Cover Islam Digest Edisi Ahad 18 September 2022. Ibnu Sina Sang Cendekia | Islam Digest/Republika

Tema Utama

Gagasan Filsafat Ibnu Sina

Ibnu SIna termasuk kalangan filsuf Muslim peripatetik dan pendukung teori emanasi.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Tokoh ini bernama lengkap Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin al-Hasan bin Ali bin Sina al-Balkhi al-Bukhari (980-1037). Ibnu Sina, demikian sapaannya, telah menghasilkan ratusan karya di sepanjang hayatnya. Sekitar 240 judul risalah yang ditulisnya bertahan hingga masa modern.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 150 buku membahas filsafat, sedangkan 40 buku lainnya bertema ilmu kedokteran. Avicenna—begitu namanya disebut orang-orang Eropa barat—menggagas sistem pemikiran filsafat yang sinkretis dengan cara menggabungkan antara prinsip neo-Platonisme, Aristotelianisme Yunani, tauhid Islam, dan filsafat Timur yang mistik dan simbolik.

Menurut Aksin Wijaya dalam Satu Islam Ragam Epistemologi (2020), filsuf tersebut berpengaruh signifikan terhadap abad pencerahan dan Renaisans Eropa. Ibnu Sina mendefinisikan filsafat sebagai “suatu usaha untuk menyempurnakan jiwa melalui konseptualisasi segala sesuatu, dan pembuktian rasional atas realitas-realitas teoretis dan filsafat praktis".

Dari pengertian tersebut, sang cendekiawan Muslim memandang objek kajian filsafat (hikmah) terbagi menjadi dua bagian, yakni teoretis (nadzariyah) dan praktis (’amaliyah).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Filsafat teoretis bertujuan menemukan dan menumbuhkan keyakinan yang mendalam terhadap kebenaran. Adapun filsafat praktis bertujuan untuk mencapai kebaikan. Beberapa objek hikmah nadzariyah itu adalah metafisika (ketuhanan), matematika, dan fisika. Sementara itu, hikmah ‘amaliyah antara lain ialah etika, keluarga, serta tatanan negara atau politik. Wijaya mengatakan, Ibnu Sina cenderung mengutamakan filsafat teoretis, yakni lebih khusus lagi metafisika.

Ibnu Sina—seperti halnya al-Kindi (801-873) dan al-Farabi (870-950)—merupakan seorang filsuf peripatetik. Dengan perkataan lain, dirinya mengikuti pola pikir Aristoteles (384-322 SM) dalam menjelaskan berbagai pokok filsafat. Istilah peripatetik merujuk pada mazhab Peripatos dalam filsafat Yunani kuno yang didirikan guru Iskandar Agung (356-323 SM) tersebut. Dahulu, Aristoteles ketika mengajar kerap berjalan memutar-mutar dan mengelilingi (peripatoi) para muridnya.

Dalam menelaah manusia, Ibnu Sina berargumen tentang jiwa dan raga. Yang satu bersifat abadi, sedangkan yang lain adalah fana. Jiwa memiliki tiga bagian, yaitu nabati, hewani, dan insani. Jiwa hewani terbagi lagi ke dalam bagian (fakultas) penggerak dan persepsi—yang terdiri atas persepsi internal dan eksternal (panca indra).

Manusia disebut sebagai makhluk rasional karena memiliki fakultas untuk mengonsepsi objek-objek rasional. Fakultas itu dinamakannya akal potensial atau akal materiel pertama (al-aql al-hayulani). Alat pengetahuan itu dimiliki setiap insan, baik kalangan nabi, pemikir, maupun orang-orang biasa.

photo
Kompleks makam Ibnu Sina di Hamadan, Iran. Ilmuwan yang disebut Avicenna oleh masyarakat Barat itu ahli terutama dalam bidang ilmu kedokteran dan filsafat. - (DOK WIKIPEDIA)

Ibnu Sina membagi ilmu ke dalam dua pengertian. Pertama, ilmu yang bersifat fitri atau apriori. Misalnya, pengetahuan tentang “keseluruhan lebih besar daripada sebagian” atau “jumlah satu adalah separuh dari dua". Kedua, ilmu aposteriori atau muktasab yang tentunya menuntut kerja keras daripada kategori yang terawal itu.

