vp,,rm
ILUSTRASI Lambang Taifa Granada pada relief dinding Istana Alhambra. Granada merupakan kerajaan Islam yang terakhir bertahan di Spanyol. | dok wikipedia

Tema Utama

Teror Itu Bernama Reconquista

Sejak akhir abad ke-15, kaum Salibis ekstrem melakukan penindasan terhadap Muslimin Andalusia.

OLEH HASANUL RIZQA

Jatuhnya Emirat atau Taifa Granada pada 1492 membuka babak baru bagi sejarah Islam di Spanyol atau Benua Eropa pada umumnya. Sayangnya, fase itu adalah kedukaan yang menimbulkan trauma.

Sebelum Granada, sejumlah negeri Islam di Andalusia telah runtuh: Toledo (1085), Kordoba (1236), dan Sevilla (1248). Ironisnya, kejatuhan setiap taifa itu selalu didahului dengan adanya konflik internal di tataran elite Muslim setempat. Motifnya adalah perebutan kekuasaan yang membuka peluang bagi masuknya pengaruh musuh.

Tahun 1492 sering kali ditandai sebagai mulanya penguasaan kembali Kristen atas tanah Hispania (Reconquista). Bagaimanapun, intimidasi yang dilakukan Salibis sudah dilakukan jauh sebelum itu. Sesudah menaklukkan taifa-taifa, semua kerajaan Nasrani memaksa kaum Muslimin setempat dengan kekerasan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Mereka dipaksa untuk murtad dan memeluk agama Kristen. Yang tidak mau, maka akan diusir ke seberang lautan, semisal Afrika utara, Sisilia, atau Anatolia. Kebebasan mereka sebagai warga yang merdeka benar-benar dibatasi sejak negerinya dikuasai Salibis.

Ya, Reconquista tidak sekadar berarti direbutnya kembali tanah Hispania dari tangan kaum Muslimin oleh kelompok Kristen. Dengan sistematis, segala bentuk pengaruh Islam hendak dihapuskan. Jejak-jejak pencapaian kaum Muslimin di bidang politik, sosial, dan kultur masyarakat Semenanjung Iberia terus digerus.

Reconquista pun tidak hanya sebatas perang dan penaklukan, tetapi juga repopulasi secara besar-besaran. Berbagai wilayah taifa yang direbut dari tangan raja-raja Muslim lantas ditempati umat Nasrani. Raja-raja Kristen di Eropa mengambil orang-orang mereka sendiri untuk ditempatkan di berbagai lokasi di Iberia sejak abad kesembilan.

Dengan demikian, wajah demografis Andalusia perlahan-lahan berubah sama sekali. Para penguasa Kristen bervisi menjadikan Iberia sebagai negeri satu agama. Homogenisasi seperti itu sangat bertolak belakang dengan corak budaya dan sosial setempat ketika masih dikuasai Islam.

 
Para penguasa Kristen bervisi menjadikan Iberia sebagai negeri satu agama.
 
 

Sejak dikuasai Bani Umayyah, Andalusia menerima dengan tangan terbuka komunitas-komunitas non-Muslim. Bahkan, kaum Yahudi, misalnya, mencapai puncak peradaban saat menjadi warga Andalusia.

Bersama-sama, unsur Islam, Kristen, dan Yahudi membangun kemajuan Iberia di bawah bendera kekhalifahan. Hal itu dengan catatan, orang-orang non-Islam mesti membayar pajak (jizyah). Jika mereka tidak bersedia membayar pajak, maka hukumannya adalah dipenjara.

Kebijakan pajak sesungguhnya diteruskan oleh kerajaan-kerajaan Kristen begitu mereka menguasai Andalusia. Akan tetapi, polanya begitu serampangan dan jelas sekali didasari dendam, alih-alih keadilan. Orang-orang non-Nasrani dibebani kewajiban pajak yang sangat besar. Kalau tidak mau ataupun tidak mampu membayarnya, warga tersebut akan diusir dari daerah tempat tinggalnya.

