Komodor Agustinus Adisucipto | istimewa

Tokoh

Adisucipto dan Serangan Biadab Saat Ramadhan

Setelah gugur, Adisucipto dinobatkan sebagai bapak penerbangan Indonesia.

OLEH SELAMAT GINTING

Inggris, Australia, dan India akhirnya paham kalau tentara penjajah Belanda di Indonesia benar-benar biadab! Semula ketiga negara tersebut tidak percaya terhadap laporan diplomatik Indonesia.

Namun, peristiwa 29 Juli 1947 membuat dunia terperangah. Ketiga negara itu dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk serangan terhadap pesawat dengan misi kemanusiaan.

Saat itu, mayoritas bangsa Indonesia masih dalam suasana menjalankan puasa Ramadhan. Sejumlah personel TNI, laskar, dan masyarakat mengalami luka-luka ringan hingga berat akibat agresi militer Belanda sejak 20 Juli 1947.

Pesawat Dakota VT CLA pulang menjalankan misi kemanusiaan di Malaya. Pesawat itu mengangkut obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya untuk Indonesia, bukan berisi persenjataan.

Saat pesawat bantuan pengusaha India untuk rakyat Indonesia tersebut akan mendarat di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, tiba-tiba muncul dua pesawat pemburu Kitty Hawk milik Angkatan Udara Belanda. Pesawat tempur itu memberondong Dakota dengan senapan mesin.

Tak ayal, pesawat berlambang palang merah itu pun oleng dan kehilangan kendali. Pilot Alexander Noel Constantine mencoba mendarat darurat, tetapi gagal. Pesawat Dakota jatuh dan terbakar di Desa Ngoto, sebelah barat Maguwo.

Peristiwa tragis pada bulan suci Ramadhan itu menewaskan awak pesawat, yakni pilot berkebangsaan Australia dan mantan perwira RAAF (Angkatan Udara Australia), Noel Constantine.

photo
Foto Lapangan Udara Kalijati - (KITLV)

Selain itu, juga menewaskan kopilot berkebangsaan Inggris, mantan perwira RAF (Angkatan Udara Inggris), Roy Hazelhurst. Juga, Komodor Udara Agustinus Adisucipto, Komodor Udara Abdurrahman Saleh, operator radio Adisumarmo Wirjokusumo, Zainal Arifin, dan seorang teknisi India, Bidha Ram. Istri Constantine juga tewas. Satu-satunya yang selamat adalah Abdul Gani Handonocokro.

Kejadian ini menimbulkan protes keras Indonesia. Penerbangan pesawat itu resmi dan telah mendapatkan izin dunia internasional, termasuk Pemerintah Belanda. Membawa obat-obatan atas nama palang merah, tetapi mengapa ditembak?

Peristwa itu membuka mata dunia bahwa Belanda melanggar kedaulatan Indonesia dan tidak menghormati umat Islam yang sedang menunaikan ibadah puasa. Karena, agresi militer itu dilakukan pada bulan Ramadhan.

Perintis penerbangan

Setelah gugur, Adisucipto dinobatkan sebagai bapak penerbangan Indonesia. Hal ini bukan tanpa sebab. Dialah yang pertama kali nekat menerbangkan pesawat bobrok peninggalan Jepang.

Adisucipto adalah orang yang merintis penerbangan AURI, membangun sekolah penerbang dan melakukan berbagai misi kemanusiaan lewat udara di tengah serangan Belanda. Hidupnya dihabiskan membangun kekuatan udara Indonesia tanpa lelah.

Adisucipto lahir pada 4 Juli 1916 di Salatiga, Jawa Tengah. Lulus dari Algemene Middelbare School (AMS) Semarang, pada 1936, dia mengikuti tes dan diterima di Militaire Luchtvaart Opleidings School atau Sekolah Penerbangan Militer di Kalijati Subang.

Lulus dengan predikat tercepat dan terbaik, Adisucipto dilantik dengan pangkat letnan muda udara. Ia berhak mendapat brevet penerbang kelas atas dan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang menyandang brevet tersebut.

photo
Adisucipto memberikan pelajaran kepada siswa sekolah penerbang di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta. - (istimewa)

Ia kemudian ditugaskan di Skuadron Pengintai di Jawa, seperti tertulis dalam buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003. Saat tentara Jepang mengalahkan tentara Belanda di Indonesia, seluruh penerbang Belanda dibebastugaskan.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat, termasuk Jawatan Penerbangan. Surjadi Suryadarma memanggil Adisucipto untuk membantu membentuk Angkatan Udara. Saat itu tidak ada pilot, tidak ada mekanik pesawat, tidak ada dana, hanya ada beberapa pesawat tua peninggalan Jepang.

Adisucipto nekat menerbangkan pesawat-pesawat itu. Upaya berhasil memompa semangat perjuangan rakyat bahwa ada orang Indonesia yang bisa menerbangkan pesawat sipil maupun militer. Pada 1 Desember 1945, bersama Surjadi Suryadarma mendirikan sekolah penerbang. Adisucipto menjadi instruktur dan Surjadi mengurus administrasi.

