Prof Husnan Bey Fananie, tokoh pendidikan Islam yang juga anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor. | DOK IST

Hiwar

16 May 2022, 21:44 WIB

Tantangan dan Peluang Pendidikan Islam

Kita harus membangun lebih banyak lembaga pendidikan Islam.

Dalam hidupnya, manusia tidak hanya membutuhkan pangan, sandang, dan papan. Setiap orang juga memerlukan pendidikan. Dalam ajaran Islam, edukasi menempati posisi sentral. Bahkan, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca.

Iqra bismi Rabbikal ladzii khalaq.” ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.’

Di Indonesia, salah satu lembaga pendidikan Islam yang bereputasi tinggi adalah Pondok Modern Darussalam Gontor. Institusi yang berlokasi di Jawa Timur itu dirintis para putra Kiai Santoso Anom Besari. Ketiganya yang disebut Trimurti Gontor adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi.

Menurut Prof Husnan Bey Fananie, Gontor sejak awal berdiri hingga seterusnya selalu berfokus pada menjawab tantangan dunia edukasi. Para Trimurti menggariskan pokok-pokok konsep yang bahkan masih relevan sampai saat ini. Pendidikan Islam ala Gontor juga selalu terbuka dalam melihat peluang kemajuan umat.

“Mengenai peluang, kalau kita melihatnya dengan saksama, itu ada banyak sekali untuk kemajuan dunia pendidikan Islam di Indonesia,” kata anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor itu.

Apa saja yang mesti digiatkan para insan pendidik untuk lebih mencerdaskan generasi muda Muslim saat ini? Tidak lupa, bagaimana Gontor merumuskan dan menerapkan konsep pendidikan?

Untuk menjawabnya, berikut perbincangan wartawan Republika, Muhyiddin, dengan duta besar RI untuk Azerbaijan periode 2016-2020 tersebut baru-baru ini.

Bagaimana Anda melihat tujuan pendidikan Islam?

Saya kira, pendidikan Islam bertujuan membangun dan memahamkan tentang nilai-nilai agama Islam, utamanya akhlak karimah, kepada generasi. Arahnya adalah menjadikan diri manusia yang baik, jujur, sabar, dan selalu terikat dengan nilai-nilai ketakwaan, keagamaan, serta ketuhanan.

Sejak zaman dahulu sampai sekarang pun, muara pendidikan Islam selalu membangun manusia yang dapat mencontoh Nabi Muhammad SAW. Apa pun kelak profesi mereka (peserta didik)—entah sebagai dokter, petani, pejabat, pemimpin umat, dai, ulama—karakter mereka sudah terbangun melalui pendidikan itu. Intinya adalah mencetak insan yang khalifatullah fil ‘ard (khalifah Allah di muka bumi) sesuai petunjuk Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Subjek-subjek pendidikan tidak hanya murid, tetapi juga guru dan lembaga. Bagaimana membangun sinergi yang ideal antara ketiganya?

Ada satu metode yang, menurut saya, itu sedang tren (populer). Namun, sayangnya oleh pemerintah tidak banyak dicontoh. Yaitu, pendidikan yang integral.

Ini adalah suatu cara yang menyatukan ketiga faktor pendidikan, yaitu pendidikan di rumah guna mendidik akhlak; pendidikan di sekolah untuk mengajarkan ilmu pengetahuan; dan pendidikan kemasyarakatan.

Kalau kita sudah bisa membangun semuanya secara integral, utuh, maka keseluruhan pendidikan bagaikan kawah candradimuka atau, katakanlah, sebuah pabrik. Dari sana, pendidikan menghasilkan insan-insan yang memiliki integritas tinggi, bermoral, berakhlak, dan berilmu pengetahuan luas. Generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

Sebagai seorang tokoh Gontor, bagaimana institusi pondok modern ini menghadirkan pendidikan Islam yang berkualitas?

Kita mulai dari sejarahnya dulu. Pendiri Gontor ada tiga orang bersaudara, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi. Pada 1926, Kiai Ahmad Sahal saat itu baru pulang nyantri di Pondok Pesantren Siwalanpanji, Sidoarjo. Sementara itu, kedua adik beliau masih nyantri di mana-mana.

Nah, pada 1936 Kiai Ahmad Sahal memanggil adik-adiknya yang sedang merantau agar datang ke Ponorogo. Kemudian, Kiai Zainuddin Fananie menyodorkan atau menceritakan tentang konsep integralitas pendidikan. Gagasan ini telah ditulisnya dalam sebuah buku yang dirilis pada 1934. Judulnya, Pedoman Pendidikan Modern.

 
Melalui konsep integralitas itu, diwujudkan ikhtiar untuk menyatukan ketiga faktor pendidikan, yaitu pendidikan di rumah, di sekolah atau madrasah, dan di tengah masyarakat.
 
 

Dari sanalah, Gontor menghadirkan pendidikan berkualitas untuk umat Islam. Melalui konsep integralitas itu, diwujudkan ikhtiar untuk menyatukan ketiga faktor pendidikan, yaitu pendidikan di rumah, di sekolah atau madrasah, dan di tengah masyarakat.

