Ketua Umum Forum Zakat (FOZ) Bambang Suherman (kiri) memberikan paparan saat menjadi narasumber bersama Pimpinan Baznas RI Nadratuzzaman Hosen (tengah) dan Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi (kanan) dalam seminar di Kantor Republika, Jakarta, Kamis | Prayogi/Republika.

Kabar Utama

Filantropi Islam Masih Dibutuhkan Masyarakat

Perlu ada definisi yang jelas terkait perbedaan dana kemanusian dan dana keagamaan.

JAKARTA – Peran lembaga filantropi Islam dan lembaga amil zakat (LAZ) dalam sejarahnya telah banyak membantu masyarakat yang ada di bawah garis kemiskinan atau membutuhkan pertolongan. Pekerjaan yang luput oleh negara, mampu diisi oleh lembaga filantropi dan LAZ, khususnya dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Ketua Forum Zakat (Foz), Bambang Suherman, mengatakan, lembaga filantropi dan LAZ masih sangat dibutuhkan untuk membantu menangani masalah masyarakat yang sangat kompleks di Indonesia. Lembaga filantropi maupun LAZ masih dibutuhkan untuk membantu mengatasi masalah masyarakat yang belum bisa dijangkau oleh negara.

“Yang tidak boleh kita lupakan bahwa kejadian (kemunculan) filantropi di masyarakat, itu cara masyarakat membantu masyarakat, dan sebagian di antara pekerjaan filantropi ini adalah sebagian pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan atau tidak bisa dijangkau oleh negara,” kata Bambang dalam seminar bertema ‘Masihkah Filantropi Islam Bisa Dipercaya?, di kantor Republika, Kamis (14/7).

Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa ini menegaskan, saat ini adalah momentum emas bagi semua pihak terkait untuk memperbaiki regulasi filantropi dan LAZ. Regulasi harus hadir untuk memfasilitasi kekuatan kekuatan sosial masyarakat seperti filantropi dan LAZ. Para pegiat filantropi dan LAZ harus hadir untuk tidak takut menjalankan mekanisme yang ditetapkan oleh negara.

“Jadi, ia (filantropi dan LAZ) merasa aman dan nyaman dengan regulasi (yang dibuat pemerintah), dan masyarakat tidak boleh takut atau khawatir bahwa kebaikan dia disalahgunakan (oleh filantropi dan LAZ),” ujar dia.

Menurutnya, ‘ramai-ramai’ kasus yang kini membelit Aksi Cepat Tanggap (ACT) bisa menjadi momentum untuk membuka ruang bagi partisipasi yang lebih besar. Peristiwa tersebut juga harus menggugah kesadaran bagi semua pihak, untuk menumbuhkan filantropi dan LAZ sebagai modal sosial dalam membangun bangsa.

photo
Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan mahasiswa peraih beasiswa Bank Indonesia Generasi Baru Indonesia (GenBI) menata bantuan program Operasi Pangan Gratis ke dalam bak truk di Kediri, Jawa Timur, Ahad (29/8/2021). - (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)

“Adanya kasus ACT adalah pesan kuat bagi setiap lembaga dan pengelola filantropi untuk merapihkan mekanisme-mekanisme yang harus mereka jalankan agar terus menemukan keepercayaan,” ujar Bambang.

Dalam forum diskusi yang sama, Pimpinan Baznas Nadratuzzaman Hosen mengatakan, ACT bukanlah lembaga amil zakat dan juga bukan UPZ Baznas. Namun, kata dia, ACT adalah lembaga kemanusiaan yang tunduk pada aturan Kementerian Sosial (Kemensos) dan UU Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang. “Jadi tidak tunduk pada Undang-Undang (tentang) Zakat,” kata Nadra.

Karena itu, dia pun mengimbau kepada Kemensos agar masalah ini bisa diselesaikan bersama Kemenag. Menurut dia, harus ada pembagian yang jelas dalam ruang lingkup pengumpulan dana masyarakat. Karena, dana keagamaan juga turut menyentuh dana kemanusiaan. 

Menurut Nadra, perlu ada definisi yang jelas terkait perbedaan dana kemanusian dan dana keagamaan. Di samping itu, juga perlu adanya aturan yang jelas karena undang-undang zakat dan undang-undang sosial saling berkaitan sangat kuat.

