KH Imam Zarkasyi berdiri dan KH Ahmad Sahal duduk | Pondok Modern Darussalam Gontor

Tuntunan

Tirakat Pak Zar Mendoakan Anak

Doa selalu menjadi senjata orang beriman, sebagaimana disabdakan Rasulullah

Pada 1980-an, putra keempat KH Imam Zarkasyi (1910-1985), KH Amal Fathullah Zarkasyi, melanjutkan studi magister ke al-Azhar Mesir. Saat mendaftarkan diri untuk belajar di sana, ternyata ada masalah. Ijazah sarjana muda yang diraihnya dari IAIN Sunan Ampel Surabaya belum diakui pihak al-Azhar.

Tak tinggal diam, Amal mengurus persamaan (mu’adalah) ijazah itu dan Institut Pendidikan Darussalam (Sekarang Universitas Darussalam/Unida Gontor). Hasilnya, ijazah sarjana Fakultas Ushuluddin keduanya diakui. Sejak itu, Amal diterima menjadi mahasiswa magister di dua perguruan tinggi tersebut.

Pak Zar menyembelih lembu sebagai tanda kesyukuran. “Tetapi, Amal perlu mengetahui, bahwa kesyukuran kami yang sebenarnya bukan (hanya) itu, tetapi dengan shalat sunnah 400 rakaat,” ujar Pak Zar.

 

 

Amal perlu mengetahui, bahwa kesyukuran kami yang sebenarnya bukan (hanya) itu, tetapi dengan shalat sunnah 400 rakaat

 

KH IMAM ZARKASYI
 
SHARE    

 

Sungguh luar biasa tirakat tersebut. Seorang ayah bermujahadah sebegitu keras untuk kebaikan anak, keluarga, dan pesantren yang dipimpinnya. Riyadha yang tidak sekali atau dua kali dilakukan. Ini pasti kelanjutan dari membiasakan diri melaksanakan shalat sunnah dan zikir lainnya sejak lama.

Bagi orang awam, awal melakukan hal tersebut tidaklah mudah. Pasti ada kejenuhan, sehingga godaan datang untuk meninggalkan amalan sunnah ini. Namun, seperti yang dialami Pak Zar, kesungguhan dan kemantapan mematahkan godaan setan, sehingga berganti menjadi keteguhan hati.

Yang lebih terpenting lagi adalah optimisme kepada Allah atas apa yang Dia berikan. Inilah kesungguhan Pak Zar mengamalkan sunnah Nabi Ya’qub untuk selalu yakin dengan kasih sayang Allah (QS Yusuf: 87). Kalau yakin Allah menyayangi kita, kasih sayang itu benar-benar akan dilimpahkan kepada kita, seperti yang dialami Pak Zar.

photo
Ayah (Ilustrasi) - (Pixabay)

Dia yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk keluarga dan pesantren yang diperjuangkannya. Alhasil, anak-anaknya sukses menginspirasi banyak orang. Ma’had yang diperjuangkannya juga memberi banyak manfaat kepada bangsa ini.

Tirakat Pak Zar semacam ini adalah ‘pecutan’ untuk kita semua selaku orang tua, yang diberikan amanah oleh Allah untuk mendidik dan membesarkan anak. Orang tua dan guru wajib mengajarkan mereka dengan keteladanan akhlak mulia, menanamkan nilai dan ilmu ke dalam hati. Namun, tak hanya itu. Usaha yang ada harus dibarengi dengan banyak mendoakan dan ‘menirakati’ anak dan cucu.

Mendoakan dan menirakati anak dan cucu adalah tradisi mulia. Rasulullah (570-632) mendoakan menantunya Ali bin Abi Thalib (599-623) dan anaknya Fatimah az-Zahra (605-632) agar diberkahi Allah dan mengumpulkan keduanya dalam kebaikan. Nabi Muhammad juga mendoakan kedua cucunya, Hasan (624-670) dan Husein (626-680), agar Allah melindungi mereka dari segala setan, hewan melata, dan segala pandangan jahat (HR Bukhari).

Dalam tradisi Alawiyyun ada banyak kisah mendoakan murid, keturunan, dan orang dekat. Contohnya adalah Habib Ahmad bin Ja’far Assegaf (abad ke-19). Dia banyak berdoa kepada Allah untuk kebaikan cucunya, Habib Alwi bin Syekh Assegaf (1865-1949). 

“Semoga cucuku selamat dan diberi rezeki yang penuh berkah serta diberikan keturunan yang banyak,” kata Habib Ahmad, sebagaimana ditulis Habib Zen bin Umar bin Sumaith dalam buku Rangkaian Mutiara 99 Tokoh Ulama Dzuriyat Rasulullah dari Masa ke Masa.

 

 

Semoga cucuku selamat dan diberi rezeki yang penuh berkah serta diberikan keturunan yang banyak

 

HABIB AHMAD
 
SHARE    

 

Doa itu pun terkabul. Meskipun sempat hidup dalam keterbatasan, Habib Alwi kemudian mengembangkan usahanya menjadi besar di Kompleks Assegaf, Palembang. Dari situ dia memberikan banyak manfaat kepada masyarakat luas.

Doa selalu menjadi senjata orang beriman, sebagaimana disabdakan Rasulullah. Melalui doa, banyak malaikat akan tertegun mendengarkan rintihan pendoa yang bersungguh-sungguh untuk dekat dengan Allah dan memohon kasih-sayang-Nya. Allah pun akan merespons harapan itu, seperti yang dialami Rasulullah dan keturunannya di atas.

Soal KDRT, Benarkah Islam Melegitimasi Suami Memukul Istri?

Keyakinan yang melanggengkan terjadinya kekerasan antara lain bersumber dari cara pemahaman agama

SELENGKAPNYA

Indonesia Tetap Optimistis Pemulihan Ekonomi Berlanjut

Kenaikan harga barang dan jasa menjadi ancaman bagi semua negara.

SELENGKAPNYA

Vaksin Covid Halal Buatan Lokal Diapresiasi

Percepat penahapan wajib sertifikasi halal bagi industri farmasi.

SELENGKAPNYA