Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

27 May 2022, 09:38 WIB

Amplop Pernikahan Milik Siapa?

Amplop yang diterima dari para tamu undangan pernikahan menjadi milik siapa?

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Biasanya dalam resepsi pernikahan, mereka yang hadir akan memberikan amplop (hadiah uang) pernikahan. Apakah amplop yang diterima dari para undangan tersebut itu milik suami, istri, bersama, atau milik siapa? Bagaimana tuntunan syariahnya? Mohon penjelasan, Ustaz! -- Rina, Bekasi

Wa’alaikumussalam Wr Wb.

Jawaban atas pertanyaan ini bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut. Pertama, amplop tersebut milik pihak yang diperuntukkan oleh si pemberi (yang menghadiri undangan).

Misalnya, jika ada tamu undangan yang memberikan amplop dan tertera/tertulis di amplop untuk suami, maka amplop tersebut milik suami. Jika amplop tersebut tertera/tertulis untuk istri, itu milik istri, baik itu diketahui lewat tulisan maupun lewat lisan.

Sebagaimana merujuk pada ketentuan transaksi hibah, di mana amplop sebagai hibah menjadi milik pihak yang diberikan (diniatkan oleh si pemberi). Hal ini juga sebagaimana ketentuan bahwa baik suami atau istri itu memiliki hak keuangan yang terpisah dan menjadi entitas tersendiri di dalam keluarga.

Dalam kaidah-kaidah ushul fikih dijelaskan bahwa jika ada ungkapan yang jelas dan bisa dipahami, itu menjadi referensi. Sebagaimana kaidah ushul, “Sebuah dalil tidak dianggap jika berbenturan dengan tashrih”.

Kedua, jika tidak ada ungkapan yang jelas yang bisa dijadikan rujukan, merujuk pada kebiasaan masyarakat (selama tidak bertentangan dengan nash). Sebagaimana yang ditegaskan oleh al-Khatib asy-Syarbini, al-Khathabi, dan Ibnu Taimiyah.

 
Ketika syariat Islam ini mewajibkan serah terima dalam setiap transaksi itu tanpa menjelaskan mekanismenya, maka yang menjadi rujukan adalah tradisi pelaku pasar.
 
 

Al-Khatib asy-Syarbini menjelaskan, “Ketika syariat Islam ini mewajibkan serah terima dalam setiap transaksi itu tanpa menjelaskan mekanismenya, maka yang menjadi rujukan adalah tradisi pelaku pasar.” (al-Khatib, Mughnil Muhtaj, 2/72).

Al-Khathabi mengatakan, “Teknis dan mekanisme serah terima itu berbeda-beda sesuai tradisi masyarakat setempat”. (Khathabi, Ma’alim as-Sunan, 3/136).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap ketentuan yang tidak ada batasannya, baik dalam bahasa maupun syara', maka yang menjadi rujukan adalah tradisi setempat.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 3/272).

Ketiga, jika tidak ada ungkapan lisan atau tulisan yang jelas dan tegas serta tidak ada kebiasaan (‘urf) tersebut, kesepakatan menjadi referensi. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “... kaum Muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR Tirmidzi).

Keempat, bagian dari adab yakni memudahkan mereka yang hadir untuk memperjelas peruntukan amplop, misalnya dengan menyediakan kotak untuk masing-masing mempelai atau untuk orang tuanya.

Begitu pula adab bagi orang tua menyerahkan uang tersebut untuk kebutuhan anak-anaknya (kedua mempelai) yang lebih asasi dan mendesak. Bagian dari adab-adab juga untuk merelakan hak dan tidak menjadikannya sumber selisih pendapat atau konflik.

Wallahu a’lam.


Habis Presiden Tiga Periode, Terbitlah Koalisi Kaki Tiga

Manuver koalisi kaki tiga memberi peluang munculnya tiga pasang capres-cawapres dalam Pemilu 2024.

SELENGKAPNYA

135 Tahun Sherloc Holmes

Publikasi tahun 1949 menyatakan warga London begitu putus asa setelah mendengar berita kematian Holmes.

SELENGKAPNYA
×