansa edukasi tanpa harus kehilangan unsur menyenangkannya.

 
Karenanya, KWT hanya menyajikan layanan hiburan bernuansa edukasi tanpa harus kehilangan unsur menyenangkannya.
 
 

Kolaborasi nazir

Merealisasikan KWT tentu bukan hal mudah. Di samping memerlukan lahan wakaf yang luas, pembangunan infrastruktur KWT berbiaya besar. Karena itu, diperlukan kolaborasi dari para nazir untuk mewujudkannya.

Dalam hal ini, setelah menyamakan visi, misi, dan persepsi yang dituangkan dalam nota kesepahaman dan kesepakatan, para nazir berkolaborasi melakukan kampanye wakaf uang dan melalui uang. Hasilnya diakumulasikan untuk inisiasi dan aktivasi KWT.

Selain kampanye wakaf uang dan melalui uang, perlu dikembangkan skema investasi sosial untuk mengakses pembiayaan dari para investor. Pada skema ini, investor berinvestasi untuk pembangunan infrastruktur dan aktivasi KWT dengan skema bagi hasil.

 
Dalam hal ini, para nazir harus mampu merancang KWT dengan apik secara hitungan investasi. Skema investasi sosial berpotensi mengakselerasi terwujudnya KWT.
 
 

Namun, setelah jatuh tempo, bagi hasilnya tidak diberikan kepada investor melainkan diwakafkan, pokoknya itulah yang dikembalikan kepada investor. Untuk itu, diperlukan edukasi kepada segmen para pengusaha Muslim yang memiliki dana besar.

Dalam hal ini, para nazir harus mampu merancang KWT dengan apik secara hitungan investasi. Skema investasi sosial berpotensi mengakselerasi terwujudnya KWT. Kolaborasi yang baik dari para nazir menjadi kunci terwujudnya KWT.

Ego sektoral lembaga nazir perlu dikikis agar mampu menampilkan portofolio kesuksesan pengembangan wakaf produktif.

KWT akan menjadi bukti sahih bagi masyarakat atas profesionalisme para nazir dalam mengembangkan wakaf produktif. Dan, ini akan menjadi portofolio kesuksesan bersama para nazir. 

Adisucipto dan Serangan Biadab Saat Ramadhan

Setelah gugur, Adisucipto dinobatkan sebagai bapak penerbangan Indonesia.

SELENGKAPNYA

Mengapa Soedirman Jadi Panglima?

Panglima Besar Jenderal Soedirman juga dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah.

SELENGKAPNYA