Alat ilmu apriori adalah akal potensial dan akal aktual yang dimiliki seluruh manusia. Adapun alat ilmu aposteriori bersifat intelektual guna mempersepsi hal-hal yang universal. Untuk itu, seseorang memerlukan perantaraan akal perolehan (al-‘aql al-mustafad), yang dimiliki para filsuf. Mereka, menurut Ibnu Sina, menangkap cahaya yang dipancarkan Tuhan (Wajib al-Wujud) ke alam materi.

Sang pemikir, seperti halnya al-Farabi, juga mengajukan teori emanasi atau pancaran. Berbeda dengan sang “Guru Kedua” (gelar “Guru Pertama” ditujukan kepada Aristoteles), Ibnu Sina menetapkan tiga objek akal-akal. Ketiganya adalah Tuhan, Diri-Nya sebagai Wajib al-Wujud li Ghairihi, dan Diri-Nya sebagai Mumkin al-Wujud.

Dalam teori emanasi Ibnu Sina, tutur Wijaya, dapat digambarkan sebagai berikut. Dari pemikiran tentang Tuhan, muncul akal-akal. Dari pemikiran tentang Wajib al-Wujud li Ghairihi, lahirlah jiwa-jiwa yang berfungsi sebagai penggerak planet-planet, Dari pemikiran tentang Mumkin al-Wujud, muncul planet-planet.

Karena itu, dari Tuhan memancarlah Akal Pertama. Dari Akal Pertama yakni Malaikat Tertinggi, memancar Akal Kedua dan Langit Pertama. Begitu seterusnya hingga Akal Kesepuluh (Malaikat Jibril) dan Bumi. Dari Akal Kesepuluh, terpancarlah segala hal yang terdapat di bumi.

photo
Sebuah perangko bergambar wajah Ibnu Sina yang dikeluarkan pihak pos Negara Iran. Penulis Qanun fii al-Thibb itu melalui berbagai pergolakan politik pada masa hidupnya. - (DOK WIKIPEDIA)

Telaah jiwa

Ibnu Sina menelaah topik perihal jiwa (al-nafs). Menurut Prof Ris’an Rusli dalam Filsafat Islam: Telaah Tokoh dan Pemikirannya, uraian sang filsuf mengenai al-nafs begitu komprehensif. Sebab, ia menggabungkan antara teori-teori kedokteran dan filsafat.

Mengikuti Aristoteles, Ibnu Sina mendefinisikan jiwa sebagai “kesempurnaan pertama dari benda organik yang alami.” Bagaimanapun, lanjut Rusli, ada perbedaan di antara keduanya dalam memandang “kesempurnaan” atau actus primus tersebut.

Di satu sisi, sang filsuf Yunani menghubungkan jiwa secara komparatif dengan badan (raga). Sementara itu, sang pemikir Muslim membaginya ke dalam tiga jenis, yakni kekuatan, bentuk, dan sempurna. Di samping itu, Ibnu Sina menegaskan bahwa jiwa bukanlah badan, melainkan substansi akal (jauhar aqli) yang dapat terpisah dari badan.

Tiap-tiap jenis jiwa memiliki daya tersendiri. Secara keseluruhan, menurut Ibnu Sina, jiwa terbagi ke dalam tiga macam, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah), jiwa hewan (al-nafs al-hayawaniyah), dan jiwa manusia (al-nafs al-nathiqah).