Berkat jasanya yang luar biasa dalam dunia penerbangan Indonesia, negara memberikan gelar kepada Adisucipto sebagai Bapak Penerbang Republik Indonesia. Lapangan Udara Maguwo pun diubah namanya menjadi Pangkalan Udara Adisucipto.

Pesawat 'Cureng'

Setelah proklamasi, Indonsia merebut pesawat tempur peninggalan Jepang berjumlah 50 unit. Namun, dari hasil pemeriksaan secara umum, semua pesawat tersebut dinyatakan dalam keadaan rusak. Kecuali tiga unit yang masih dalam keadaan lengkap, walaupun dalam keadaan rusak ringan.

Ketiga Pesawat Cureng ini merupakan pesawat yang siap terbang ketika terjadi perebutan pangkalan oleh Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan laskar yang ada di Yogyakarta.

Pesawat Cureng memiliki nama asli Yokosuka K5Y1. Pesawat buatan Jepang itu merupakan pesawat propeler bermesin tunggal dengan sayap ganda yang dibuat pada 1933 oleh pabrikan Nippon Hikoki KK. Untuk kokpitnya, tipe ini merupakan pesawat dengan kokpit tandem dengan dua tempat duduk depan dan belakang tanpa atap.

photo
Pesawat Cureng Yokosuka K5Y1 ditampulkan di Museum Satria mandala Yogyakarta. - (airhistory.net)

Engine yang digunakan adalah Radial Piston Engine Hitachi Amakaze 11 dengan sembilan silinder bertenaga 350 HP dan menggunakan air cooled system. Pesawat ini memiliki daya menjelajah 1.019 kilometer.

Dalam persiapan untuk pengoperasian pesawat Cureng oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan, Komodor Suryadi Suryadarma selaku ketua jawatan memerintahkan untuk mendatangkan teknisi dari Pangkalan Udara Andir Bandung. Teknisi diperlukan guna meyakinkan kondisi pesawat.

Dua orang teknisi yang didatangkan dari Bandung itu adalah Basir Surya dan Tjarmadi. Hanya dalam waktu sehari, satu pesawat Cureng dapat diperbaiki dan dinyatakan siap test flight setelah diberi tanda berupa lingkaran berwarna merah putih sebagai simbol bendera RI. Bendera itu sekaligus menegaskan bahwa pesawat Cureng sudah menjadi milik Republik Indonesia.

Setelah selesai perbaikan, test flight dilakukan pada 27 Oktober 1945 pukul 10.00 WIB selama 30 menit oleh Komodor Agustinus Adisucipto yang didampingi oleh Rudjito. Dipilihnya Agustinus Adisucipto untuk test flight karena dia mempunyai wing penerbang, yaitu Groot Militaire Brevet. Penerbangan itu tercatat sebagai penerbangan pesawat beridentitas merah putih pertama di langit Indonesia oleh pemuda Indonesia sendiri.

 
Penerbangan itu tercatat sebagai penerbangan pesawat beridentitas merah putih pertama di langit Indonesia oleh pemuda Indonesia sendiri.
 
 

Setelah penerbangan pertama itu, para teknisi terus bekerja memperbaiki pesawat-pesawat yang ada di Maguwo, Yogyakarta. Pada awal Januari 1946, berhasil diperbaiki dan disiapkan 25 pesawat lagi hingga siap terbang. Pesawat Cureng itu kemudian menjadi kekuatan Pangkalan Udara Maguwo yang sekaligus menjadi kekuatan sekolah penerbangan yang dipimpin oleh Komodor Agustinus Adisucipto.

"Tugas lain yang pernah dilaksanakan adalah dalam misi pengintaian di Laut Selatan, latihan terjun payung pertama, penyebaran pamflet, dropping obat-obatan dan logistik," kata Giyanto.

Kiprah pesawat Cureng pada masa kemerdekaan yang paling heroik adalah pada saat pelaksanaan 'Mission Imposible', yakni penyerangan tangsi militer Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga pada 29 Juli 1947.

Di akhir pengabdiannya, pada 1977, salah satu pesawat Cureng yang tersisa diabadikan di Museum TNI Satria Mandala sebagai upaya untuk mengenang kiprah pesawat Cureng mulai dari masa kemerdekaan.

Pesawat itu dipindahkan ke Museum Pusat Dirgantara Mandala Yogyakarta agar dapat lebih sesuai dengan tema tapak tilas yang rutin dilakukan setiap tahun. 

Disadur dari Harian Republika edisi 4 Agustus 2015

Anak-Anak Turut Jadi Korban 

Menurut H, ada sejumlah anak-anak yang ikut menyelamatkan diri di warungnya.

SELENGKAPNYA

Lakukan Evaluasi Menyeluruh

Komas HAM menyatakan tragedi di Stadion Kanjuruhan sebagai tragedi kemanusian.

SELENGKAPNYA

Peluang Besar Goresan Karya Digital

Asia Tengah dan Tenggara menyumbang 35 persen dari industri NFT global senilai 22 miliar dolar AS.

SELENGKAPNYA