Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

28 May 2022, 03:30 WIB

Bersama Rasulullah SAW di Surga

Di dalam cinta kepada Rasulullah SAW terdapat konsekuensi yang harus dilakukan.

 

OLEH MUHAMMAD RAJAB

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau SAW menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa, dan banyak sedekah. Tetapi, yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau SAW bersabda, “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai” (HR Bukhari No 6.171).

Setiap Muslim tentu berharap ingin bersama Rasulullah SAW kelak di surga. Bekal cinta itulah modal untuk bisa berjumpa beliau. Tentunya cinta tidak cukup hanya diucapkan di lisan, tapi harus tertanam dalam hati dan diiringi dengan upaya mengamalkan ajaran-ajarannya. Sebab, hakikat cinta adalah mengikuti yang dicintainya.

Cinta kepada Rasulullah SAW menjadi ukuran tinggi rendahnya iman seseorang. Orang yang mencintai beliau dengan sebenar-benarnya cinta akan merasakan nikmatnya iman. Dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda, “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang ia akan merasakan manisnya iman: menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari yang lainnya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah, ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan ke dalam neraka” (HR Bukhari No 6.941).

Kecintaan kepada Nabi SAW pula menjadi tanda kecintaan seseorang kepada Allah SWT. Allah SWT telah menegaskan di dalam Alquran. “Katakanlah (hai Muhammad), jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali Imran: 31).

Di dalam cinta kepada Rasulullah SAW terdapat konsekuensi yang harus dilakukan. Ada beberapa hal yang mesti dilakukan sebagai bentuk ekspresi cinta kepada beliau.

Pertama, mencintai Rasulullah SAW mengharuskan adanya pengagungan, memuliakan, meneladan beliau dan mendahulukan sabda beliau SAW atas segala ucapan makhluk serta mengagungkan sunah-sunahnya (QS al-Hujurat: 1). Memuliakan Rasulullah SAW dapat dilakukan dengan memperbanyak shalawat kepada beliau (QS al-Ahzab: 56).

Kedua, membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Sabda-sabda beliau telah banyak tercantum dalam beberapa kitab hadis, baik yang berbentuk hadis qauli, hadis fi’li, maupun hadis taqriri. Termasuk juga membenarkan wahyu yang disampaikan kepada beliau, yakni Alquran (QS an-Najm: 3-4).

Ketiga, menaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya (QS an-Nisa’: 59). Ketaatan tersebut dapat dilakukan dengan meneladan sunah-sunah beliau dalam kehidupan sehari hari, baik dalam hal ibadah maupun akhlak. Keagungan akhlak beliau telah diakui oleh Allah dalam Alquran (QS al-Qalam: 4).

Dengan melakukan tiga hal tersebut sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah SAW, kita berharap mendapatkan buah dari cinta tersebut, baik di dunia maupun di akhirat. Puncaknya, kita bisa berjumpa bersama beliau di surga nanti.

Wallahu a'lam.


Amplop Pernikahan Milik Siapa?

Amplop yang diterima dari para tamu undangan pernikahan menjadi milik siapa?

SELENGKAPNYA

Strategi Pengembangan Unit Usaha Pondok Pesantren

Pengembangan industri halal dalam kegiatan pesantren diantaranya dapat melalui pengoptimalan peran lembaga keuangan syariah dan penguatan produk halal.

SELENGKAPNYA

Implementasi Wakafnomics (Bagian 1)

Perlu sejumlah inovasi program wakaf memperkuat keterlibatan aset wakaf dalam pembangunan nasional.

SELENGKAPNYA
×