Peselancar Palestina Mohammad Abu Ghanim membawa papannya di pantai Gaza City, a surfboard near the sea, in Gaza City, Selasa (12/7/2022). | REUTERS/ Ibraheem Abu Mustafa

Kisah Mancanegara

Kebebasan dan Rasa Damai di Ombak Gaza

Dengan perbatasan darat Gaza yang dijaga ketat oleh Israel dan Mesir, Gaza adalah wilayah yang terkepung.

OLEH DWINA AGUSTIN

Berdiri di menara pengawas, penjaga pantai Jalur Gaza, Mohammad Abu, Ghanim mengawasi dengan cermat tanda-tanda gelombang naik. Saat tanda itu muncul, ia bersiap untuk menikmati sumber hiburan yang berharga di wilayah tersebut.

"Ketika saya merasakan angin bertiup ke barat saat giliran jaga saya berakhir, saya tahu ombak akan tinggi keesokan harinya," kata Abu Ghanim yang dikutip Reuters, Rabu (20/7).

"Saya mempersiapkan diri, teman, dan sepupu. Dan kami berhasil, kami menikmati ombak tinggi yang bagus," ujarnya.

Dengan perbatasan darat Gaza yang dijaga ketat oleh Israel dan Mesir, Gaza adalah wilayah yang terkepung. Tak heran jika lembaga advokasi hak asasi manusia (HAM) kerap menyebutnya sebagai "penjara terbesar di dunia".

Abu Ghanim sadar, ombak Mediterania berubah-ubah. Maka, demi mengejar ombak yang bagus, dia siap bergegas ke laut bersama teman-temannya, bahkan di malam hari, ketika waktunya memang tiba.

"Kami selalu dalam siap siaga," kata sepupu Abu Ghanim, Mohammad yang berusia 24 tahun.

Jangan bayangkan adegan berselancar di pantai Gaza dengan pantai-pantai terkenal di Kalifornia di Amerika Serikat, Australia, atau bahkan Afrika Selatan. Gaza amat jauh berbeda dari pantai-pantai yang terkenal dengan arena bagi para peselancar dunia itu.

Olahraga berselancar mulai dikenal sejak 2007. Ketika itu, seorang peselancar Israel Dorian "Doc" Paskowitz membawa 15 papan selancar ke Gaza. Rupanya, ia tergerak setelah melihat film yang memperlihatkan dua orang Palestina berlatih di papan darurat buatan sendiri.

photo
Peselancar Palestina mengendarai ombak di pantai Gaza City, a surfboard near the sea, in Gaza City, Selasa (12/7/2022). - (REUTERS/ Ibraheem Abu Mustafa)

Beberapa tahun kemudian, peselancar AS Matthew Olsen pun merasa ikut tergerak. Ia membantu mengirimkan 30 papan selancar lagi ke Gaza. Ia juga membantu melatih lebih banyak peselancar amatir di Gaza. Namun, upayanya untuk mendirikan klub selancar kandas setelah tentangan dari Hamas.

"Rasanya luar biasa melihat papan selancar itu masih digunakan," kata Olsen.

Mendapatkan papan dan peralatan lain seperti pakaian selam dipersulit oleh pembatasan yang diberlakukan Israel. Negara Zionis itu memang membatasi impor apa pun yang dinilai memiliki fungsi ganda untuk tujuan militer. Meskipun seorang juru bicara militer Israel mengatakan, seharusnya tidak ada masalah untuk membawa peralatan olahraga murni.

Hidup dalam kepungan, maka tepi laut adalah sumber daya yang berharga bagi orang-orang yang ingin bersantai dan melepaskan diri dari tekanan sehari-hari. "Ketika kami berselancar, kami merasakan kebebasan dan kedamaian, kami merasa hati kami lega," kata Abu Ghanim. 

Semua Jamaah Haji Dites Antigen

Protokol kesehatan yang diberlakukan dari pihak Arab Saudi semakin longgar.

SELENGKAPNYA

HRS: Pembebasan Ini Bukan Pemberian

Dalam pernyataannya di Petamburan, HRS kembali menggaungkan revolusi akhlak.

SELENGKAPNYA

Gelombang Panas Picu Bencana di Eropa

Portugal melaporkan lebih dari 1.000 kematian akibat gelombang panas.

SELENGKAPNYA