Ibnu Sina merupakan salah seorang ilmuwan genius dalam sejarah Islam. Ia menulis The Canon Qanun fii al-Thibb dan Kitab asy-Syifaa. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

Ibnu Sina, Sang Pangeran Para Dokter

Ibnu Sina melalui berbagai dinamika politik, tanpa meninggalkan praksis seorang ilmuwan besar.

OLEH HASANUL RIZQA

Orang Eropa menyebutnya Avicenna. Sebagai cendekiawan Muslim, Ibnu Sina sangat cemerlang. Karyanya menjadi rujukan ilmu medis dan filsafat ratusan tahun lamanya.

Peradaban Islam memunculkan banyak ilmuwan yang berkontribusi besar dalam sejarah. Pada bidang kedokteran, terdapat sosok Ibnu Sina. Tokoh itu memiliki banyak gelar atau julukan kehormatan, semisal “Pangeran Para Dokter” (The Prince of Physicians), Asy-Syaikh al-Ra'is (Pemimpin Orang-orang Bijak), dan Hujjat al-Haqq (Bukti Kebenaran).

Saintis Muslim tersebut masyhur akan buah penanya, Al-Qanun fii al-Thibb. Masyarakat Eropa (Barat) mengenal ensiklopedia medis yang terbit pada 1025 M itu sebagai The Canon.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Dari judul tersebut, lahirlah istilah canon yang dalam bahasa Inggris berarti ‘pedoman’ atau ‘aturan standar'. Hal itu mengindikasikan besarnya pengaruh karya cendekiawan Muslim tersebut.

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin al-Hasan bin Ali bin Sina al-Balkhi al-Bukhari. Orang Barat menyebutnya Avicenna. Ia lahir pada 370 Hijriyah/980 Masehi di Desa Afshana, kawasan Transoxiana. Kampung halamannya berada tidak jauh dari ibu kota Negeri Samaniyah, Bukhara, yang juga merupakan tempat ibundanya berasal.

Ayahnya adalah seorang Balkh yang menganut paham Syiah Ismai’iliyah. Tidak seperti bapaknya, Ibnu Sina mengikuti Hanafi, salah satu mazhab dalam Ahlus sunnah wal jama’ah (Aswaja), sebagaimana yang dijalankan kebanyakan Muslimin di Samaniyah. Guru pertamanya dalam fikih adalah Ismail az-Zahid.

Beberapa tahun sejak dirinya lahir, keluarganya hijrah ke Bukhara. Waktu itu, kota tersebut merupakan pusat perkembangan ilmu pengetahuan di Asia tengah. Belum mencapai usia akil baligh, Ibnu Sina sudah pandai membaca dan menghafalkan Alquran. Ia pun ketika itu telah menguasai tata bahasa Arab.

Oleh kedua orang tuanya, Ibnu Sina dimasukkan ke dalam madrasah yang mengajarkan logika dan matematika. Salah seorang ustaznya bernama Abu ‘Abdillah al-Natili, yang memperkenalkan kepadanya pemikiran Aristoteles, geometri Euclid, serta Almagest Ptolemy. Anak muda itu juga mulai belajar fisika dan kedokteran pada Abu Sahl al-Masihi.

Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam, Ibnu Sina tatkala berumur 16 tahun telah mahir berbagai ilmu. Hanya metafisika yang masih belum begitu dipahaminya. Namun, kendala itu dapat teratasi sejak dirinya membaca komentar al-Farabi atas gagasan-gagasan Aristoteles.

 
Saat berusia 17 tahun, Ibnu Sina menjadi salah seorang dokter pribadi amir Samaniyah, Nuh II
 
 

Sejak saat itu, lanjut Nasr, pemuda tersebut tidak perlu lagi belajar secara “meluas". Ia hanya perlu meningkatkan pemahaman secara mendalam atas apa-apa yang sudah dipelajarinya. Di masa tuanya, Ibnu Sina pernah menuturkan kepada muridnya, al-Juzjani, bahwa dalam seluruh masa kehidupannya, dirinya telah mempelajari tidak lebih dari disiplin-disiplin yang diketahuinya sebagai seorang remaja berumur 18 tahun.

Saat berusia 17 tahun, Ibnu Sina menjadi salah seorang dokter pribadi amir Samaniyah, Nuh II. Kira-kira empat tahun kemudian, ayahnya meninggal dunia. Pemuda tersebut lalu ditunjuk penguasa setempat untuk menggantikan bapaknya sebagai gubernur di Harmaitan.

Pada awal abad ke-11, Asia tengah mengalami pergolakan. Samaniyah diserang Dinasti Ghaznawiyah yang dipimpin Sultan Mahmud. Situasi yang tidak kondusif itu memaksa banyak ilmuwan setempat untuk pindah ke luar negeri. Ibnu Sina termasuk dalam kelompok intelektual yang hijrah itu.

