Adiwarman A Karim | Daan Yahya | Republika

Analisis

Stagflasi dan Anomali Ekonomi Syariah 

Dalam keadaan stagflasi, pelaku bisnis memiliki dua tantangan besar.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Ada dua berita terbaru perkembangan ekonomi. Pertama, peringatan Bank Dunia akan kemungkinan terjadinya resesi, bahkan stagflasi seperti yang pernah terjadi pada 1970-an. Kedua, perkembangan ekonomi syariah yang sangat menggembirakan.

David Malpass, presiden Bank Dunia, dalam kajian prediksi perekonomian yang baru dipublikasi Selasa lalu memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat sebelum akhir tahun 2022, dan bagi sebagian besar negara resesi sulit dihindarkan.

Pandemi selama dua tahun ini telah menorehkan catatan resesi global paling parah setelah Perang Dunia Kedua. Perang Rusia-Ukraina mendorong kelangkaan pasokan dan naiknya harga-harga. The Fed, bank sentral AS, menaikkan tingkat suku bunga untuk mengatasi inflasi, yang pada gilirannya menimbulkan kekhawatiran bagi investor. Bila suku bunga naik terlalu tinggi, maka ekonomi akan mengalami kontraksi dan resesi.

Beberapa tahun ekonomi dunia mengalami inflasi di atas rerata dan pertumbuhan di bawah rerata, berpotensi menimbulkan ketidakstabilan bagi kelompok negara menegah bawah. Fenomena stagflasi ini mirip yang pernah terjadi pada 1970-an. Kajian Bank Dunia itu berulang kali mengingatkan ancaman stagflasi karena kemiripan situasi ekonomi dan kebijakan moneter yang dipilih.

 
Dalam keadaan stagflasi, pelaku bisnis memiliki dua tantangan besar. 
 
 

Pada era 1970-an, embargo minyak Organisasi Negara-Negara Eksportir Minyak (OPEC) mendorong kenaikan harga minyak sehingga terjadi inflasi dunia. Pertumbuhan ekonomi melambat terutama di negara-negara importir minyak. Utang pemerintah meningkat dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Fenomena ini kembali terjadi saat ini.

Dalam keadaan stagflasi, pelaku bisnis memiliki dua tantangan besar. Pertama, biaya-biaya meningkat. Keadaan ini mendorong pelaku bisnis memperbaiki produktivitasnya dengan cara kerja baru, menekan biaya, dan melakukan aksi korporasi. Tidak aneh dalam situasi stagflasi banyak terjadi merger dan akuisisi.

Kedua, permintaan pasar melemah. Keadaan ini mendorong pelaku bisnis memperbaiki profitabilitasnya dengan skema harga baru dan cara pembayaran baru untuk menjaga tetap adanya permintaan. Pelaku bisnis yang tidak mampu bertahan akan diambil bisnisnya oleh yang dapat beradaptasi. Tidak aneh dalam situasi stagflasi ada anomali pelaku bisnis yang malah berkembang.

Lyn Alden dalam artikelnya “Investing During Stagflation” memprediksi anomali tersebut. Pasar obligasi dan sukuk akan tertekan dalam. Pasar saham juga akan tertekan walau tidak sedalam pasar obligasi. Pasar properti akan membaik. Pasar komoditas dan pemilik dana tunai akan menjadi raja.

 
Kedua, permintaan pasar melemah. Keadaan ini mendorong pelaku bisnis memperbaiki profitabilitasnya dengan skema harga baru dan cara pembayaran baru untuk menjaga tetap adanya permintaan. 
 
 

Keuangan syariah dapat saja menjadi bagian anomali ini karena karakteristiknya yang selalu mengaitkan setiap transaksi dengan sektor riil semisal properti dan komoditas. KPR syariah dengan cicilan tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga nilai aset dalam keadaan inflasi. Harga rumah cenderung meningkat menyesuaikan dengan inflasi. Dalam konteks ini, bank syariah yang membiayai sektor properti seperti BTN menjadi anomali.

Bank syariah yang membiayai sektor komoditas juga menjadi anomali. Nasabah bank syariah di sektor ini semisal pertambangan, kayu, kertas, sawit, dan komoditas lainnya menikmati kenaikan harga-harga. Kebanyakan komoditas tersebut diekspor, sehingga mereka mendapat double gain.

Pertama, kenaikan harga dalam dolar AS. Kedua, dengan melemahnya rupiah, mereka mendapat rupiah yang lebih banyak untuk setiap dolar yang diterima.