Praktis, pemerintahan Salibis ini tidak ubahnya teror bagi komunitas Muslim dan Yahudi. Reconquista menyebabkan mereka tercerabut dari kebebasan dan hak-hak sipil.

Banyak kasus pengusiran terjadi. Ambil contoh, pada 30 Juli 1492, sekitar 200 ribu umat Yahudi diusir secara paksa oleh Raja Ferdinand Aragon. Pada tahun berikutnya, Uskup Agung Hernando de Talavera memaksa penduduk Muslim Granada untuk memeluk Katolik. Jika tidak mau berpindah keyakinan, maka mereka akan diusir dari Iberia.

Ignacio Tofino-Quesada dalam karyanya, Censorship and Book Production in Spain During the Age of the Incunabula menjelaskan, baik Ferdinand maupun Isabella bertanggung jawab dalam fenomena Reconquista.

Pada 1502, ratu tersebut menetapkan aturan bahwa seluruh umat non-Kristiani yang berada di wilayah Kerajaan Kastilia wajib mengganti agamanya menjadi Katolik. “Kebijakan serupa juga diterapkan oleh Raja Charles V terhadap umat Islam yang bermukim di wilayah Kerajaan Aragon pada 1526,” ungkap Ignacio.

 
Raja Philip III dari Spanyol mengusir 300 ribu Muslim Andalusia antara 1610 dan 1614 lewat titah yang ia keluarkan pada 22 September di 1609.
 
 

Menurut catatan sejarah, Raja Philip III dari Spanyol mengusir 300 ribu Muslim Andalusia antara 1610 dan 1614 lewat titah yang ia keluarkan pada 22 September di 1609. Melalui praktik tersebut, rezim Salibis berusaha melenyapkan semua jejak peradaban Islam yang nyata-nyata telah banyak memberikan kontribusi dalam proses pencerahan Eropa.

Waktu menjadi tidak lagi sama bagi kaum Muslimin Andalusia. Sejak Reconquista diberlakukan, yang sangat efektif semenjak jatuhnya Granada, perayaan hari-hari besar Islam dihapuskan dari kalender nasional. Tidak ada lagi keramaian Idul Fitri atau Idul Adha di pusat-pusat kota.

Sebaliknya, tanggal tumbangnya Emirat Granada yakni 2 Januari diperingati secara besar-besaran. Bahkan, hingga kini perayaan tahunan itu masih digelar secara rutin dalam bentuk Dia de la Toma de Granada. Pawai dan arak-arakan diadakan dengan meriah, seolah-olah itulah momen gembira yang patut dikenang.

Tentu saja, Dia de la Toma hanya akan melukai hati kaum Muslimin Spanyol, khususnya di Granada. Pasalnya, perayaan tersebut seolah-olah menyiratkan Islam sebagai “makhluk” yang tidak boleh lagi muncul di daratan Hispania, bahkan dalam bentuk apa pun.

“Dewan Islam Granada berusaha melobi otoritas kota setempat untuk menghentikan perayaan Dia de la Toma. Namun, hingga saat ini permintaan tersebut belum lagi dikabulkan,” ungkap Craig S Smith dalam artikelnya, “Granada Journal: Where the Moors Held Sway, Allah Is Praised Again".

Minta bantuan

Mengalami penindasan demikian, sebagian kaum Muslimin Andalusia tidak tinggal diam. Berbagai perlawanan pun bergelora di kota-kota di Spanyol. Akan tetapi, rezim Salibis terus menekan dan mengintimidasi mereka.

Karena itu, sejumlah tokoh Muslim Andalusia berinisiatif mengirimkan surat kepada raja-raja Islam di luar Iberia. Mereka mengirimkan utusan dan surat kepada sejumlah sultan dengan harapan, para penguasa yang seiman itu dapat menyelamatkan penduduk Andalusia dari kezaliman raja dan ratu Katolik yang ekstrem. Pengiriman duta tersebut menimbulkan kehebohan di dunia Islam.