Ia kemudian menetap di Jurjan (Georgia), yang saat itu merupakan wilayah Negeri Khwarazmi. Seorang menteri setempat yang juga pemerhati sains Yunani, Abu Husain as-Sahi, menerimanya dengan baik. Dengan perantaraan pejabat tersebut, Ibnu Sina kemudian diangkat menjadi ilmuwan di istana amir Khwarazmi, Ma’muniyah Abu al-Hasan.

Di sana, guru-gurunya juga bergabung sebagai peneliti. Sebut saja, Abu Sahl al-Masihi, matematikawan Abu Nashr Manshur, ahli medis Ibnu al-Khammar, dan filolog al-Tha’alibi.

photo
Hingga abad ke-18, The Canon karya Ibnu Sina masih menjadi rujukan di kampus-kampus benua Eropa. - (DOK WIKIPEDIA)

Setelah beberapa tahun bekerja di Jurjan, Ibnu Sina mulai tidak kerasan. Apalagi, beberapa sahabatnya telah meninggal dunia. Pada 1012 M, ia pindah ke daerah Khurasan. Beberapa kota, semisal Nasa, Abivard, dan Tus, di dataran Iran itu disambanginya. Menurut Nasr, Avicenna sesungguhnya ingin bertemu dengan seorang patron di Khurasan, yakni Qabus bin Wushngir. Sayangnya, orang yang hendak dijadikannya penyokong itu telah lama wafat sebelum dirinya sampai.

Karena kecewa, Ibnu Sina sempat mengasingkan diri di sebuah desa selama beberapa tahun. Pada masa itu, ia mulai menulis dua karya monumentalnya, yakni Al-Qanun fii al-Thibb dan Kitab asy-Syifaa. Pada 1015 M, ia memulai lagi perjalanan.

Kali ini, tujuannya adalah Ray, kota tempat berdirinya salah satu istana Bani Buwaihi. Kabilah yang berhaluan Syiah itu menguasai takhta Kekhalifahan Abbasiyah antara tahun 945 dan 1055 M.

photo
Kompleks makam Ibnu Sina di Hamadan, Iran. Ilmuwan yang disebut Avicenna oleh masyarakat Barat itu ahli terutama dalam bidang ilmu kedokteran dan filsafat. - (DOK WIKIPEDIA)

Tidak bermukim lama di Ray, ia pun beranjak ke Hamadan. Di sana, Syams ad-Daulah telah menunggunya. Kebetulan, amir Buwaihi tersebut sedang mengidap penyakit. Ibnu Sina pun merawatnya dengan baik. Karena itu, dokter asal Transoxiana tersebut kemudian diangkat menjadi wazir setempat.

Kala itu, debat terbuka menjadi tradisi bagi kaum cerdik cendekia Hamadan. Mereka meminta setiap sarjana yang datang dari luar daerahnya untuk tampil di muka umum dan menyampaikan gagasan-gagasan dalam pelbagai disiplin keilmuan. Kemudian, sarjana tersebut akan ditanya atau bahkan dikritik secara tajam. Arena itu bertujuan menguji reputasi dan keahlian yang-bersangkutan.

Dalam sebuah kesempatan orasi publik, Ibnu Sina dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Namun, seorang filsuf mazhab Baghdad, Abu Qasim al-Kirmani, terus menerus mengkritiknya. Debat antarkeduanya pun berlangsung panas. Ibnu Sina menuding Abu Qasim tidak memiliki pengetahuan yang memadai terkait logika. Adapun yang dituding beranggapan, ilmuwan-tamu itu tidak sopan dalam menyampaikan pendapat.

Setelah Syams ad-Daulah wafat pada 1021 M, keberuntungan Ibnu Sina di dunia politik kian memudar. Lawan-lawannya mulai menyebarkan fitnah tentangnya.

 
Dalam masa kurungan itu, dirinya menyelesaikan Kitab asy-Syifaa dengan cara menulis minimal 50 halaman per hari.
 
 

Amir yang baru, Sama’ ad-Daulah, menunjuknya sebagai perdana menteri lagi untuk periode kedua. Namun, tawaran itu ditolaknya. Ia pun dipenjara selama beberapa bulan. Dalam masa kurungan itu, dirinya menyelesaikan Kitab asy-Syifaa dengan cara menulis minimal 50 halaman per hari.

Sebelum menjadi tahanan politik, Ibnu Sina sempat berkorespondensi dengan seorang penguasa Bani Kakuyah, yakni Alauddaulah Muhammad. Amir yang menguasai Isfahan itu kemudian mengepung Hamadan selama empat bulan. Tidak kuasa menahan gempuran lawan, Sama’ ad-Daulah pun menyerah.

