Petugas menunjukkan uang dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (29/9/2022). | Prayogi/Republika.

Kabar Utama

Rupiah Bertahan di Level Rp 15 Ribu

Ekonom menilai pelemahan rupiah bukan karena faktor fundamental.

JAKARTA -- Turbulensi perekonomian global memberikan tekanan yang cukup kuat terhadap rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sejak pertengahan pekan lalu, rupiah tertahan di level psikologis Rp 15 ribu per dolar AS.

Rupiah menembus level Rp 15 ribu pada 21 September, tepatnya senilai Rp 15.011 per dolar AS berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia. Adapun pada Jumat (30/9), rupiah mengakhiri perdagangan pekan ini di level Rp 15.232 per dolar AS, menguat tipis dibandingkan hari sebelumnya yang sebesar Rp 15.247 per dolar AS.

Ekonom Institute of Social, Economic, and Digital (ISED) Ryan Kiryanto mengatakan, pelemahan mata uang terhadap dolar AS bukan hanya terjadi pada rupiah, tapi juga mata uang kuat dunia lainnya seperti poundsterling, eruo, yuan, dan yen.

Menurut dia, penguatan dolar AS yang cukup ekstrem saat ini di luar ekspektasi bank sentral AS the Federal Reserve (The Fed). Tujuan utama The Fed menaikkan suku bunga adalah untuk menurunkan laju inflasi AS yang sempat menyentuh 9,1 persen pada Juni 2022.

Untuk mengurangi pelemahan kurs, sejumlah bank sentral melakukan intevensi pasar atau operasi moneter pasar di pasar uang domestiknya. Menurut Ryan, hal itu juga dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) sebagai salah satu dari strategi triple intervention. Soal strategi triple intervention. BI, Ryan menilai strategi itu cukup efektif untuk menahan posisi rupiah agar tidak terus melemah.

"Dan strategi ini pun berhasil yang mana rupiah masih berada di kisaran Rp 15 ribu per dolar AS," kata Ryan, Jumat (30/9)

photo
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (29/9/2022). - (Prayogi/Republika.)

Dia menambahkan, langkah BI yang sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen diharapkan bisa menahan pemilik dana untuk tetap memegang aset dalam rupiah. Ia yakin strategi itu efektif menstabilkan kurs rupiah karena didukung fundamental ekonomi RI yang baik dan stabil.

"Pelemahan mata uang regional, termasuk rupiah akhir-akhir ini merupakan reaksi yang berlebihan karena dipicu kepanikan yang tidak mendasar dari sebagian pelaku pasar. Jadi bukan karena faktor fundamental ekonomi," ujar Ryan.

Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Revandra Aritama mengatakan, sejauh ini sentimen kenaikan suku bunga The Fed memang menjadi sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan nilai dolar AS. "The Fed yang agresif dalam menghadapi inflasi dengan menaikkan suku bunga, melambungkan nilai dolar AS," kata Revandra kepada Republika, kemarin.  

Menurut catatan dia, Indeks Dolar AS sempat mencapai 114 pada awal pekan ini. Hal itu memberikan tekanan bagi mata uang lain yang dipasangkan dengan dolar AS, termasuk rupiah. "Kebijakan BI yang telah menaikkan nilai suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen, masih belum cukup memberikan 'bensin' bagi rupiah untuk melawan dolar AS," ujar dia.

Meski demikian, dia menyebut kondisi rupiah masih relatif baikkarena Indonesia mendapat keuntungan naiknya harga komoditas belakangan ini.  Neraca perdagangan Indonesia positif dalam waktu yang panjang. Selain itu, konsumsi domestik pun cukup tinggi. "Sehingga melemahnya rupiah terhadap dolar AS masih ada di level yang relatif aman," katanya.

Ekonom senior di Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto memprediksi rupiah masih akan tertekan dalam jangka pendek. Namun, jika melihat prospek ekonomi yang cukup baik, ia optimistis rupiah bisa menguat. "Prospek ekonomi Indonesia yang cukup bagus seharusnya dapat mendorong rupiah secara fundamental," ujar dia, kemarin.

Pemerintah menyatakan telah mengantisipasi dampak ketidakpastian ekonomi global terhadap inflasi. Apalagi, mata uang banyak negara tertekan oleh penguatan dolar AS, termasuk rupiah.

 
Pemerintah pusat dan daerah akan terus memperkuat kerja sama dalam pengendalian inflasi.
AIRLANGGA HARTARTO Menko Perekonomian
 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, inflasi menjadi musuh terbesar dunia. Kenaikan harga barang dan jasa di negara-negara maju berada di kisaran 8-10 persen. Namun, inflasi di Indonesia masih cukup terkendali karena berada di level 4,69 persen (yoy) per Agustus 2022.

Airlangga menegaskan, pemerintah pusat dan daerah akan terus memperkuat kerja sama dalam pengendalian inflasi sesuai arahan Presiden Joko Widodo. Dia mengatakan, tim pengendali inflasi pusat (TPIP) dan tim pengendali inflasi daerah (TPID) harus terus mengidentifikasi wilayah yang surplus dan defisit pangan.

"Sekaligus menjadi fasilitator yang baik untuk mendorong kerja sama antar daerah dalam upaya pengendalian inflasi," kata Airlangga dalam keterangannya, Jumat (30/9).

Dia menambahkan, kementerian/lembaga dan pemerintah daerah harus memperkuat sinergi, salah satunya dengan memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas pangan strategis. "Utamanya untuk mengantisipasi peningkatan permintaan di akhir tahun," ujar Airlangga.

Sebagai langkah menanggulangi dampak inflasi dan tetap menjaga daya beli masyarakat, pemerintah mendorong upaya pengendalian inflasi daerah melalui berbagai kebijakan. Pertama, penggunaan belanja tidak terduga. Daerah diarahkan untuk menjaga keterjangkauan harga, daya beli masyarakat, kelancaran distribusi dan transportasi.

Langkah kedua berupa dukungan pemerintah daerah sebesar 2 persen dari dana transfer umum untuk belanja wajib perlindungan sosial. Kebijakan itu untuk mengantisipasi dampak inflasi setelah dilakukan penyesuaian harga BBM.

Belanja wajib perlindungan sosial, antara lain, digunakan untuk pemberian bantuan sosial, termasuk untuk ojek, UKM, dan nelayan Adapun langkah ketiga adalah pengalokasian dana insentif daerah (DID). Insentif ini disiapkan sebagai bentuk apresiasi bagi pemerintah daerah yang berhasil menekan/mengendalikan inflasi.

Ade Irma Suryani: Anak Periang Korban G30S

Walaupun Ade luka parah, tapi dia tidak pingsan sama sekali.

SELENGKAPNYA

Kekejaman PKI dari Masa ke Masa

Penyiksaan sebelum pembunuhan juga terjadi terhadap sejumlah orang di Solo pada 1965.

SELENGKAPNYA