Sejak itu, Kiai Sahal, Kiai Fananie, dan Kiai Imam Zarkasyi sepakat untuk membangun sebuah lembaga baru yang bernama Kulliayatul Muallaimin al-Islamiyyah (KMI) untuk menerapkan pendidikan terintegrasi. Di situlah kemudian disebut sebagai “Ikrar Tri Murti Pertama” pada 1936. KMI diluncurkan pertama kali di Gontor kira-kira setahun kemudian.

Apa saja visi edukasi dari para Trimurti Gontor yang masih relevan hingga saat ini?

Tentunya integralitas pendidikan itu. Dari tiga elemen tadi, misalnya, pendidikan kemasyarakatan. Di sana, generasi muda diajarkan agar menjadi manusia yang mampu menyatakan sesuatu gagasan dan bebas mendapatkan kemerdekaan. Di sana, mereka diajarkan untuk bisa berpidato dan siap berkompetisi.

Karena ada konsep pendidikan rumah, maka di Gontor dibuatkanlah asrama. Di setiap asrama itu, ada pembimbing dan pembina mereka. Selama di asrama, para santri pun dididik agar selalu disiplin, memiliki jiwa kemandirian dan bertanggung jawab. Artinya, akhlaknya dibentuk.

Kemudian, anak-anak juga masuk sekolah. Di sanalah kemampuan kognitif mereka diasah dan diolah agar memiliki pengetahuan yang luas. Di luar kelas, mereka bisa ke lapangan untuk bermain sepak bola, misalnya, atau musik, pencak silat, dan sebagainya.

Jadi, semua santri Pondok Modern Gontor tidak hanya diajari agama, tetapi juga memperoleh pendidikan secara utuh yang meliputi ketiga unsur tadi: pendidikan rumah, sekolah, dan kemasyarakatan.

Maka begitu lulus, keluar ke tengah masyarakat mereka menjadi insan yang memiliki keahlian berbeda-beda. Saya kira, inilah konsep yang seharusnya diterapkan di Indonesia. Kita harus membangun lebih banyak lembaga pendidikan Islam seperti ini.

Apa saja nilai-nilai yang selalu dipegang Gontor dalam menyelenggarakan pendidikan?

Yang jelas adalah nilai-nilai Islam. Gontor memegang nilai-nilai apa yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, Gontor juga memiliki berbagai filosofi. Misalnya, pendidikan yang melahirkan generasi yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, serta berpikir bebas.

Selain nilai-nilai agama, Gontor juga selalu memegang nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme dalam menyelenggarakan pendidikan Islam. Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka, para pendiri lembaga ini sudah berpikir menciptakan generasi Indonesia yang tangguh, berintegritas kuat, mandiri atau berdikari. Jadi, anak-anak yang masuk Gontor itu sudah sejak awal ditanamkan nilai-nilai itu.

Tiap zaman menghasilkan tantangan tersendiri. Menurut Anda, apa saja tantangan pendidikan Islam masa kini?

Tantangan kita hari ini bersifat global. Globalisasi itu mengalir dari siapa yang paling kuat, yang ternyata banyak dipengaruhi oleh Barat. Padahal, Barat memiliki tatanan yang kapitalistis, sekuler, dan hedonis, serta konsep-konsepnya cenderung yang hanya (memusatkan perhatian pada) keduniawiaan.

Untuk menjawab tantangan itu, maka Kiai Ahmad Sahal, Kiai Zainuddin Fananie, dan Kiai Imam Zarkasyi sudah sepakat untuk mempersembahkan semua harta bendanya, pondok, dan waktunya kepada umat dan bangsa ini. Mereka adalah sosok-sosok yang luar biasa, bervisi jauh ke depan dalam merenungi masa depan negeri ini. Mereka mendirikan lembaga pendidikan untuk menjawab tantangan zaman saat itu, kini, dan nanti.

Salah satu contoh menjawab tantangan globalisasi ialah kemampuan berbahasa internasional. Di KMI Gontor selama enam tahun, anak-anak dididik dalam lingkungan yang disiplin menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Kalau ingin menguasai dunia dan mempelajari ilmu di dunia hari ini, harus belajar bahasa Inggris dengan baik. Kemudian, kalau ingin mendalami Islam, sudah semestinya belajar bahasa Arab. Sebab, semua buku turats (karya alim ulama terdahulu –Red) ditulis dalam bahasa Arab.

Di samping tantangan, ada pula peluang. Bagaimana Anda melihat peluang kemajuan untuk dunia pendidikan Islam khususnya di Indonesia?

Pendidikan Islam di Indonesia itu ada tingkatan-tingkatannya. Mulai dari PAUD, TK Islam, Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Karena itu, kita umat Islam harus terus menjaga semua dan mengembangkannya agar terus relevan, sesuai dengan perkembangan zaman kini.

Sebagai contoh, masa sekarang teknologi yang sangat berkembang adalah digital. Karena itu, sebutannya adalah zaman online. Ada hal-hal dalam pendidikan yang bisa dimediasi daring. Namun, misalnya, pendidikan karakter memang tidak bisa untuk dibuat online.

