Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Nostalgia

Bioskop di Jakarta Sepi Saat Jerman Serbu Belanda

Warga di berbagai tempat di Jakarta akhirnya percaya bahwa Jerman sudah menyerbu Belanda.

 

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Kabar itu semula tak dipercayai warga Jakarta, ketika orang-orang ada yang memulai berkata, “Perang... Perang....” Itu bukan perang kemerdekaan Indonesia, bangsa Indonesia melawan Belanda atau Sekutu, bukan. Itu adalah perang Belanda dengan Jerman. 

Dari tidak percaya, lama-lama orang-orang di berbagai tempat di Jakarta akhirnya percaya juga bahwa Jerman sudah menyerbu Belanda. Puncak dari kabar itu adalah informasi Ratu Belanda mengungsi ke London pada 10 Mei 1940 akibat dari serangan Jerman itu.

Pemerintah kolonial di Indonesia pun segera bertindak. Polisi menangkapi orang Jerman. Stasiun Gambir pun kemudian dipenuhi orang-orang Jerman yang sudah ditangkap polisi. Penangkapan ternyata juga dilakukan di Bogor, Bandung, Semarang, dan kota-kota lainnya.

 
Pemerintah kolonial di Indonesia pun segera bertindak. Polisi menangkapi orang Jerman. Stasiun Gambir pun kemudian dipenuhi orang-orang Jerman yang sudah ditangkap polisi.
 
 

Kesibukan di Jakarta pun bertambah. Orang-orang Belanda mengantre untuk bicara dengan keluarga di Belanda melalui sambungan telepon di kantor telekomunikasi. Ada ratusan orang yang meminta sambungan telepon dalam sehari.

Petugas telekomunikasi terus bekerja agar sambungan telepon Jakarta-Belanda bisa terhubung, tapi tidak menyampaikan kepastian mengenai waktu bisanya tersambung dengan mereka.

Ramai di kantor telekomunikasi, sepi di gedung-gedung bioskop. Itulah yang terjadi. Yang menonton hanya 10-20 orang. Kondisi yang tak pernah terjadi sebelum-sebelumnya yang selalu padat penonton.

Ketika Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Instituut Journalistiek mengadakan pertunjukan amal pada 8 Maret 1940, penonton cukup ramai. Pertunjukan yang menampilkan grup ketoprak Darmo Komdo itu digelar untuk mendukung pendanaan Kongres Persatoean Djoernalis Indonesia (Perdi) yang akan diadakan pada Agustus 1940 di Jakarta untuk memilih ketua baru menggantikan Tabrani.

Tanjung Priok juga ramai. Mereka yang mendatangi Priok ingin melihat pengangkutan orang-orang Jerman ke Pulau Onrust. Tapi, mereka kecewa karena tak bisa masuk pelabuhan. Orang Jerman yang menjadi penumpang di tiga kapal yang sedang melabuh di Priok juga diturunkan untuk dibawa ke kantor Imigrasi, lalu dikirim ke Pulau Onrust.

 
Tanjung Priok juga ramai. Mereka yang mendatangi Priok ingin melihat pengangkutan orang-orang Jerman ke Pulau Onrust.
 
 

Polisi pun sibuk mengawasi isi berita koran-koran. Pasal 11 Staatsblad Nomor 582 Tahun 1939 dipakai sebagai panduan. Pasal ini melarang pemberitaan yang membuat munculnya kegaduhan pikiran dan menyebabkan kekhawatiran.

Untuk mencegah menyebarnya isu yang memunculkan kekhawatiran, warga dilarang menelepon untuk hal-hal yang tak perlu. Pertemuan-pertemuan umum dan pertemuan-pertemuan tertutup kemudian juga dilarang dengan alasan demi menjaga keamanan.

Mulai 11 Mei 1940, surat-surat pos, telegram, dan berita telepon yang datang dan yang akan dikirim, isinya diperiksa terlebih dahulu oleh polisi. Penerimaan siaran radio di bioskop, rumah kopo, di pabrik, di bengkel, di ruangan-ruangan untuk perjalanan umum, dan lainnya, hanya dibolehkan jika sumbernya dari Nederlandsch-Indische Radio-Oemroepstation (Nirom) yang sudah diberi tanda register.