Bank syariah yang membiayai sektor mikro juga menjadi anomali. Kebutuhan dana tunai masyarakat kecil akan mendorong tumbuhnya bisnis pegadaian syariah. Pembiayaan ultra mikro juga akan meningkat untuk memenuhi kebutuhan dana sehari-hari.

Kolaborasi antar lembaga keuangan syariah menjadi sangat penting dalam menangkap peluang bisnis anomali ini. Pertama, kolaborasi melalui integrasi. Kedua, kolaborasi melalui sinergi tanpa integrasi. Ketiga, kolaborasi melalui cross ownwership, misalnya dengan equity swap.

 
Kolaborasi antar lembaga keuangan syariah menjadi sangat penting dalam menangkap peluang bisnis anomali ini.
 
 

Kolaborasi ini akan menguatkan posisi ekonomi syariah pasca stagflasi. Tanpa kolaborasi ini, lembaga keuangan syariah akan terbatasi oleh ukuran bisnisnya yang kecil sehingga tidak akan dapat memanfaatkan momen anomali stagflasi.

Keberhasilan bank syariah dalam menghadapi stagflasi akan menjadi contoh baik untuk bank konvesional. Maya Shatzmiller, profesor Western University Kanada, dalam risetnya “Economic Performance and Economic Growth in the Early Islamic World” mencatat adanya komunitas non-Muslim yang dikenal sebagai kaum maghribi musta'ribûn yang mengadopsi nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka.

Ismail Ozsoy, peneliti Fatih University Turki, dalam risetnya “An Islamic Suggestion of Solution to the Financial Crises” mengutip pendapat Vatikan dalam L’Osservatore Romano tentang pentingnya bank konvensional meniru prinsip-prinsip etika dan struktur instrumen keuangan syariah.

Sebaliknya, kekeliruan strategi sehingga melewatkan peluang anomali dalam stagflasi akan mengerdilkan ekonomi syariah. Robert Allen dan Leander Heldring, masing-masing peneliti New York University dan Harvard University, dalam riset mereka “The Political Economy of Hydraulic State and the Financial Crisis of the Abbasid Caliphate” menjadi pelajaran berharga.

 
Sebaliknya, kekeliruan strategi sehingga melewatkan peluang anomali dalam stagflasi akan mengerdilkan ekonomi syariah.
 
 

Dari sisi produksi, rusaknya irigasi dan mundurnya musim tanam menurunkan hasil panen. Dari sisi konsumsi, kegaduhan politik membatasi pergerakan orang sehingga menurunkan daya beli. Dari sisi pendapatan negara, jizyah dan kharaj juga menurun. Akhirnya al Makmun menurunkan pajak agar daya beli masyarakat bertambah.

Keadaan umat Islam ketika itu terbelah. Rakyat merasakan sulitnya perekonomian. Sebagian rakyat yang merasa tertekan rasa keadilannya, bersuara lantang. Sebagian lainnya terganggu rasa nyamannya dengan kegaduhan tersebut. Namun sebagian besar rakyat diam dengan harapan besar akan kembalinya rasa keadilan dan kenyamanan.

Agenda nasional yang padat menjelang tahun 2024, pentingnya legacy atau pencapaian monumental bagi pemerintah, dan stagflasi akan menjadi tantangan Indonesia. Ekonomi syariah sepatutnya mengambil momen ini untuk ikut serta menjawab tiga tantangan itu.

Ini saatnya membesarkan ekonomi syariah tanpa merasa paling benar, membuktikan yang benar memang benar, dan menyempurnakannya dengan benar. Imam Ali bin Abi Thalib RA mengingatkan “Jadilah manusia paling baik di sisi Allah, jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu sendiri, dan jadilah manusia biasa saja di hadapan manusia lain”. 

Misi Dinasti Murabithun Menyelamatkan Andalusia

Raja Dinasti Murabithun menerima surat permintaan tolong dari taifa-taifa Iberia.

SELENGKAPNYA

Dinasti Murabithun Penyelamat Andalusia

Dinasti Murabithun adalah gabungan suku-suku pengikut Syekh Abdullah bin Yasin.

SELENGKAPNYA

Perdagangan Suhaib ar-Rumi

Saat orang-orang Romawi menyerang daerah tersebut, Suhaib menjadi seorang budak Romawi.

SELENGKAPNYA