Tak sedikit pemimpin Muslim yang segera menyampaikan pesan kepada paus di Roma. Petinggi Katolik itu diingatkan, kaum Nasrani di bawah pemerintahan Islam telah dan selalu dilindungi kebebasannya dalam beragama dan muamalah.

 
Petinggi Katolik itu diingatkan, kaum Nasrani di bawah pemerintahan Islam telah dan selalu dilindungi kebebasannya dalam beragama dan muamalah.
 
 

Maka dari itu, mengapa orang-orang Islam di Iberia menerima kezaliman yang luar biasa? Mendapatkan protes, paus kala itu tampak acuh tak acuh. Spanyol seperti dibiarkan untuk membersihkan unsur-unsur Islam dari negerinya.

Salah satu tumpuan harapan ketika itu adalah Turki Utsmaniyah. Walaupun belum menyandang titel kekhalifahan, kerajaan Islam yang berpusat di Anatolia itu tetap dikirimkan surat oleh tokoh-tokoh Muslim Andalusia.

Korespondensi antara mereka dan Sultan Beyezid II terdokumentasikan. Isinya antara lain sebagai berikut, seperti dikutip sejarawan Ali Muhammad ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (2003):

“Semoga Allah memanjangkan umur kerajaan dan hidup Tuan. Semoga Dia menolongmu dengan kemenangan atas musuh, dan menempatkanmu di tempat yang diridhai dan dimuliakan. Kami adukan kepada Tuan semua yang kami alami dan rasakan.

photo
Sultan Beyezid II. Kebijakannya menyelamatkan tidak hanya Muslimin, tetapi juga kaum Yahudi dari persekusi di Andalusia (Spanyol) yang sudah jatuh ke tangan ekstremis Salibis dalam peristiwa Reconquista. - (DOK WIKIPEDIA)

Dalam surat yang sama, mereka juga mengeluhkan hasil diplomasi yang dilakukan dengan Dinasti Mamluk. Kerajaan Islam yang berpusat di Mesir itu memang telah merespons surat penduduk Muslim Andalusia terkait tragedi Reconquista. Namun, tidak terasa dampak yang signifikan.

Sebagai langkah awal, Beyezid II menginisiasi kesepakatan dengan Mamluk untuk menyatukan kekuatan. Dalam perjanjian tersebut, Sultan Turki menyanggupi pengiriman armada laut ke Sisilia yang berada di bawah kekuasaan Spanyol. Adapun Mamluk berkewajiban menyerang Spanyol dari Afrika Utara.

Dalam hal ini, Beyezid II mengandalkan kepemimpinan pasukannya kepada Laksamana Kamal Reis, pelaut yang masyhur di seluruh Mediterania sebagai ahli strategi yang brilian. Namun, angkatan laut Utsmaniyah akhirnya mesti menghadapi gabungan dari tiga kekuatan sekaligus, yakni Spanyol, Prancis, dan Venesia ketika berlayar di Teluk Lapanto pada 1499. Pertempuran tersebut berakhir dengan gencatan senjata antara kedua belah pihak.

Reconquista tidak hanya dilakukan Aragon Kastilla, tetapi juga Portugis. Kerajaan yang terletak di sisi barat Iberia itu semakin agresif menyerang Muslimin terutama sejak dipimpin Pangeran Henrique O Navegador. Pasukannya telah merangsek hingga ke Ceuta, Maghribiyah, pada 1450-an.

Ketika Abad Eksplorasi berlangsung pada 1600-an, Spanyol dan Portugis memang bersaing satu sama lain. Namun, keduanya menganggap Utsmaniyah sebagai musuh bersama. Mereka pun sama-sama menganggap kewajiban untuk menyebarkan agama Kristen di negeri-negeri Muslim yang dijumpai, terutama di Asia.

