Jamaah melaksanakan tawaf mengelilingi Ka'bah pada musih haji 2021 lalu. | REUTERS/Ahmed Yosri

Kabar Tanah Suci

30 Jun 2022, 03:45 WIB

Menikmati Thawaf 

Karena tak akan pernah terulang lagi, kesempatan ini menjadi kenangan.

OLEH ALI YUSUF dari Makkah

Tepat pukul 12.30 waktu Arab Saudi (WAS), alarm sudah di-setting berdering keras di samping kuping. Suara homecoming alarm membuat saya tak bisa melanjutkan lagi tidur karena deringnya membuat saya pusing. 

Rasanya ingin sekali membatalkan janji shalat qiyamul lail sampai menunggu shalat Subuh berjamaah di Masjidil Haram, karena badan terasa kaku dan linu.

Alhamdulillah, setelah luruskan niat, membaca doa bangun tidur ditambah minum air zamzam, badan terasa segar. Rasa kaku dan ngilu hilang seketika berubah menjadi semangat 45. Akhirnya janji akan menemani shalat Subuh berjamaah di Masjidil Haram dengan rekan satu kamar, saya tunaikan tanpa berat hati.

Semua karena kehendak Allah SWT, apa yang terjadi hari ini sudah ada dalam genggaman-Nya. Meski hanya 15 menit waktu tempuh perjalanan dari Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah menuju Masjidil Haram, namun jika bukan karena Rahmat Allah saya tidak akan bisa sampai ke pintu gerbang Baitullah.

 
Meski hanya 15 menit waktu tempuh perjalanan dari Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah menuju Masjidil Haram, namun jika bukan karena Rahmat Allah saya tidak akan bisa sampai ke pintu gerbang Baitullah.
 
 

Selama musim haji, Pemerintah Arab Saudi menyediakan bus shalat lima waktu atau orang Indonesia mengenalnya Bus Shalawat. Bus shalawat ini beroperasi 24 jam selama musim haji mengantar jemput jamaah haji yang pemondokannya ada kawasan Aziziyah menuju Masjidil Haram.

Tepat pukul satu lewat, saya dan beberapa Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sampai di pintu gerbang Masjidil Haram yang sama-sama naik Bus Shalawat nomor enam.  Karena tak memakai ihram, kami menuju lantai dua lewat pintu nomor 78.

Sudah lama, otoritas telah mengeluarkan peraturan lantai dasar tempat Baitullah Ka'bah yang berdiri megah, hanya diperuntukan jamaah memakai ihram saja. Jamaah tanpa ihram dipersilakan thawaf di lantai atas. Aturan ini berlaku baru-baru ini, karena sebelumnya semua jamaah bebas thawaf mendekat Baitullah tanpa sekat.

Bahkan, jika ada kesempatan jamaah bisa mencium Hajar Aswad, merangkul Multazam, sujud di Hijir Ismail dan shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim. Saya menjadi saksi, lima tahun yang lalu saat diberikan kesempatan ibadah umrah Desember 2017, jamaah dari seluruh dunia mudah panjatkan doa di tempat-tempat mustajab di Masjidil Haram.

 
Sudah lama, otoritas telah mengeluarkan peraturan lantai dasar tempat Baitullah Ka'bah yang berdiri megah, hanya diperuntukan jamaah memakai ihram saja. 
 
 

Kini semua tempat mustajab itu disekat. Pemandangan desak-desakan orang ingin mencium Hajar Aswad, berdoa di  Multazam, sujud di Maqam Ibrahim dan Hijir Ismail merupakan hal yang mustahil ada di masa pandemi ini.

Bahkan lantai atas saja, jamaah dilarang mendekat ke pagar pembatasnya, karena sudah disekat jamaah dilarang mendekat. Mungkin, ini demi menghindari kejadian tahun 2018 saat ada jamaah haji bunuh diri melompat di lantai empat. Alhamdulillah sempat mendekat tanpa sekat di tempat-tempat mustajab Baitullah. 