Sebelum Jerman menyerbu Belanda, perang di Eropa sudah muncul sejak awal September 1939, ketika Jerman menyerang Polandia. Pada awal April 1940, seperti disebut Pemandangan edisi 3 April 1940, Sukarno menyebut perang di Eropa pecah bukan karena persoalan ideologi, fasisme melawan demokrasi, melainkan karena kebutuhan mentah melawan kebutuhan mentah.

 
Sukarno menyebut perang di Eropa pecah bukan karena persoalan ideologi, fasisme melawan demokrasi, melainkan karena kebutuhan mentah melawan kebutuhan mentah.
 
 

Sejak April 1940 itu pula, berita-berita dari kantor berita asing yang dikirim ke Indonesia dianggap Tabrani sebagai berita yang kacau. Kantor berita yang dikutip oleh pers di Indonesia biasanya adalah ANP (Belanda), Reuters (Inggris), Havas (Prancis), Transocean (Jerman), Domei (Jepang), CAN (Cina), dan United Press (Amerika).

Namun, A NP dan Transocean tidak sesering kantor berita lain dalam mengirimkan kabar. Sekutu (Inggris-Prancis) memang menyensor berita-berita dari Eropa. Alhasil, berita-berita yang tiba di Indonesia adalah berita-berita yang memihak Inggris.

Saat perang Eropa ini pecah, di Indonesia sedang muncul gerakan Indonesia Berparlemen. Maka, tuntutan itu makin kencang ketika Belanda diduduki Jerman. Bagaimana nasib Indonesia, ketika Kerajaan Belanda dianggap tidak bisa lagi mengontrol Indonesia akibat Ratu Belanda beserta pemerintahannya mengungsi ke London?

Indonesia harus segera memiliki pemerintahan sendiri daripada nanti dipimpin oleh negara asing lagi setelah Belanda lemah karena negaranya dikuasai Jerman. Itulah yang didesak oleh gerakan Indonesia Berparlemen. Tabrani bersama Pemandangan dan Perdi ikut aktif dalam gerakan ini. Para tokoh sering berkumpul di kantor Pemandangan.

 
Indonesia harus segera memiliki pemerintahan sendiri daripada nanti dipimpin oleh negara asing lagi setelah Belanda lemah karena negaranya dikuasai Jerman.
 
 

Penggalangan dana perang di Indonesia pun gencar digalakkan. Saat Jerman menyerang Belanda, grup tonil stambul Miss Riboet sedang berpentas di Kediri. Mereka kemudian mengadakan pentas khusus yang hasil penjualan tiketnya disumbangkan untuk mendukung perang Belanda. Terkumpul 1.176,3 gulden.

Pemandangan menulis berita utama dengan judul “Sumbangan Indonesia” pada 16 Mei 1940. Berita inilah yang membuat Pemandangan diberedel selama sepekan sejak 17 Mei 1940.

Isi “Sumbangan Indonesia” itu bukan soal bantuan dana perang. Yang dimaksud sumbangan Indonesia di tulisan itu; untuk meringankan beban Belanda akibat perang, Indonesia bisa membantu dengan tindakan segera membentuk pemerintahan sendiri.

Jaringan Ulama Penyulut Api Perlawanan Kolonial

Melalui jaringan ulama Indonesia itulah api perlawanan terhadap kolonial semakin besar dinyalakan.

SELENGKAPNYA

Teungku Fakinah: Perempuan, Ulama, dan Panglima

Teungku Fakinah membuat kampanye perang kepada para wanita setelah suaminya gugur dalam perang.

SELENGKAPNYA

Staadhuis, Sebuah Ladang Pembantaian

Staadhuis atau Gedung Balai Kota Batavia ini menyimpan sejarah paling buram bagi Kota Jakarta.

SELENGKAPNYA