Calon Presiden Kolumbia Gustavo Petro, menunjukkan surat suara selepas mencoblos di Bogota, Ahad (19/6/2022). | AP/Fernando Vergara

Internasional

21 Jun 2022, 03:45 WIB

Mantan Pemberontak Jadi Presiden Kolombia

Kemenangan Petro menandai rakyat Kolombia yang ingin perubahan.

BOGOTA -- Mantan pemberontak Kolombia, Gustavo Petro (62 tahun), terpilih menjadi presiden Kolombia, Ahad (19/6). Untuk pertama kalinya, negara di Amerika Selatan itu akan dipimpin presiden berhaluan kiri.

“Pemerintahan ini akan menjadi awal, yaitu tidak akan ada persekusi politik atau hukum, yang ada hanyalah respek dan dialog," kata Petro sambil menambahkan, ia akan mendengarkan siapapun yang bersuara. "Serta kaum petani yang tak mampu bersuara, waga adat, perempuan, dan anak muda."

Petro adalah mantan pemberontak M-19 yang kini sudah bubar. Ia mendapat amnesti setelah menjalani kehidupan penjara atas keterlibatannya dengan M-19.

Petro berjanji membebaskan biaya universitas, reformasi sistem pensiun, dan pajak tinggi bagi lahan tak produktif. Ia juga berjanji mengimplementasikan perjanjian damai dengan pemberontakan bersenjata Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) dan menggelar perundingan dengan pemberontak National Liberation Army (ELN).

photo
Calon Presiden Kolumbia Gustavo Petro menyapa pendukungnya sebelum mencoblos di Bogota, Ahad (19/6/2022).  - (AP/Fernando Vergara)

Ini adalah upaya Petro yang ketiga kalinya untuk merebut kursi presiden Kolombia. Upaya itu akhirnya membuahkan hasil melalui pemilihan umum (pemilu) pada Ahad, dengan raihan 50,48 persen. Petro mengalahkan pesaingnya, Rodolfo Hernández yang mendapat 47,26 persen suara.

Sekitar 21,6 juta dari 39 juta pemilih memberikan suaranya. Pemilih golongan putih (golput) melampaui 40 persen dalam setiap pemilu sejak 1990.

Pemilu kali ini digelar dua kali putaran, di tengah meningkatnya ketimpangan antara si kaya dan miskin, inflasi, dan kekerasan di Kolombia. Faktor-faktor itu diyakini mendorong pemilih "menghukum" pemerintah berkuasa yang moderat dan politisi yang cenderung berhaluan kanan, dalam pemilu putaran pertama pada Mei. Lalu  tersisalah Petro dan Hernandez yang bertarung di putaran kedua.

Hernandez yang saat kampanye berjanji akan memerangi korupsi, langsung mengakui kekalahannya. "Saya menerima hasilnya, sebagaimana semestinya, jika kita ingin lembaga-lembaga negara kita kokoh," katanya. "Dengan tulus saya berharap, semoga hasil ini menguntungkan semua orang."

photo
Pendukung calon presiden Gustavo Petro, melambaikan topengnya dalam aksi di Bogota, Kolumbia, Ahad (19/6/2022). - (AP/Fernando Vergara)

Ribuan orang turun ke jalan untuk merayakan kemenangan Petro-Marquez. Beberapa orang menari di dekat tempat pemungutan suara terbesar tengah hujan gerimis.

Kemenangan Petro menandai rakyat yang ingin perubahan dan jenuh pada politisi lama. Ia menjadi fenomena terbaru berkuasanya politisi berhaluan kiri di Amerika Selatan. Pada 2021, Cile, Peru, dan Honduras juga memilih presiden berhaluan kiri.

Menteri Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrel menyatakan, misi UE yang mengawasi pemilu Kolombia menegaskan bahwa pemilu berlangsung jujur dan adil.  "Pemilu di Kolombia menandai perubahan yang jelas, rakyat Kolombia memberikan suara demi perubahan politik, menanti masyarakat yang lebih inklusif dan egaliter. Semua harapan terbaik untuk presiden terpilih Kolombia," kata Borrel, Senin.

Ucapan selamat datang dari sejumlah tokoh. "Kemenangan Gustavo Petro bersejarah, Kolombia selalu ulet dan tangguh," kata Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador di Twitter.

"Kebahagiaan bagi Amerika Latin! Kami akan bekerja sama untuk persatuan benua kami dalam menghadapi tantangan cepatnya perubahan dunia," cicit Presiden Chile Gabriel Boric.

"Kehendak rakyat Kolombia sudah didengar, keluar untuk membela jalan demokrasi dan perdamaian," kata Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

"Saya ucapkan selamat kepada rakyat Kolombia karena membuat suara mereka didengar melalui pemilu yang bebas dan adil," kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken melalui pernyataan Kementerian Luar Negeri AS.

Wapres kulit hitam

Kejutan lainnya, Kolombia juga memilih perempuan kulit hitam pertama sebagai wakil presiden, yaitu Francia Márquez (40 tahun). Marquez adalah pengacara dan pemimpin aktivis lingkungan yang menentang tambang liar. Akibatnya, ia sempat mendapat ancaman dan serangan granat pada 2019.

Francia Marquez menjadi perempuan keturunan Afrika yang terpilih sebagai Wakil Presiden Kolombia. Ibu tunggal dan mantan pengurus rumah ini berpasangan dengan Presiden terpilih Gustavo Petro.

"Tantangan terbesar bagi semua rakyat Kolombia adalah rekonsiliasi, sudah waktunya membangun perdamaian, perdamaian yang mewujud keadilan sosial," kata Marquez seperti dikutip Aljazirah, Senin. ';

Menlu RI Sampaikan Protes kepada India

RI dan India sepakat menggelar kembali Interfaith Dialogue akhir 2022 atau 2023.

SELENGKAPNYA

Mencari Damai di Hari Berat Ditinggalkan Ani Yudhoyono

Bagi SBY, melukis mendatangkan kedamaian dan ketenangan hati.

SELENGKAPNYA

WHO Hapus Status Endemi dan Nonendemi Cacar Monyet

Menurut WHO, kasus cacar monyet tersebar di 42 negara, mayoritas Eropa.

SELENGKAPNYA
×