Yang pertama itu memiliki tiga daya, yakni makan, tubuh, dan berkembang biak. Adapun yang kedua mempunyai dua daya, yakni gerak dan menangkap, baik melalui indra lahiriah maupun batiniah.

photo
Hingga abad ke-18, The Canon karya Ibnu Sina masih menjadi rujukan di kampus-kampus benua Eropa. - (DOK WIKIPEDIA)

Yang ketiga atau jiwa manusia memiliki dua daya, yakni praktis dan teoretis. Kemampuan teoretis terdiri atas empat tingkatan: akal materiel, akal kapasitas (intellectus in habitu), akal aktuil, dan akal perolehan.

Ibnu Sina berpendapat, jiwa dalam diri manusia adalah suatu unit yang tersendiri. Wujudnya terpisah dari badan. Meskipun demikian, jiwa tetap berhajat kepada badan, terutama menolongnya untuk dapat berpikir.

Dalam teori sang filsuf, jika mencapai tahap kesempurnaan, jiwa tidak lagi berhajat pada pertolongan badan. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa hewan yang ada dalam diri manusia pun akan mati seiring dengan matinya badan. Kedua jenis jiwa itu tidak akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat.

Bagi sebagian kalangan, Ibnu Sina merupakan sosok yang cukup kontroversial. Sebab, beberapa gagasannya cenderung mengundang perdebatan sengit. Misalnya, ide mengenai kekalnya jiwa. Menurut Rusli, pemikiran sang filsuf pada dasarnya diambil dari Aristoteles yang masih agak ragu perihal kekekalan jiwa dan Plato.

Ibnu Sina mengutarakan beberapa alasan. Misalnya, jiwa memang ada beriringan dengan badan, tetapi jiwa tidak hancur bersamaan dengan hancurnya badan. Adanya jiwa bukan disebabkan oleh adanya badan. Jiwa adalah zat yang bersifat rohani yang simpel (zat ruhaniyah basithah). Karena hidup (nyata) adalah sifat dari jiwa, maka mustahil jiwa bersifat lawannya hidup, yakni mati. Dalam pandangannya, keabadian jiwa sebagai sesuatu yang mempunyai awal, tetapi tidak memiliki akhir.

Inilah yang patut digarisbawahi. Amir Reza Kusuma dalam “Konsep Jiwa Menurut Ibnu Sina dan Aristoteles” (2022) menerangkan salah satu pokok teori Ibnu Sina. Meskipun jiwa kekal, kekekalannya bukanlah keabadian yang hakiki, sebagaimana kekekalan dan keabadian Yang Maha Kekal. Kekekalan jiwa karena kehendak dan dikekalkan oleh Allah SWT. Seorang insan apabila selama hidupnya selalu bertakwa kepada-Nya, maka jiwanya akan bersih dan (kelak) bisa menjadi dekat dan berada di sisi Allah.

Tidak hanya berkutat di metafisika, Ibnu Sina meneruskan observasinya pada ranah medis. Menurut sang filsuf, jiwa yang cukup kuat dapat menyembuhkan badan yang sakit apabila penyakitnya tidak parah. Dengan demikian, fokus penyembuhan adalah pada aspek jiwa atau mental terlebih dahulu, barulah kemudian pada raga si pasien.

Dalam bidang filsafat, Ibnu Sina mendapatkan kritikan keras pada abad-abad berikutnya dari Imam Ghazali (1058-1111) dan Fakhruddin ar-Razi (1150-1210). Bagaimanapun, ada pula generasi sesudahnya yang membela pemikirannya, semisal Nashiruddin ath-Thusi (1201-1274).

Pengaruh Ibnu Sina mulai terasa di Barat sejak penerjemahan atas sebagian karya-karyanya pada abad ke-12 M. Kebanyakan alih bahasa—dari Arab atau Persia ke Latin—tersebut dilakukan di Sekolah Toledo, khususnya dalam pengawasan Dominicus Gundissalinus (1115-1190).

photo
Salah satu manuskrip dari karya Ibnu al-Nafis yang mengomentari Qanun fii al-Thibb Ibnu Sina. - (DOK WIKIPEDIA)

Ensiklopedia Medis Termasyhur

Dunia Barat mengenal sosok penulis Al-Qanun fii al-Thibb sebagai Avicenna. Ibnu Sina—demikian namanya—sudah terkenal sebagai dokter yang ulung jauh sebelum menghasilkan karya monumental itu. Ia mulai memasuki ranah ilmu kedokteran sejak berusia 13 tahun. Tiga tahun berselang, dirinya sudah terlibat dalam praktik medis di rumah sakit.

