Azimat (Ilustrasi) | islam-institute.com

Fatwa

Bolehkah Memakai Azimat?

Apabila yang digantungkan itu berupa zikir kepada Allah SWT, larangan itu tidak berlaku.

Azimat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti barang (tulisan) yang dianggap mempunyai kesaktian dan dapat melindungi pemiliknya, digunakan sebagai penangkal penyakit dan sebagainya.

Bagaimana azimat dalam pandangan syariat? Bolehkah seorang Muslim menggunakan azimat? Pakar fikih yang juga Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, KH Musta'in Nasoha mengatakan, tindakan mengamalkan doa-doa, hizib, dan memakai azimat pada dasarnya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT agar dilindungi dari bahaya dan semua kejelekan.

"Jadi, sebenarnya, membaca hizib dan memakai azimat tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya," kata Kiai Musta'in kepada Republika, beberapa hari lalu.

 

 

Jadi, sebenarnya, membaca hizib dan memakai azimat tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT

 

KH Musta'in Nasoha
 

Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa. Allah niscaya akan mengabulkan doa hamba-Nya. Itu sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surah al-Mu'min ayat 60. Tentang kebolehan menggunakan azimat juga dapat ditemukan pada hadis Nabi Muhammad SAW.

Diriwayatkan dari Auf bin Malik al Asja'i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman jahiliyah, mereka selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu, mereka bertanya kepada Rasulullah, "Bagaimana pendapatmu, (ya Rasul), tentang hal itu. Rasul menjawab, 'Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan'." (HR Muslim nomor 4079).

Lebih lanjut Kiai Musta'in menjelaskan dalam kitab at-Thiban-Nabawi halaman 167 bahwa Imam Dzahabi menukil sebuah hadis dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur maka bacalah (bacaan yang artinya) 'Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan setan serta dari kedatangannya padaku."

 
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hambaNya, dari godaan setan serta dari kedatangannya padaku
 
Kitab at-Thiban-Nabawi halaman 167
 

Maka setan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut. Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anak-anaknya yang baligh.

Sedangkan bagi yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya. Dengan demikian, kata Kiai Musta'in, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam.

Kendati demikian, ada hadis yang secara tekstual mengindikasikan keharaman menggunakan azimat. Misalnya hadis yang diriwayatkan dari Abdullah, ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya hizib, azimat, dan pelet adalah perbuatan syirik'." (HR Ahmad nomor 3385).

Namun, menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani penulis Kitab Fathul Barri Syarah Sahih Bukhari, keharaman yang terdapat dalam hadis itu atau hadis yang lain adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Alquran atau yang semisalnya.

Apabila yang digantungkan itu berupa zikir kepada Allah SWT, larangan itu tidak berlaku. Sebab, hal itu digunakan untuk mendapatkan berkah serta meminta perlindungan dengan nama Allah SWT atau zikir kepada-Nya. Keterangan itu dapat ditemukan pada kitab Faidhul Qadir juz 6 halaman 180-181.

"Inilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib, serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat," kata Kiai Musta'in.

Imam al-Marruzi berkata, seorang perempuan mengadu kepada Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian, Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri basmalah, surah al-Fatihah, dan mu'awwidzatain (surah al-Falaq dan an-Nas).

Imam al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas bacaan basmalah, "bismillah wa billah wa Muhammad Rasulullah", dan surah al-Anbiya ayat 69-70.

Abu Dawud menceritakan bahwa dirinya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil. Begitu juga Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis surah Hud ayat 44 di dahi orang yang mimisan (mengeluarkan darah dari hidung).

 
Tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan
 
 

Namun, Kiai Musta'in mengatakan, tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan. Di antaranya yakni azimat harus menggunakan kalam Allah SWT, sifat Allah, asma Allah SWT, ataupun sabda Rasulullah SAW. Azimat ditulis menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.

Selain itu, tertanam keyakinan bahwa ruqyah yang dilakukan tidak dapat memberi pengaruh apa pun, tapi (hal yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT, sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.

Keterangan-keterangan tersebut dapat ditemukan pada kitab al-Ilaj bir Ruqa minal Kitab was Sunnah halaman 82-83. 

Benarkah Hawa Menyebabkan Adam Terusir dari Surga?

Sosok yang mendorong Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi adalah setan

SELENGKAPNYA

Bung Karno: Ambil Apinya, Tinggalkan Abunya

Sumbangan terbesar Bung Karno terhadap Islam di Indonesia adalah memacu orang Islam untuk tidak berpikiran beku.

SELENGKAPNYA

Indonesia tak Gentar Larang Ekspor Nikel

Pemerintah bertekad memanfaatkan semaksimal mungkin komoditas nikel untuk meningkatkan hilirisasi.

SELENGKAPNYA