Karena tak akan pernah terulang lagi, kesempatan ini menjadi kenangan. Jujur, saya tetap senang melihat pemandangan indah jamaah melaksanakan thawaf di Baitullah ini. Saya berdoa tidak mengalami melihat orang thawaf telanjang seperti masa jahiliyah. Pernah mendengar di suatu riwayat, akan terjadi lagi orang-orang tawaf telanjang. 

Abdurrahman Ahmad As-Surbuny mengatakan, dulu, sebelum turun wahyu, ibadah haji berlaku bagi semua agama yang ada di Bakkah (Makkah). Jadi ketika itu, ibadah haji masih berlaku bukan hanya untuk orang Muslimin.

“Orang-orang musyrik pun masih melaksanakan hajinya di Tanah Haram sambil telanjang,” tulis Abdurrahman dalam bukunya 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah.

 
Karena tak akan pernah terulang lagi, kesempatan ini menjadi kenangan. Jujur, saya tetap senang melihat pemandangan indah jamaah melaksanakan thawaf di Baitullah ini. 
 
 

Kemudian, pada tahun 9 Hijriyah setelah turun wahyu, ibadah haji hanya diperbolehkan untuk kaum Muslimin saja. Sudah waktunya orang-orang musyrik tidak lagi diperkenankan untuk menunaikan haji di Tanah Haram.

Ali bin Abu Thalib menjadi sahabat yang menyampaikan langsung adanya musyrikin melaksanakan haji dan thawaf sambil telanjang kepada Abu Bakar yang ketika itu menjadi Amirullhaj. Akan tetapi, jika mereka mau bertaubat itu lebih baik bagi mereka. Dalam pesannya disebutkan, jika mereka mengelak juga, disampaikan mereka tidak akan dapat melemahkan Allah.

"Saudara-saudara! Orang kafir tidak akan masuk surga. Selepas tahun ini orang musyrik tidak boleh lagi naik haji tidak boleh lagi bertawaf di Ka'bah dengan telanjang," katanya.

Prof  Buya Hamka mengisahkan, pada tahun kedelapan Hijriyah negeri Makkah berhasil ditaklukkan, meski orang Quraisy sendiri yang melanggar perjanjian Hudaibiyah. Di waktu penaklukkan Makkah itu, secara langsung Rasulullah memerintahkan menghancurkan dan meruntuhkan berhala-berhala itu.

"Dan beliau perintahkan Sayyidina Bilal adzan di puncak Kabah," tulis Prof Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar.

 
Di waktu penaklukkan Makkah itu, secara langsung Rasulullah memerintahkan menghancurkan dan meruntuhkan berhala-berhala itu.
 
 

Lalu, pada tahun kesembilan beliau perintahkan Abu Bakar as-Shiddiq menjadi Amirul-Haj. Kemudian beliau usulkan dengan memerintahkan Ali bin Abu Thalib membacakan Surat at-Taubah, menyampaikan beberapa perintah.

"Di antaranya ialah bahwa tahun depan tidak boleh lagi ada orang yang tawaf keliling Ka’bah dengan bertelanjang," katanya.

Menurut informasinya, kata Buya Hamka, karena Rasulullah tidak mau melihat orang telanjang bertawaf itulah maka beliau tidak naik haji tahun itu. Dan akhirnya memerintahkan Abu Bakar memimpin haji.

"Baru tahun depannya, di tahun kesepuluh beliau memimpin sendiri naik haji, setelah Ka’bah benar-benar bersih," katanya.

Dan haji beliau yang terakhir itulah yang dinamai Haji Wada'. Haji selamat tinggal atau haji perpisahan. Setelah beberapa bulan dari itu Rasulullah wafat. Ya Rasulullah kami merindumu. 


BUMD DKI akan Bangun Pabrik Minyak Goreng di Cilegon

Anggota DPRD DKI minta studi kelayakan pabrik minyak goreng.

SELENGKAPNYA

Setiap yang Berlebihan tidak Baik

Segala yang berlebihan termasuk dalam urusan ibadah bukan hanya tidak baik, melainkan juga ditolak dalam ajaran Islam.

SELENGKAPNYA

Risiko Reputasi Dalam Pandangan Syariah

Apakah reputasi itu bagian dari risiko yang harus dimitigasi atau tidak?

SELENGKAPNYA
×