Pekerja mengecek mobil bekas di bursa mobil bekas, Blok M, Jakarta, Ahad (27/2/2022). | Republika/Thoudy Badai

Otomotif

Pasar Sekunder Belum Stabil

Penjual pun melakukan sejumlah strategi untuk bisa mendorong pasar.

JAKARTA -- Pasar mobil bekas atau pasar sekunder merupakan pasar yang sangat dinamis. Sektor ini sangat terpengaruh oleh sejumlah instrumen yang terkait dengan daya beli masyarakat.

Pemilik Jordy Mobil, Andi Supriadi, mengatakan, beberapa bulan lalu pasar mobil bekas sempat mengalami pertumbuhan. "Tapi, saat ini pasar kembali lesu. Mungkin terpengaruh oleh adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)," kata Andi kepada Republika, Selasa (13/9).

Meski demikian, dia meyakini, nantinya pasar bisa kembali pulih seiring mulai terbiasanya masyarakat dengan adanya kenaikan BBM tersebut. Apalagi, penurunan pasar mobil bekas yang terjadi akibat kenaikan harga BBM terbilang tak terlalu besar.

Hal itu pun membuatnya optimistis dalam waktu dekat pasar akan kembali normal. "Masyarakat sudah terbiasa dengan fluktuasi harga BBM. Sehingga, dampaknya terhadap pasar mobil bekas tidak terlalu besar," ujarnya.

Terlebih, saat ini sejumlah masyarakat yang memiliki keleluasaan finansial telah menerapkan budaya untuk memiliki mobil lebih dari satu. Artinya, masyarakat tersebut memiliki dua mobil atau lebih dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda.

 
 
Beberapa bulan ini, pasar kembali melemah. Kemungkinan, hal ini terjadi karena banyaknya promo yang ditawarkan untuk mobil baru. 
 
 

Menurutnya, ada masyarakat yang memiliki satu mobil kesayangan dengan mesin yang lebih boros. Sehingga, mobil itu hanya akan digunakan pada akhir pekan atau dalam keperluan tertentu. "Sedangkan, kendaraan yang digunakan untuk menunjang mobilitas sehari-hari adalah kendaraan dengan mesin yang lebih irit bahan bakar," ucap dia.

Budaya ini pun membuat sejumlah mobil irit menjadi primadona dalam pasar sekunder. Menurutnya, sejumlah city car irit yang paling diminati adalah Honda Jazz, Brio, Toyota Agya, Daihatsu Ayla, dan Nissan March. Sedangkan, di segmen mobil keluarga, incaran tertuju pada Suzuki Ertiga dan Mitsubishi Xpander.

Selain Jordy Mobil, fluktuasi pasar sekunder juga terjadi di Chelsea Mobil. Pemilik Chelsea Mobil, Teddy Suhartadi, mengatakan, penurunan pasar sudah terjadi sejak sebelum adanya kenaikan harga BBM.

"Beberapa bulan ini, pasar kembali melemah. Kemungkinan, hal ini terjadi karena banyaknya promo yang ditawarkan untuk mobil baru. Selain itu, pelemahan daya beli juga dipengaruhi oleh tahun ajaran baru sehingga masyarakat sedang memprioritaskan anggaran untuk pendidikan anak," kata Teddy kepada Republika.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by CARSOME Indonesia (@carsomeindonesia)

Penurunan itu pun diperparah oleh adanya kenaikan harga BBM yang otomatis berpengaruh terhadap daya beli beli masyarakat. Hal itu pun mendorongnya untuk melakukan sejumlah strategi agar bisa mendorong pasar.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan lebih banyak menyediakan alternatif kendaraan dengan harga yang terjangkau dan dengan konsumsi BBM yang lebih irit. "Semoga dalam sisa bulan sepanjang 2022 ini pasar bisa kembali pulih dan mencatat pertumbuhan dibanding tahun lalu," ujarnya.

Di tengah fluktuasi pasar sekunder, salah satu platform e-commerce mobil bekas bernama Carsome pun mencoba menghadirkan gebrakan lewat penawaran mobil bekas dengan kualitas prima. Co-founder and Group CEO of Carsome, Eric Cheng, mengatakan, hal itu diwujudkan dengan menghadirkan laboratorium bersertifikat yang disebut sebagai Carsome Certified Lab (CCL).

"CCL adalah fasilitas rekondisi mobil bekas. Lewat fasilitas ini maka masyarakat bisa memastikan untuk bisa memperoleh mobil bekas dengan kualitas terbaik," kata Eric Cheng dalam grand opening CCL di Cakung, Jakarta, pekan lalu.

Dengan fasilitas seluas 40 ribu meter persegi ini, setiap mobil yang dipasarkan dalam platform Carsome akan menjalani sejumlah tahapan demi bisa menjaga kualitas mobil bekas. Carsome telah menghadirkan CCL di sejumlah negara, seperti di Malaysia dan Thailand.

 
 
Lewat CCL, kami bisa melakukan perbaikan bagian mesin, bodi, sekaligus detailing sehingga masyarakat bisa menikmati mobil bekas dalam kondisi prima. 
 
 

Akan tetapi, fasilitas di Indonesia merupakan CCL terbesar di Asia Tenggara untuk bisa mengakomodasi besarnya potensi pasar di Tanah Air. "Fasilitas ini memiliki kemampuan untuk melakukan inspeksi kendaraan dan perbaikan secara menyeluruh. Dengan layanan ini, kami sekaligus ingin menghadirkan peace of mind bagi konsumen mobil bekas," ujarnya.

CEO Carsome Indonesia Andrew Mawikere mengatakan, fasilitas ini memiliki beragam fungsi yang komprehensif. "Lewat CCL, kami bisa melakukan perbaikan bagian mesin, bodi, sekaligus melakukan detailing sehingga masyarakat bisa menikmati mobil bekas dalam kondisi yang prima," kata Andrew Mawikere.

Untuk bisa mengakomodasi besarnya pasar Tanah Air, fasilitas ini memiliki kemampuan untuk melakukan pengerjaan perbaikan sekitar 2.000 hingga 4.000 mobil per bulan. Dengan dukungan sumber daya manusia (SDM) sekitar 200 orang, CCL bisa melakukan proses pengerjaan mobil dalam tiga hingga 12 hari tergantung kondisi dari masing-masing mobil bekas.

"Kehadiran fasilitas ini sekaligus jadi bukti bahwa pasar Indonesia merupakan pasar yang sangat penting. Bagi Carsome, Indonesia berkontribusi sekitar 25 persen dari total group revenue," ujarnya.

Sedia Saputangan Sebelum Hujan

Marsha mencoba menyelami bagaimana cara komunikasi pasangan suami istri yang sudah 11 tahun berjalan

SELENGKAPNYA

Pagar Aturan Penggunaan Kecerdasan Buatan

Berbagai aturan dasar dalam implementasi AI, dibuat untuk mencegah bias yang justru akan merugikan masyarakat.

SELENGKAPNYA