Sejumlah penumpang menunggu kedatangan bus Transjakarta di Halte Transjakarta Tosari, Jakarta, Kamis (21/7/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Opini

Momentum Beralih Gaya Hidup

Membangun budaya baru naik transportasi publik, berjalan kaki di trotoar, hingga bersepeda.

NIRWONO JOGA, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

 

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sudah pasti menimbulkan berbagai kekhawatiran di masyarakat. Di satu sisi, ini akan menaikkan inflasi karena berimbas pada kebutuhan pokok.

Namun, apakah juga berdampak pada kesadaran masyarakat kemudian beralih gaya hidupnya, menyesuaikan dengan keadaan, beradaptasi di tengah kondisi ekonomi semakin sulit? Lalu, langkah apa yang harus dilakukan?

Pertama, pemerintah harusnya menggunakan kondisi kenaikan harga  BBM untuk mendorong Kementerian Perhubungan dan pemda (provinsi, kota/kabupaten) membangun dan mengembangkan sistem transportasi publik yang andal dan terintegrasi.

Harus diakui, belum banyak kota/kabupaten punya sistem transportasi publik cukup baik seperti Jakarta. Pengembangan transportasi publik harus menjadi tulang punggung arah pembangunan kota.

 
Harus diakui, belum banyak kota/kabupaten punya sistem transportasi publik cukup baik seperti Jakarta. 
 
 

Rencana pembangunan infrastruktur, perumahan dan permukiman, perkantoran, dan pusat perdagangan seyogiyanya mendekati jaringan transportasi publik sehingga memudahkan mobilitas warga dalam bekerja atau beraktivitas lainnya.

Selama sektor transportasi publik tak dibenahi serius, jangan berharap masyarakat mau beralih naik angkutan umum. Mereka akan tetap mengandalkan kendaraan pribadi untuk bepergian, meskipun harga BBM terus merangkak naik.

Kedua, kota harus dibangun ramah pejalan kaki. Maka pemda didorong membangun/menata/merevitalisasi trotoar sehingga aman dan nyaman dilalui pejalan kaki.

Trotoar menghubungkan kawasan perumahan/permukiman dan pusat kegiatan seperti sekolah, kantor, pasar, pusat perbelanjaan. Masyarakat diajarkan terbiasa berjalan kaki dalam jarak dekat di mana sebagian besar fasilitas kota dapat dicapai penghuni dalam 10 menit.

 
Trotoar menghubungkan kawasan perumahan/permukiman dan pusat kegiatan seperti sekolah, kantor, pasar, pusat perbelanjaan.
 
 

Trotoar dan infrastruktur pendukung (tempat penyeberangan: zebra cross, pelican crossing; jembatan penyeberangan orang) menghubungkan kawasan hunian ke terminal/stasiun/halte terdekat.

Trotoar dirancang bebas hambatan, permukaan rata dan tidak licin, tidak terpotong jalan keluar/masuk gedung, serta ramah gender dan disabilitas. Ketiga, untuk mendukung transportasi hijau, kota dapat menyediakan jalur sepeda dan infrastrukur pesepeda.

Tujuannya, mendorong warga bersepeda (sepeda sebagai alat transportasi) harian dalam jarak dekat-sedang. Anak-anak sekolah harus mulai dibiasakan kembali bersepeda untuk berangkat/pulang ke/dari sekolah.

Kota sedang-kecil dan lokasi sekolah yang tidak jauh dari rumah siswa bisa mengembangkan kawasan sekolah ramah sepeda.

 
Kota sedang-kecil dan lokasi sekolah yang tidak jauh dari rumah siswa bisa mengembangkan kawasan sekolah ramah sepeda.
 
 

Transportasi publik (bus, kereta api) juga bisa mengakomodasi untuk mengangkut sepeda, diutamakan sepeda lipat agar tidak memakan ruang di dalam angkutan sehingga warga dapat melanjutkan perjalanan di pusat kota dengan bersepeda.

Di luar negeri, alat olahraga beroda (sepatu roda, skateboard, skuter) mulai dilirik jadi alat transportasi individu di kota-kota besar seperti New York, Chicago, Los Angeles, London, Paris, Tokyo yang padat lalu lintas karena bergerak lincah menembus kemacetan kota.

Keempat, pemerintah kota/kabupaten didorong mengembangkan kawasan rendah emisi yang bebas kendaraan bermotor di pusat kegiatan seperti kawasan perkantoran, pasar modern/pusat perbelanjaan, tempat wisata, central business district.

Pemerintah DKI Jakarta tengah merevitalisasi Kota Tua sebagai kawasan rendah emisi, yang dapat diikuti ke kawasan Ancol, Gelora Bung Karno Senayan, Menteng, Kebayoran Baru, Kemang, Kemayoran.

 
Di luar negeri, alat olahraga beroda (sepatu roda, skateboard, skuter) mulai dilirik jadi alat transportasi individu di kota-kota besar.
 
 

Kota Bandung, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Medan, Padang, Makassar bisa mengembangkan kawasan kota tuanya menjadi kawasan rendah emisi.

Keberhasilan pengembangan kawasan rendah emisi mensyaratkan dukungan sistem transportasi publik beragam dan terintegrasi, jaringan sirkulasi pejalan kaki terpadu, infrastruktur pesepeda yang memadai, bangunan gedung hijau, serta budaya berjalan kaki.

Kelima, di tengah kondisi masih pandemi Covid-19 dan pengalaman selama pandemi 2,5 tahun terakhir, ada baiknya sistem kerja juga sekolah dari rumah diterapkan kembali secara bergantian sehingga warga bisa mengurangi mobilitas dan biaya transportasi.

Apalagi sistem kerja dari rumah/mana saja (work from home/anywhere) tengah disukai kelompok pekerja muda dan kantor/ruang kerja kreatif. Pada akhirnya, masyarakat harus cerdas menyikapi kenaikan harga BBM saat ini dan waktu mendatang.

Mereka harus berani beralih ke gaya hidup lebih hemat, sehat, efisien, efektif, dan ramah lingkungan. Membangun budaya baru naik transportasi publik, berjalan kaki di trotoar, hingga bersepeda adalah upaya bijak beradaptasi di tengah kondisi dunia yang tak pasti.

Engkong Yusuf, Pejuang dan Guru Spiritual Sukarno

Tongkat komando pertama yang dipegang Sukarno disebut berasal dari pemberian Syekh Yusuf.

SELENGKAPNYA

RUU Sisdiknas Kental Perubahan?

Masukan sebagai bentuk pelibatan publik yang bermakna sesuai UU sangat diperlukan.

SELENGKAPNYA

Percepat Transisi Kendaraan Listrik

Pemerintah perlu mendorong bank, terutama bank BUMN mempermudah pinjaman pembelian mobil listrik.

SELENGKAPNYA