Pada suatu ketika, gubernur yang memimpin daerah tempat tinggal Ibnu Sina, Bukhara, terkena musibah. Sang amir menderita sakit yang sukar diobati. Banyak tabib merawatnya. Namun, mereka tidak kunjung bisa mendiagnosis secara tepat pengobatan untuknya.

Kemudian, Ibnu Sina mendatangi gubernur tersebut. Tidak disangka-sangka, pemuda itu dapat mendeteksi penyakit amir itu dengan tepat. Bahkan, pengobatan yang dilakukannya—atas izin Allah Ta’ala—dapat menyembuhkan pemimpin itu.

Sebagai bentuk apresiasi, amir Bukhara memberikan kepadanya akses pada perpustakaan istana. Inilah pengalaman pertamanya mendapatkan kemudahan pada koleksi pustaka yang luar biasa kaya milik penguasa. Hingga akhir hayatnya, Ibnu Sina dekat dengan berbagai pemerintahan sehingga dapat mengakses setiap perpustakaan milik masing-masing raja.

Salah satu buku yang dihasilkannya dari riset pustaka dan penelitian empiris adalah Al-Qanun fii al-Thibb. Dalam bahasa Inggris, karya itu disebut The Canon of Medicine. Ibnu Sina mulai menulis risalah tersebut kala dirinya meninggalkan Jurjan untuk menuju Iran pada 1012 M.

 
Salah satu buku yang dihasilkannya dari riset pustaka dan penelitian empiris adalah Al-Qanun fii al-Thibb.
 
 

Di dalam Al-Qanun, ia mengelaborasi pengetahuan medis dari berbagai kebudayaan besar dunia, mulai dari Yunani, Romawi, India, hingga Persia dan Arab-Islam. Isi kitab itu terdiri atas lima bagian. Masing-masing membahas topik unsur-unsur alam; anatomi; sebab-sebab kemunculan dan gejala berbagai penyakit; kaitan kebersihan, makanan, dan kesehatan; serta kematian.

Hingga medio abad ke-18 M, Al-Qanun masih menjadi rujukan di kampus-kampus di Benua Eropa. Bahkan, para peneliti era kekinian terus mengapresiasi buah pena Ibnu Khaldun tersebut. Sebagai contoh, hasil risetnya atas tuberkulosis (TBC).

Seperti dinukil dari artikel ilmiah Behzadifar dan kawan-kawan di Journal of Preventive Medicine and Hygiene (2020), Ibnu Sina mendedikasikan dua bab dalam kitab tersebut untuk membahas TBC. Avicenna mewanti-wanti, penanganan atas TBC harus dibedakan dari sakit pernapasan lain, semisal asma.

Ibnu Sina juga menyebutkan beberapa gejala penyakit menular itu, semisal demam pada malam hari, berkeringat, dan kelelahan. Apabila parah, pasien dapat mengalami pendarahan yang sangat membahayakan nyawanya. Sang dokter Muslim juga meyakini, TBC memiliki tiga tahap, yakni pra-inflamasi, reaksi peradangan, dan cekungan (cavernous).

Tidak hanya itu, ia juga memaparkan 21 bahan herbal yang bisa digunakan untuk meredakan gejala-gejala TBC. Sebut saja, oak abu-abu (Quercus baloot) dan almond.

 

 

Ibnu Sina, Sang Pangeran Para Dokter

Ibnu Sina melalui berbagai dinamika politik, tanpa meninggalkan praksis seorang ilmuwan besar.

SELENGKAPNYA