 

photo
Peta kawasan Semenanjung Iberia pada abad ke-15. Pada 1492, Granada tumbang di tangan koalisi kerajaan-kerajaan Kristen. - (DOK WIKI)

Ibrah dari Jatuhnya Andalusia

Dr Abdul Halim Uwais dalam buku Dirasatu Lisuquti Tsalatsina Daulah Islamiyah (1982) mengingatkan khalayak Muslim untuk mengambil ibrah dari peristiwa jatuhnya Andalusia. Bagaimana riwayat peradaban Islam di Semenanjung Iberia yang menyinari Eropa selama ratusan tahun tuntas dengan begitu “keras". Umat Islam bukan hanya terusir dari negerinya sendiri, tetapi juga dipaksa berpindah keyakinan.

Tentunya, dalam kehidupan ini siklus bangun-jatuh selalu terjadi. Seperti kata pepatah, hidup bagaikan roda yang berputar. Bagaimanapun, sejarah juga mencatat bahwa di antara faktor-faktor yang melemahkan umat Islam Andalusia adalah perpecahan di internal kaum Muslimin sendiri.

Abdul Halim mengibaratkan kemajuan Andalusia pada masa keemasan sebagai akumulasi nikmat dari Allah SWT. Kaum Muslimin kala itu ditopang keimanan, ketakwaan, serta keeratan silaturahim. Di samping itu, semangat amar ma'ruf nahi munkar juga masih kuat dan terjaga. Maka jadilah Andalusia sebuah Darus Salam, negeri yang makmur sentosa.

Di pengujung abad ke-13, wujudnya berangsur-angsur menjadi Darul Bawaar atau Negeri Kebinasaan. Kelompok non-Muslim yang ekstrem memaksakan kehendaknya pada umat yang tinggal di taifa-taifa taklukan.

photo
ILUSTRASI Salah satu sisi Istana Alhambra di Granada. Runtuhnya Taifa Granada membuka jalan bagi meletusnya peristiwa Reconquista. - (DOK WIKI)

Hanya Granada yang tetap bertahan selama kira-kira 200 tahun. Akan tetapi, keadaannya bagaikan gabus yang terapung-apung di tengah gelombang pasang, dikeliling karang-karang terjal. Di satu sisi, emirat tersebut mampu menggantikan peranan taifa-taifa lain yang sudah tumbang duluan.

“Jika Kordoba melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Ibnu Hazm, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Bajah, maka Granada memunculkan pula para ahli ilmu. Sebut saja, Ibnu Zamrak (sastra), Ibnu Huzail Hakim (filsafat), dan Abu Ishak asy Satibi, penulis Al Muwafaqat,” tulis Wawang F Ratnawulan dalam “Granada, Benteng Terakhir Umat Islam Andalusia".

photo
Salah satu taman di kompleks Istana Alhambra - (DOK Wikipedia)

Yang tersisa dari kejayaan Islam di Andalusia, termasuk Granada, adalah peninggalan fisik, seperti seni arsitektur. Itupun dengan catatan, tidak sedikit bangunan masjid yang berubah fungsi menjadi gereja.

Di kota itu, terdapat Istana Alhamra, jejak kekuasaan Bani Nashr yang tampak anggun, seperti imun dari terjangan waktu.

Bangunan yang secara harfiah berarti “merah” itu menjadi saksi bisu atas tumbuh dan runtuhnya daulah kekhalifahan di Eropa. Keberadaannya menyiratkan secercah optimisme: mungkinkah Islam kembali berjaya di Benua Biru?

Titik Nadir Andalusia

Granada merupakan kerajaan Islam yang tersisa di Andalusia.

SELENGKAPNYA

Sunat tanpa Trauma

Teknologi laser biasanya akan membantu meminimalkan luka.

SELENGKAPNYA

Gempuran Pro-Kremlin di Jagat Maya

Gempuran terjadi terus menerus dan menyebar ke semua bidang kehidupan sehari-hari di Lithuania.

SELENGKAPNYA