Alwi Shahab | Daan Yahya/Republika

Jakarta

Hangatnya Solidaritas dan Kerukunan Warga Betawi

Dalam hal kerukunan dan hidup dalam keberagaman, warga Betawi bisa dibilang sudah amat berpengalaman.

OLEH ALWI SHAHAB

Indonesia mempunyai catatan tentang sentimen dan kerusuhan antaretnis. Kerusuhan yang berlatar etnis pun menorehkan trauma terhadap masyarakat yang mengalaminya. Bahkan, mungkin hingga saat ini. Sering kali tiap keributan selalu menelan korban, baik kerugian materi hingga korban jiwa. 

Dalam hal kerukunan dan hidup dalam keberagaman, warga Betawi bisa dibilang sudah amat berpengalaman. Tempat ini sejak berabad-abad silam sudah menjadi pusat kegiatan pemerintahan. Lebih dari 300 etnis dan suku bangsa, termasuk warga asing hidup dan bercampur baur di sini.

Namun, bisa dibilang hampir tidak pernah terjadi bentrokan antarpenduduk asli dan pendatang. Perkelahian antarkampung memang kerap terjadi, namun biasanya bukan antara pendatang dan orang asli Betawi.

Perjalanan etnis Betawi beserta peninggalannya tercatat di Museum Fatahillah. Ketika Pelabuhan Sunda Kalapa dibuka pada abad ke-8, kawasan ini sudah didatangi para pedagang dari 36 negara. Jakarta sudah bercorak internasional sejak masih bernama Sunda Kalapa.

 
Orang dengan latar belakang bangsa, bahasa, kebudayaan, warna kulit, dan keyakinan agama yang berbeda sejak berabad-abad lalu sudah bertemu di sini. 
 
 

Orang dengan latar belakang bangsa, bahasa, kebudayaan, warna kulit, dan keyakinan agama yang berbeda sejak berabad-abad lalu sudah bertemu di sini. Hal ini lebih dipertegas lagi dengan laporan VOC bahwa sejak awal berdirinya, penduduk Batavia terdiri atas berbagai etnis.

Karena itulah, sejak dulu bagi orang Betawi tidak aneh hidup dan bergaul dengan para pendatang. Kawin campur pun bukan masalah bagi suku Betawi, selama mereka satu keyakinan. Sejarawan Betawi Ridwan Saidi menyebut Betawi adalah etnis paling matang menerima gagasan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi satu).

Baiklah kita telusuri sejumlah kampung di kota multietnis ini. Di Kwitang, Jakarta Pusat, penduduk asli bergaul akrab dengan pendatang. Di tempat ini saya dibesarkan. Saya mempunyai teman-teman para pendatang dan agama kami berbeda-beda.

Pada 1950-an kampung kami mempunyai kesebelasan sepak bola yang bernama Cahaya Kwitang. Pemainnya adalah pemuda-pemuda dari satu kampung yang berlainan etnis dan keyakinan.

 
Di Tanah Abang, tempat saya mengontrak rumah di era 1960-an, penduduk asli sudah tidak lagi membedakan antara mereka dan para pendatang. 
 
 

Di Tanah Abang, tempat saya mengontrak rumah di era 1960-an, penduduk asli sudah tidak lagi membedakan antara mereka dan para pendatang. Di Gang Lontar, Tanah Abang, pernah tinggal Ketua Umum Muhammadiyah Buya Sutan Mansur, yang bergaul akrab dengan ulama-ulama NU setempat. 

Selama enam tahun tinggal di kampung ini, tidak pernah saya dapati ribut hanya karena masalah furuhiyah (perbedaan pendapat ahli fiqih). Bahkan, Buya Sutan Mansyur tiap Jumatan shalat di masjid yang aliran agamanya dekat ke NU karena tempat tinggalnya berdekatan dengan masjid tersebut.

Bergeser ke Kampung Pekojan di Jakarta Barat sampai tahun 1960-an merupakan kampung yang didominasi keturunan Arab. Di sini mereka dan warga Muslim hidup rukun dengan warga non-Muslim. Ketika bulan puasa, warga Tionghoa tidak makan dan minum di hadapan warga Muslim sebagai tanda menghormati.

Keterangan yang saya peroleh dari para jamaaah Pekojan, ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, mereka ikut menjaga dan mengamankan rumah-rumah Cina di Pekojan, yang letaknya berdekatan dengan Glodok.

Dalam kaitan dengan agama, menurut tokoh Betawi H Irwan Syafe’ie, warga Betawi tidak iri hati terhadap pendatang yang sukses. Mereka berpegang rezeki datangnya dari Allah asal dijemput secara jujur. Mereka tidak mau omongin kekayaan para pendatang karena takut melakukan gibah yang dilarang agama, ujarnya.

Contohnya adalah kampung-kampung Betawi yang kini menjadi kawasan elite, seperti Kemang, Pondok Indah, Kuningan, Simpruk, Kebagusan, dan masih banyak lagi. Di sini terdapat rumah-rumah mewah, sedangkan orang Betawi tinggal di lorong-lorong jalan yang sempit dan kumuh. Di tempat-tempat ini warga Betawi tidak ketinggalan rasa humornya. 

Tulisan ini disadur dari Harian Republika edisi Jumat, 13 Januari 2014. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020.

Atiqah dan Kesabaran Istri Syuhada

Atiqah sempat menikah empat kali dengan pria-pria terbaik dari generasi awal Islam.

SELENGKAPNYA

Perang Mental AC Milan Vs Inter Milan

Inter Milan akan menjamu AC Milan pada leg kedua semifinal Coppa Italia.

SELENGKAPNYA

Real Madrid Dekati Tangga Juara

Real Madrid tak kehilangan kepercayaan diri meski sudah tertinggal 0-2 saat melawan Chelsea

SELENGKAPNYA