IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Salahkah Dilahirkan Sebagai Orang Palestina?

Menurut PBB, lebih dari 1.700 rumah hancur di Gaza selama eskalasi konflik.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Ibu muda Palestina ini, Hala al-Shaer, tak punya firasat buruk saat membawa anak-anaknya pergi ke sebuah pantai di Gaza, Palestina, sekitar awal Agustus lalu.

Putrinya, Lian al-Shaer (9 tahun), meminta bermain di pasir, menikmati ombak memecah pantai. Tatkala keluarga itu menuju pantai dengan Tuk Tuk — menyerupai Bajaj — militer Israel mengebom sebuah bangunan di Gaza, tepat saat kendaraan itu lewat di depannya.

Sebuah pecahan bom Israel mengenai leher Lian. Ia tersungkur, jatuh ke tanah, basah oleh darahnya sendiri. Perempuan kecil ini lantas dibawa ke rumah sakit di Yerusalem, tetapi lukanya parah, sepekan kemudian ia meninggal dunia.

“Saya putus asa,” tutur Hala kepada media BBC Arabic. “Saya seharusnya kuat, saya ibu seorang martir. Namun, perang yang saya saksikan berdampak besar pada saya dan keluarga. Semua ini membuat saya benci tinggal di Gaza.”

 
Sebuah pecahan bom Israel mengenai leher Lian. Ia tersungkur, jatuh ke tanah, basah oleh darahnya sendiri.
 
 

Kerumunan besar pelayat mengiringi jenazahnya. Mereka mengibarkan bendera faksi-faksi Palestina, yang disertai tembakan ke udara.

Ketika ditanya, apakah kematian putrinya akan membawa perubahan? Hala mengatakan, “Tidak, saya rasa tidak.” Menurut dia, banyak anak-anak dibunuh sebelum putrinya dan tidak ada perubahan. Pemakaman Lian diperlakukan layaknya syahid.

Di kamp Jabaliya, lima kuburan kecil juga tampak baru saja diuruk. Ledakan rudal Israel merenggut nyawa mereka saat sedang bermain di pemakaman. Beberapa jam setelah ledakan di pemakaman, sebuah video klip menyebar di TikTok.

Tampak Khalil al-Kahlout berlari mencari anak-anaknya, saat mayat-mayat mereka ditarik keluar. Ia berteriak marah sambil memukul dadanya, di sebelahnya seorang temannya merekam adegan itu.

“Semua ini demi Jihad Islami. Mereka ingin membebaskan Bassem al-Saadi, tapi harus mengorbankan darah anak-anak kita yang masih kecil,” teriak Khalil. Al-Saadi adalah pemimpin Jihad Islami, yang ditangkap pasukan Israel di Tepi Barat beberapa hari sebelumnya.

 
Jihad Islami, salah satu faksi bersenjata paling keras di Palestina. Penangkapan memicu eskalasi terbaru serangan Israel ke Gaza.
 
 

Jihad Islami, salah satu faksi bersenjata paling keras di Palestina. Penangkapan memicu eskalasi terbaru serangan Israel ke Gaza. Diawali serangan ke sebuah bangunan di Jalur Gaza, yang dikatakan Israel sebagai markas Jihad Islami.

Serangan itu, kata militer negara apartheid itu, respons atas ancaman Jihad Islami. Eskalasi terjadi setelah berhari-hari ketegangan, menyusul penangkapan Basem al-Saadi. Dan, tak seperti biasanya, video Khalil di internet kali ini mendapat ‘like’ dari warga Palestina, mencapai ribuan.

Sangat jarang warga di Gaza mengkritik kelompok bersenjata Palestina secara terbuka. “Orang-orang menyukai video itu karena mewakili perasaan banyak orang (di Gaza). Mereka tak mau perang, tak menginginkan kematian, dan tak ingin anak-anak terbunuh,” kata Khalil.

Israel memulai serangannya ke Gaza, 5 Agustus lalu, berdasarkan informasi bahwa Jihad Islami berencana untuk meluncurkan serangan baru terhadap negara Zionis itu. Dalam serangannya di Gaza, pasukan Israel membunuh dua pemimpin terkemuka gerakan tersebut.

 
Israel memulai serangannya ke Gaza, 5 Agustus lalu, berdasarkan informasi bahwa Jihad Islami berencana meluncurkan serangan baru terhadap negara Zionis itu.
 
 

Selama akhir pekan berikutnya, sekitar 1.000 roket Palestina ditembakkan ke Israel. Sejumlah warga Israel terluka ringan, menurut sumber-sumber Israel. Yang jadi persoalan, dampak setiap eskalasi konflik pada warga Gaza jauh melampaui sekadar kematian dan cedera.

Samir, warga Gaza, menceritakan, tentara Israel memanggilnya, menyuruhnya mengumpulkan para tetangganya meninggalkan rumah mereka. Israel meminta Samir agar daerah di sekitar rumahnya dikosongkan karena tentara akan menyerang lokasi itu.

Saat mereka menuju pantai, terdengar suara bom dijatuhkan dan meledak. Ketika kembali, sebagian besar rumah menjadi puing. “Kami menderita sakit psikologis, kami menginginkan perdamaian, kami tak menginginkan perang.”

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari 1.700 rumah hancur di Gaza selama eskalasi konflik.

Gaza, diperintah Hamas sejak 2006, didiami penduduk yang rata-rata muda, sebagian besar remaja dan anak-anak. Bagi mereka, kehidupan adalah konflik, kekerasan, dan kematian. Mari dengar penuturan Bisan Abdul Salam, mahasiswi akhir fakultas teknik, kepada BBC Arabic.

 
Menurut PBB, lebih dari 1.700 rumah hancur di Gaza selama eskalasi konflik.
 
 

Seperti kebanyakan anak muda, Bisan pergi ke pantai di pengujung hari, minum jus, menikmati matahari tenggelam.

Namun, hatinya galau memikirkan masa depannya. “Sulit membayangkan seperti apa hidup kami. Banyak dari kami sulit tidur. Kami kehilangan ayah, ibu, atau saudara-saudara kami,” ujar Bisan.

“Mengapa kami tak bisa hidup seperti orang-orang di luar Gaza. Kami menyaksikan orang-orang di Youtube, hidup bahagia dan melakukan hal-hal baik. Kami berharap pendudukan Israel segera berakhir sehingga kami bisa hidup seperti mereka,” ujar Bisan.

Orang-orang seperti Bisan, Hala al-Shaer, Khalil al-Kahlout, dan warga Gaza umumnya mungkin bertanya-tanya, apa salah mereka terlahir sebagai orang Palestina?

Jawabannya tentu terpulang pada pemimpin Israel dan Palestina. Juga masyarakat internasional untuk memaksa Israel mengakhiri penjajahan, dengan solusi dua negara — Israel dan Palestina — yang hidup berdampingan secara damai.

Heliosentris dan Geosentris, Antara al-Thusi dan Copernicus

Buah pemikiran para Muslim astronom menginspirasi hingga era Renaisans Eropa.

SELENGKAPNYA

Astronomi dan Jejak Islam, Heliosentris Vs Geosentris

Dalam beberapa segi, ilmuwan Islam-lah yang membuka jalan bagi astronomi modern.

SELENGKAPNYA

Cut Nyak Meutia: Keberanian Mujahidah dari Serambi Makkah

Cut Nyak Meutia telah meniupkan semangat juang bagi kaumnya.

SELENGKAPNYA