Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus berpidato dalam pembukaan Akademi WHO di Lyon, Prancis, Senin (27/9/2021). | AP/Denis Balibouse/Reuters Pool

Kisah Mancanegara

25 May 2022, 03:45 WIB

Si Anak Perang yang Kembali Pimpin WHO

Tedros adalah kepala WHO pertama yang berasal dari Afrika.

OLEH YEYEN ROSTIYANI

Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus (57 tahun) kali ini tanpa pesaing. Ia siap-siap menduduki kembali kursi direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk lima tahun berikutnya. Pemilihan untuk jabatan itu digelar melalui voting rahasia Majelis Kesehatan Dunia ke-75 di Jenewa, Swiss, Selasa (24/5).

Saat pembukaan sidang pada Ahad (22/5), ia menekankan bahwa selain pandemi, perang juga menjadi ancaman bagi dunia. Perang, katanya, mengguncang fondasi masyarakat dan menyebabkan luka parut jiwa yang sulit dipulihkan.

"Saya anak perang," kata Tedros, suaranya terdengar bergetar, dikutip France 24.  "Suara senapan dan bom mengaung di udara, aroma asap setelah ledakan, jejak bekas peluru di langit malam… semua itu terus ada sepanjang hidup saya, karena saya ada di tengah perang saat saya masih kecil."

Perang, kata Tedros, ternyata terus mengikutinya. Kini, perang kembali merebak di sekitar kampung halamannya, Tigray, Ethiopia.

"Di mana perang terjadi, kelaparan dan penyakit segera datang menyusul," katanya. Bagi Tedros, perdamaian adalah prasyarat bagi kesehatan.

Tedros adalah kepala WHO pertama yang berasal dari Afrika. Ia juga pemimpin organisasi itu yang satu-satunya tidak berlatar belakang kedokteran.

Gelar sarjananya di bidang biologi di negeri asalnya, Ethiopia. Tedros melanjutkan pendidikan di Inggris. Ia mendapat gelar master diraih untuk bidang imunologi penyakit menular. Gelar doktor diraih untuk bidang kesehatan masyarakat.

Di bawah Tedros, WHO dinilai gagal memaksa transparansi kasus Covid-19 sejumlah negara termasuk Cina. WHO juga tidak sigap memerintahkan pemakaian masker pada bulan-bulan awal. Bahkan, awalnya lembaga dunia itu menyatakan, virus korona tidak mungkin bermutasi pesat.  

"Memang ada sejumlah salah langkah, namun Tedros juga sepanjang pandemi tekun menyuarakan respons adil," kata Javier Guzman, direktur kebijakan kesehatan global di Center for Global Development di Washington.

WHO juga dinilai tidak tegas menindak skandal seksual sejumlah stafnya di Kongo pada 2018. Pengaduan internal yang mengeluhkan kesewenangan direktur WHO di Pasifik, Dr. Takeshi Kasai, juga berlalu tanpa proses hukum hingga kini.

Sejumlah ahli juga menilai, di bawah Tedros, WHO tidak memenuhi tugas utamanya untuk memberi panduan teknis berdasar ilmu pengetahuan kepada negara-negara dunia. Dr David Tomlinson, kardiologis Inggris, mengingat saat WHO tak kunjung mengakui bahwa virus korona dapat ditularkan melalui udara.

photo
Direktur Jenderal WHO  Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebelum berpidato di markas besar WHO di Jenewa, Swiss, pada 2021 lalu. - (AP/Salvatore Di Nolfi/Keystone)

Akhirnya pada Juli 2020, lebih dari 230 ilmuwan menerbitkan tulisan yang menyerukan WHO untuk menyatakan virus tersebut bersifat airborne. Barulah WHO mengubah rekomendasinya.

Namun, menurut Guzman, meski ada kekecewaan, sejumlah negara tidak menginginkan perubahan kepemimpinan WHO. "Kita sedang berada di tengah pandemi dan ada desakan agar kepemimpinan bertahan sepanjang masa sulit ini," katanya.

Tedros kerap mengkritik negara-negara kaya yang memborong pasokan vaksin yang jumlahnya terbatas. Ia juga berkeras mengatakan, perusahaan obat tidak cukup berupaya keras untuk membuat obat-obatan bisa terjangkau mereka yang tak mampu.

Di tengah fokus dunia pada Ukraina yang menghadapi invasi Rusia, Tedros pun kembali bersuara nyaring. Menurutnya, komunitas global tidak cukup bersungguh-sungguh menangani krisis di tempat lain seperti Yaman, Suriah, dan Afghanistan. Tedros berani berujar, respons yang kurang itu mungkin karena orang yang menderita di tempat-tempat tersebut bukanlah warga kulit putih.

Sumber : Associated Press


Nama BJ Habibie di Hati Masyarakat Timor Leste

Habibie dinilai sebagai seorang pemimpin yang memiliki rasa simpati dan kemanusiaan yang tinggi.

SELENGKAPNYA

Mitigasi Krisis Pangan

Beberapa negara berpotensi menghadapi kelaparan panjang jika ekspor Ukraina tak seperti semula.

SELENGKAPNYA

Oksigen Persaudaraan

Ajaran agama telah mengajarkan perlunya silaturahim.

SELENGKAPNYA
×