Pungli (Ilustrasi) | ANTARA FOTO

Fatwa

Kasus Soleh Solihun dan Hukum Pungli dalam Islam

Perbuatan pungli termasuk dalam dosa besar.

Cuitan artis multitalenta Soleh Solihun di Twitter pada 27 September lalu soal cek fisik viral di media sosial. Soleh yang memperpanjang STNK lima tahunan tersebut ternyata menjadi korban pungli karena diminta bayaran Rp 30 ribu oleh oknum petugas di Samsat Jakarta Selatan. 

Oknum petugas yang berstatus sebagai Pegawai Harian Lepas (PHL) itu pun akhirnya diberhentikan akibat perilakunya yang tidak bertanggungjawab tersebut. Pasalnya, diketahui bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 76 Tahun 2020 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), jika tidak ada biaya cek fisik untuk perpanjangan STNK kendaraan. 

Sebenarnya, apa hukum pungli di dalam Islam? Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Ustaz Ahmad Kusyairi Suhail mengatakan, seorang ulama Suni dari Damaskus, yakni Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi atau lebih dikenal dengan nama Imam adz-Dzahabi telah membahas tentang masalah pungli dalam kitabnya yang termasyhur, yakni al-Kabaair, sebuah kitab yang membahas tentang dosa-dosa besar.

Dalam al-Kabaair, perbuatan pungli termasuk dalam perbuatan dosa besar dan pelakunya diancam Allah SWT. Ustaz Kusyairi yang juga dosen Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini menerangkan, pungli adalah perbuatan yang menzalimi orang lain dan merupakan kejahatan yang melampaui batas.

Pada surat asy-Syura ayat 42 Allah menegaskan, orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas tanpa mengindahkan kebenaran akan mendapatkan siksaan yang pedih. Allah ingatkan orang beriman untuk tidak memakan harta dengan cara yang batil. Dan salah satu kebatilan itu adalah dengan cara melakukan pungutan-pungutan liar. Hal tersebut pun termasuk di antara dosa besar yang diancam dengan siksa yang sangat pedih dan termasuk bagian memakan harta degan cara batil.

Menurut Ustaz Kusyairi, kendati pelaku pungli berdalih melakukannya karena ingin membantu orang agar menyelesaikan urusannya lebih cepat, praktik tersebut mempunyai banyak unsur kejahatan. Di antaranya mengambil harta orang lain secara batil, merusak sistem tata kerja yang terbangun, hingga berdampak pada merugikan negara dan lainnya.

Dalam al-Kabaair, Imam Adz Dzahabi menyebut orang yang melakukan pungutan liar mirip dengan perampok jalanan yang lebih jahat daripada pencuri. Orang yang menzalimi orang lain dan berulang kali memungut upeti, dia itu lebih zalim dan lebih jahat daripada orang yang adil dalam mengambil pungutan dan penuh kasih sayang kepada rakyatnya.

photo
Suasana Cek Fisik di Kantor Samsat Jakarta Selatan - (Twitter Soleh Solihun)

Orang yang mengambil pungutan liar, baik pencatat, pemungutnya, maupun semuanya bersekutu dalam dosa. Mereka sama-sama pemakan harta haram. Lebih lanjut Ustaz Kusyairi menerangkan, seluruh orang yang terlibat dalam perbuatan pungli, termasuk yang mengoordinasikan kegiatan pungli, juga telah melakukan dosa yang besar.

Imam Nawawi menyebut pungli sebagai perbuatan dosa yang paling jelek. Pungli hanya menyusahkan dan menzalimi orang lain. Pengambilan pungli merupakan pengambilan harta dengan jalan yang tidak benar, penyalurannya pun tidaklah tepat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memang tak memberi fatwa spesifik tentang pungli. Namun MUI telah mengharamkan risywah yang dipadankan dengan korupsi. Fatwa yang dikeluarkan pada 29 Juli 2000 ini menjelaskan, risywah adalah pemberian dari seseorang kepada orang lain (pejabat) dengan maksud meluluskan suatu perbuatan yang batil (tidak benar menurut syariah) atau membatilkan perbuatan yang hak.

Pemberi disebut rasyi, sementara penerima disebut dengan ra'isy. Dalam fatwa MUI menjelaskan, suap, uang pelicin, money politics, dan lain sebagainya dapat dikategorikan risywah apabila tujuannya meluluskan sesuatu yang batil atau membatilkan perbuatan yang hak.

Karena itu, MUI memfatwakan hukum risywah adalah haram. Karena itu pula, harta pungli haram untuk dimakan atau digunakan. Menurut Ustaz Kusyairi, pelaku pungli harus segera bertobat kepada Allah dan mengakhiri perbuatan jahatnya.

Kalau mayoritas ulama sepakat pungli itu masuk pada dosa besar maka pendapatan, penghasilan, yang didapat dari itu hukumnya haram. Dalam hadis disebut seluruh daging yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram maka baginya neraka. Jadi, masalah ini serius karena bisa membuat tercerabutnya berkah dalam hidup, dalam keluarga, dan lebih luas lagi tercabutnya keberkahan dalam berbangsa.

Disadur dari Harian Republika Edisi 18 Juni 2021

Eropa Kian Suram

Inflasi di Eropa meningkat signifikan menjadi 9,1 persen pada Agustus 2022.

SELENGKAPNYA

Sukarno: Ini Gerakan Keblinger!

Setelah mendengar laporan itu, Presiden Sukarno memerintahkan agar gerakan G-30-S dihentikan.

SELENGKAPNYA

Fikih Moderat Qaradhawi

Menurut Syekh Qaradhawi, fanatisme menunjukkan ketidakjernihan sikap dalam berpikir.

SELENGKAPNYA