Dimulailah babak baru dalam kehidupan Ibnu Sina. Ia telah ditunggu kaum intelektual Isfahan. Sesampainya di kota tersebut, ia mengabdi pada pemerintahan Alauddaulah. Selama 15 tahun, periode yang relatif tenteram itu diisinya dengan menjadi pendidik.

Di samping mengajar para mahasiswa, dirinya pun menulis berbagai karya penting dan bahkan membangun sebuah observatorium. Beberapa buah penanya didedikasikan untuk sang raja. Sebut saja, Daneshnameh-ye Alai, buku pertama yang ditulis dalam bahasa Persia tentang logika, metafisika, dan sains alam.

Pada 1030 M, Ghaznawiyah menyerbu Isfahan. Penyerbuan itu dipimpin Sultan Mas’ud, putra Mahmud Ghazni. Akibat huru-hara itu, banyak naskah tulisan Ibnu Sina yang rusak atau musnah. Sementara itu, sarjana tersebut menyelamatkan diri ke Khuzistan, sekitar Iran barat daya.

 
Daneshnameh-ye Alai, buku pertama yang ditulis dalam bahasa Persia tentang logika, metafisika, dan sains alam.
 
 

Pada 1037 M, Ibnu Sina ikut dalam pasukan yang dibentuk Alauddaulah untuk melawan Ghaznawiyah. Pertempuran di antara kedua belah pihak terjadi di dekat Isfahan. Walaupun selamat dari serangan lawan, kesehatannya kian menurun. Sakit perut yang dideritanya dalam beberapa tahun terakhir terus kambuh.

Beberapa pekan kemudian, Ibnu Sina berangkat ke Hamadan. Tidak lama menetap, ilmuwan itu menghembuskan nafas terakhir pada  428 Hijriyah/1037 Masehi. Ia wafat dalam usia 56 tahun. Jenazahnya dikebumikan di kota tersebut.

Itulah riwayat hayat Ibnu Sina. Sang saintis melalui tahap demi tahap dalam kehidupannya yang diwarnai berbagai kemelut politik. Dinamika posisinya kadang berada di atas, tidak jarang pula di bawah. Menurut Nasr, ilmuwan tersebut paling sering bertindak sebagai seorang dokter bagi para bangsawan. Meskipun cenderung dekat pada lingkaran kekuasaan, hal itu tidak membuatnya lalai dari praksis seorang intelektual.

Terbukti, ada banyak karyanya yang merentang dalam berbagai kajian keilmuan. Selain itu, kualitas murid-muridnya juga cukup brilian sehingga menunjukkan kemampuan pedagogiknya.

“Ibnu Sina adalah sosok yang memiliki kekuatan fisik yang andal. Ia menghabiskan malam-malam yang panjang dalam pesta-pesta yang meriah, lalu kembali ke kamarnya untuk menulis risalah-risalah tentang berbagai persoalan filsafat dan ilmu pengetahuan,” tulis Nasr.

 
Ibnu Sina adalah sosok yang memiliki kekuatan fisik yang andal.
 
 

Nasr mengibaratkan filsuf Muslim tersebut sebagai seorang brilian yang dapat menjaga konsentrasinya sekalipun, misal, sedang menunggangi kuda menuju medan perang. Dengan tenang, Ibnu Sina dapat mendiktekan karya-karyanya kepada juru tulis dalam kondisi demikian. Tidak ada gangguan dunia eksternal yang tampak memengaruhi produk intelektualnya.

Ibnu Sina dengan piawai meletakkan dasar-dasar filsafat skolastik abad pertengahan. Ia pun melakukan sintesis atas tradisi kedokteran Hippokrates dan Galen. Pada akhirnya, banyak pemikirannya berpengaruh besar terhadap lahirnya Renaisans Eropa abad ke-15.

Nasr mengatakan, Ibnu Sina telah menulis sekitar 250 judul karya. Semua buah penanya itu membicarakan beragam ranah keilmuan, utamanya kedokteran dan filsafat.

Selain Al-Qanun fii al-Thibb dan Kitab asy-Syifaa, Ibnu Sina juga menghasilkan An-Najat, yakni edisi ringkas Asy-Syifaa; ’Uyun al-Hikmah (Sumber-sumber Kebijaksanaan); serta Al-Isyarat wa at-Tanbihat (Petunjuk-petunjuk dan Peringatan-peringatan).

Gagasan Filsafat Ibnu Sina

Ibnu SIna termasuk kalangan filsuf Muslim peripatetik dan pendukung teori emanasi.

SELENGKAPNYA

Siapkan Dana Kuliah Buah Hati

Mulai siapkan dana kuliah meski anak masih kecil.

SELENGKAPNYA

Masjid Raya Darussalam, Pusat Syiar Islam di Palangka Raya

Masjid Raya Darussalam memadukan unsur-unsur arsitektur modern, Arab, dan lokal.

SELENGKAPNYA