Seorang guru memberikan arahan kepada siswa disabilitas sebelum menjalani ujian asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) di SLBN Cicendo, Bandung, Jawa Barat, Senin (29/8/2022). Sebanyak sembilan orang siswa di SLBN Cicendo mengikuti ujian ANBK yang dila | ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Laporan Utama

Murid Tercela Menghina Guru

Murid yang seharusnya berakhlak mulia kepada guru justru melecehkannya

Murid seharusnya bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Kesungguhan itu dia tunjukkan dengan menghormati guru sebagai wasilah ilmu. Namun, yang terjadi akhir-akhir ini bukan demikian. Justru, oknum murid saat ini berbuat tak terpuji, bahkan menganiaya guru, seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur.

Guru bernama Theresia Afriansa Darna (53 tahun) yang sungguh-sungguh mengajarkan sosiologi di SMAN 9 Kota Kupang, diduga dianiaya muridnya yang berinisial RJD yang mengakibatkan wanita paruh baya itu mengalami luka-luka. Ini bukan yang pertama, pada 2020, tiga orang murid SMAN 01 Fatuleu Kupang juga diduga menganiaya seorang guru karena tidak terima ditegur.

Yang lebih parah lagi adalah kasus siswa SMAN 1 Torjun Sampang berinisial HI diduga menganiaya gurunya hingga wafat pada 2018. Kasus ini merupakan keprihatinan yang luar biasa dalam dunia pendidikan Indonesia.

photo
Seorang guru mendampingi siswa siswinya saat belajar di dalam kelas pada hari pertama masuk sekolah di TK Inklusi Bhakti Siwi, Sunter Jaya, Jakarta, Senin (18/7/2022). TK Inklusi Bhakti Siwi berbasis lingkungan ini menerapkan kurikulum ‘Merdeka Belajar’ yang merupakan satu-satunya TK Inklusi di wilayah Sunter Jaya Jakarta Utara. Foto: Darmawan/Republika - (REPUBLIKA)

Murid yang seharusnya berakhlak mulia terhadap guru, justru melecehkan, bahkan menghilangkan nyawa si guru. “Seharusnya ini tak terjadi dalam lingkungan pendidikan yang penuh dengan nilai kearifan,” kata pengamat pendidikan Dr Miftah Wangsadanureja.

Dia teringat tulisan filsuf Jerman Immanuel Kant (1724-1804), manusia mencapai derajat kesempurnaannya melalui pendidikan. Namun, kenyataannya bukan kesempurnaan manusia, malah justru ini terdegradasi menuju ketidaksempurnaan, seperti kasus murid menganiaya guru di atas. “Ini menandakan ada masalah dalam sistem pendidikan nasional kita,” kata Miftah.

Dia menjelaskan, seharusnya kurikulum saat ini tak sekadar mengajarkan anak menjadi pengusaha atau menekuni profesi, tapi juga akhlak mulia. Ada akhlak terhadap guru, orang tua, lingkungan, alam sekitar, dan lainnya. Berbekal pengetahuan itu, anak akan termotivasi untuk membangun karakter dan kepribadian yang terpuji. Dengan begitu, diharapkan tak ada lagi kasus murid berperilaku tak terpuji terhadap guru.

Pakar pendidikan dari Universitas Islam Bandung (Unisba) Dr Alhamuddin mengatakan, lingkungan sekolah adalah tempat penanaman nilai keislaman yang bersumber dari Alquran dan hadis. Ada nilai keimanan kepada yang gaib. ini merupakan wadah yang membuka mata hati sehingga seseorang menjadi siap menerima ilmu yang merupakan cahaya ilahi melalui guru.

Setelah itu adalah keimanan yang tumbuh dari tanda kekuasaan Allah berdasarkan pengamatan indrawi manusia. Dari sini siswa menyaksikan kehidupan sekitarnya bagaimana bersabar pada saat ada orang ditimpa musibah, istiqamah melaksanakan qiyamul lail, beribadah dan berzikir saat orang terlelap dalam tidur, berusaha keras bekerja untuk menghidupi keluarga, dan banyak lagi.

photo
Siswa antre memasuki ruangan tes Swab antigen di SD Negeri Samirono, Yogyakarta, Kamis (21/10). Tes Swab antigen untuk guru dan murid ini untuk mengetahui kesehatan siswa dan guru saat uji coba pembelajaran tatap muka (PTM). Tes ini diadakan acak di beberapa sekolah di Yogyakarta. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Alhamuddin menjelaskan, belum lama ini ada penelitian akademisi Universitas Oxford Inggris tentang bagaimana bisa seorang sultan Turki Usmani Muhammad al-Fatih (1432-1481) menjadi penguasa besar menaklukkan Konstantinopel. Jawabannya adalah, karena dia sejak kecil sudah ditanamkan nilai dan kemuliaan yang bersumber dari Alquran dan hadis.

“Di sini ada peran bersama, yaitu lingkungan tempat tinggal dan sekolah, beserta semua orang yang berada di dalamnya untuk bersama-sama menanamkan nilai kebaikan kepada anak,” ujar Alhamuddin.

Dia juga mengutip perkataan sahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib (599-661), “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, bukan dengan cara mendidik pada zaman kamu,” kata dia.

Artinya, kata Alham, cara mendidik anak zaman sekarang harus inovatif. Guru harus memahami dan mengamalkan teori pendidikan. Pola sekarang adalah berpusat pada si murid. Sedangkan, guru adalah fasilitator, yang mengarahkan murid untuk memasuki sumber ilmu dan berakhlak mulia.

Di Mana Mengadili Sengketa Hasil Pilkada Serentak 2024?

Meneruskan dikotomi rezim pemilu dan rezim pemerintahan daerah hanya akan menimbulkan ketidakpastian hukum.

SELENGKAPNYA

Wisata Global Menuju Sinyal Hijau

Sinyal membaik sektor pariwisata internasional sudah terlihat pada lima bulan pertama 2022.

SELENGKAPNYA

De-Dolarisasi Meluas

Cina menguatkan upaya mengikis hegemoni dan dominasi mata uang dolar AS di kawasan Asia.

SELENGKAPNYA