“Begitu juga mungkin UU Zakat mungkin juga harus mendefinisikan clear juga. Kalau kita zakat itu jelas, tapi apakah infak sedekah bisa diambil juga oleh Kemensos atau bagaimana. Karena, kalau dalam bahasa agama, Kemensos itu hanya bisa memgambil hibah saja,” kata Nadra.

Dalam pengelolaan dana zakat, menurut dia, Baznas sendiri memiliki tagline 3A, yaitu Aman Sya’ri, Aman Regulasi, dan Aman NKRI. Dengan menjalankan tagline ini, Baznas pun menjadi lembaga filantropi yang sangat dipercaya oleh publik. “Ini (3A) menjadi cara kami bekerja, berpikir, berbuat sesuatu agar tiga-tiganya itu aman dalam konteks pengelolaan dana zakat,” ujar dia.

photo
Petugas Dompet Dhuafa Disaster Management Center memberikan petunjuk cara memadamkan api kepada warga saat kegiatan Dompet Dhuafa Community Festival di Zona Madina, Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (7/11). - (Republika/Putra M. Akbar)

Pemimpin Redaksi (Pemred) Republika, Irfan Junaidi, dalam sambutannya menyampaikan sejarah hubungan Republika dengan filantropi Islam di Tanah Air. Irfan mengatakan, Republika menjadi salah satu yang ikut menancapkan filantropi Islam dengan menghadirkan Dompet Dhuafa pada tahun 1994.

Kelahiran Dompet Dhuafa berawal dari kegelisahan teman-teman jurnalis melihat situasi dan kondisi waktu itu. “Di samping itu, ada peraturan yang melarang kita (jurnalis Republika) untuk menerima amplop dari luar, tapi sebagian teman-teman dalam kondisi tertentu tidak bisa menolak amplop itu, kemudian amplop-amplop itu dikumpulkan di sekretariat redaksi,” kata Irfan.

Ia menceritakan, setelah amplop-amplop itu terkumpul, mulai ada pemikiran menggunakan isi amplop itu untuk membantu orang yang membutuhkan. Ketika ada staf, office boy, dan security Republika yang sakit, mereka dibantu dengan dana yang terkumpul di sekretariat Republika tersebut.

photo
Petugas PPSU menyantap hidangan saat acara Semua Bisa Makan di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Kamis (23/12/2021). Baznas DKI Jakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengadakan kembali program Semua Bisa Makan yang merupakan aksi berbagi dan berdonasi untuk memberi makan kepada mustahik. - (Republika/Putra M. Akbar)

Kemudian tercetus oleh para pendiri Republika saat itu untuk meluaskan pola kerja membantu ini dengan melibatkan masyarakat umum. Akhirnya diumumkan ke masyarakat, dan menawarkan kepada publik yang mau membantu saudara-saudaranya yang kurang beruntung.

“Maka dibukalah dompet sumbangan yang kemudian diberi nama Dompet Dhuafa, kemudian masuk sumbangan masyarakat, dilaporkan terus setiap hari siapa saja yang berdonasi, dilaporkan juga donasi itu digunakan untuk apa saja, untuk membantu orang yang sakit, membantu orang yang putus sekolah, membantu membangun rumah sakit, dan seterusnya,” kata Irfan.

Irfan mengatakan, akhirnya kegiatan membantu ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari publik. Kerja-kerja Dompet Dhuafa juga menjadi satu tren dan melahirkan banyak lagi filantropi Islam yang lain, hingga Dompet Dhuafa mewarnai filantropi Islam di Indonesia.

“Sekarang (dalam seminar ini) ingin dicek lagi, kita ingin sama-sama me-review keberadaannya (filantropi Islam) bermaslahat atau tidak, masih bisa dipercaya atau tidak untuk mengelola dana masyarakat,” ujar Irfan.

Kesehatan Jamaah Dipantau Pasca-Kepulangan 

Jamaah haji Indonesia yang dinyatakan sehat saat kepulangan ke Tanah Air tetap akan dipantau kesehatannya.

SELENGKAPNYA

Demi Air Zamzam

Jjamaah haji diperbolehkan membawa lima liter air zamzam saat kembali ke negaranya.

SELENGKAPNYA

Jumat Pemulangan Perdana Jamaah Haji

Pihak keluarga tidak diperkenankan menjemput jamaah di debarkasi asrama haji.

SELENGKAPNYA