Karena itu, menurut saya, tidak semua lembaga pendidikan Islam bisa menggunakan sistem online. Kalau, umpamanya, di perkuliahan itu mungkin bisa saja. Sebab, para mahasiswa sudah dewasa. Namun, pendidikan Islam pada tingkat dasar hingga menengah atas belum bisa menerapkan sistem online itu.

 
Namun, mengapa sekarang banyak anak-anak kita yang justru agnostik? Ada apa gerangan? Apa yang sudah dikerjakan pemerintah tentang hal itu? Bagaimana negara hadir untuk memperkuat nilai-nilai agama?
 
 

Mengenai peluang, kalau kita melihatnya dengan saksama, itu ada banyak sekali untuk kemajuan dunia pendidikan Islam di Indonesia. Hari ini, kita berusaha membangun sebanyak-banyaknya pondok pesantren, baik pesantren salaf, pesantren tahfiz, maupun pesantren modern.

Modelnya bisa mengikuti Gontor, ala Tebuireng, ataupun ala Tambakberas. Pokoknya, kita umat Islam harus membangun sebanyak-banyaknya pondok pesantren atau madrasah. Sebab, itulah pembuka kesempatan bagi kita untuk mengubah dunia ini.

Di dalam konstitusi negara kita, agama juga dipandang sebagai hal yang amat penting. Namun, mengapa sekarang banyak anak-anak kita yang justru agnostik? Ada apa gerangan? Apa yang sudah dikerjakan pemerintah tentang hal itu? Bagaimana negara hadir untuk memperkuat nilai-nilai agama?

Nah, karena itulah, kita masyarakat Muslim harus memperbanyak lagi sekolah-sekolah agama. Hanya agamalah yang bisa mengajarkan kita akhlak dan moral.

photo
Antara tahun 2016-2020, Prof Husnan Bey Fananie menjabat duta besar RI untuk Azerbaijan. - (DOK KBRI Azerbaijan)

Raih Gelar Profesor di Azerbaijan

Prof Husnan Bey Fananie merupakan salah seorang keturunan pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Ia adalah cucu KH Zainuddin Fananie (1905-1967).

Alhasil, dunia pendidikan sudah menjadi bagian dari kehidupan bapak dua orang anak (Kifah Gibraltar Bey Fananie dan Rumi Cahaya Nurani Bey Fananie) ini.

Kepada Republika, suami Dian Sarastien Indah menuturkan kisahnya menempuh studi. Jenjang menengah dilaluinya di Kuliyatul Mu’alimin al-Islamiyah (KMI) Gontor hingga 1986. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Pendidikan Darusslam (IPD) Pondok Modern Darussalam Gontor (kini Unida Gontor) hingga 1988.

Husnan Bey juga merantau ke luar negeri. Ia mengambil Jurusan Bahasa Inggris di National Institute of Modern Languages (NIML) Qu’aidi Azam Ali Jinnah University, Islamabad, Pakistan. Begitu lulus pada 1990, ia meneruskan studi ke Jurusan Sejarah dan Studi Islam, University of The Punjab, Lahore.

Gelar master diraihnya dari Belanda dengan tesis yang berjudul “Modernism in Islamic Education in Indonesia and India: A Case Studi of Pondok Modern Gontor and Aligarh.” Dan, titel doktor diperolehnya dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2015 lalu.

Antara tahun 2016 dan 2020, dirinya ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi duta besar RI untuk Azerbaijan. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya ialah meraih gelar guru besar dari Azerbaijan University of Languages, Baku, pada 2018 lalu.

Anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor itu memperoleh gelar tersebut saat aktif sebagai dubes di negara kawasan Kaukasus ini. Kembali ke Tanah Air, dirinya semakin menekuni dunia pendidikan Islam dan dakwah.

“Saya sekarang mengajar di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) dan menjadi anggota badan wakaf di pondok-pondok pesantren, baik di Gontor maupun di pesantren alumni Gontor,” ujar Husnan saat dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Prof Husnan saat ini juga memimpin Pondok Pesantren Modern Darul Ilmi Indonesia, yang mengadopsi sistem pendidikan Pesantren Gontor. Darul Ilmi Indonesia merupakan pesantren modern dengan pendidikan 100 persen KMI Gontor Mu'adalah di Bogor, Jawa Barat. Pesantren tersebut rencananya akan dibuka pada tahun ini.

 


Panggilan Hati Claudia Theresia untuk Berislam

Air mata saya berlinang. Apakah ini petunjuk dari Allah untuk menguatkan tekad saya berhijrah?

SELENGKAPNYA

Sesudah Ramadhan Berlalu

Syawal yang datang sesudah Ramadhan hendaknya tetap menjadi momen perbaikan ketakwaan.

SELENGKAPNYA

Sarinah, Revolusi Fisik, dan Lebaran 1966

Toserba Sarinah merupakan obsesi Sukarno dalam revolusi fisik seusai revolusi kemerdekaan.

SELENGKAPNYA
×