Perempuan Afghanistan menyelimuti dirinya di luar kantor Direktorat Kebencanaan di Herat, Senin (29/11/2021). | AP Photo/Petros Giannakouris

Kabar Utama

Zakat Selamatkan Jutaan Pengungsi Dunia

Zakat memiliki peran signifikan dalam penanganan krisis pengungsi di dunia.

JAKARTA – Zakat memiliki peran signifikan dalam penanganan krisis pengungsi di dunia. Lembaga-lembaga filantropi Islam menjadi mitra yang diharapkan dapat membantu pekerjaan Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR).

Pada 2019, UNHCR meluncurkan program “UNHCR Refugees Zakat Fund”. Penghimpunan dana lewat program tersebut telah membantu lebih dari 4,3 juta orang yang kehilangan tempat tinggal di seluruh dunia, khususnya di Asia, Afrika, dan kawasan Timur Tengah serta Afrika Utara.

Memasuki 2020 dan 2021, dampak masif pandemi Covid-19 turut menyodorkan tantangan bagi kerja UNHCR. Di tengah situasi kritis tersebut, UNHCR mengapresiasi kedermawanan dan dukungan lebih dari 40 mitra filantropi Islam mereka di seluruh dunia.

“Ini telah memungkinkan UNHCR menyalurkan zakat dan sedekah ke lebih dari 1,2 juta penerima manfaat di 14 negara. Menyediakan bantuan yang menyelamatkan jiwa untuk memenuhi kebutuhan mendesak,” kata penasihat senior UNHCR untuk filantropi Islam, Khalid Khalifa, dalam sambutannya di acara “UNCHR Islamic Philanthropy 2022 Annual Report” yang diselenggarakan secara virtual pada Rabu (23/3).

Kendati demikian, dalam konteks adanya 86 juta pengungsi, di mana hampir 60 persennya berasal dari negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), kebutuhan kemanusiaan sedang melonjak.

“Hari ini, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada mitra kunci kami di Asia. Lebih dari 10 institusi Islam, baik umum maupun swasta, telah maju mendedikasikan zakat dan sedekah untuk pengungsi di Indonesia, Malaysia, Afghanistan, Yordania, dan Suriah,” kata Khalifa.

Untuk mitra di Indonesia, dia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Rumah Zakat. Khalifa pun menyampaikan hal serupa untuk Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan (MAIWP) di Malaysia dan Rahmatan lil Alamin Foundation di Singapura.

Deputy Director UNHCR Bernard Doyle turut berpartisipasi dalam acara “UNCHR Islamic Philanthropy 2022 Annual Report”. Dia mengungkapkan, saat ini masih banyak warga di seluruh dunia yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk menghindari perang, konflik, dan aksi atau tindakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Tugas UNHCR adalah memberikan bantuan dan mencarikan solusi untuk orang-orang tersebut.

“Solusi terpenting adalah mengembalikan mereka ke tempat asalnya, rumahnya sendiri. Tentu saja tidak ada organisasi yang bisa melakukan tugas kompleks semacam ini. Kita hanya bisa berhasil jika bermitra dengan pihak lain,” ucapnya.

Dia mengatakan, saat ini krisis pengungsi terjadi di banyak negara, antara lain Suriah, Afghanistan, Myanmar, Bangladesh, dan yang paling terbaru adalah Ukraina. Laporan terakhir menyebut, lebih dari 3,5 juta warga Ukraina telah mengungsi ke negara-negara tetangga untuk menghindari pertempuran yang sedang berlangsung dengan Rusia.

photo
Perempuan dan anak duduk di kasur yang disumbangkan UNHCR di al-Jarahi, Hodeidah, Yaman, Kamis (10/2/2022). - (EPA-EFE/YAHYA ARHAB)

Menurut Doyle, krisis di Afghanistan merupakan krisis terburuk yang kini sedang terjadi di dunia. UNHCR memperkirakan, saat ini terdapat 3,4 juta orang terlantar di Afghanistan dan lebih dari 2,2 juta lainnya melarikan diri ke negara-negara tetangga. Doyle mengungkapkan, situasi di negara tersebut sangat menyedihkan.

Ia menambahkan, keruntuhan ekonomi di Afghanistan telah membawa masyarakat di sana ke jurang kemiskinan. "Saat ini diperkirakan lebih dari 23 juta warga Afghanistan menghadapi tingkat kelaparan luar biasa. Angka itu separuh dari populasi negara tersebut,” kata Doyle.

Selama satu dekade ini, kata dia, UNHCR bekerja dengan rakyat Afghanistan dan para mitra untuk menyediakan bantuan penyelamatan jiwa di negara tersebut. UNHCR menyatakan bakal melanjutkan program tersebut.Kendati demikian, Doyle mengakui UNHCR tidak dapat bekerja sendirian. Inisiatif dari satu organisasi saja tidak akan mampu menangani atau mengatasi krisis pengungsi. 

“Kami bergantung pada para mitra kami, termasuk para mitra dari umat Islam yang bersama kami hari ini. Kita harus memiliki kemitraan yang lebih kuat, karena kebutuhannya jauh melebihi dari solusi yang bisa kita berikan." 

Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Ventje Rahadrdjo mengungkapkan, saat ini Indonesia berada di posisi keempat sebagai negara penampung pengungsi terbanyak di Asia. Tiga negara teratas ditempati Thailand, Bangladesh, dan Malaysia. “Kebanyakan pengungsi dari Indonesia berasal dari Afghanistan, Somalia, dan Myanmar,” kata Ventje.

Adapun secara global, kata dia, setidaknya terdapat 60 juta orang yang terpaksa menjadi pengungsi atau pencari suaka. Menurutnya, komunitas internasional harus bekerja sama untuk membantu mereka. “Karena krisis pengungsi bukan menjadi masalah UNHCR saja, tapi masalah kemanusiaan, yang merupakan suatu tanggung jawab bersama semua lembaga terkait,” katanya.

Dia menambahkan, hal yang cukup memprihatinkan adalah sebanyak 60 persen dari lebih dari 80 juta pengungsi di dunia berasal dari negara-negara OKI. “Dalam hal ini, KNEKS memberikan dukungannya dengan membuat Islamic Philanthropy Fund, khususnya dalam bentuk zakat untuk memberikan dukungan dana kepada para pengungsi,” ujarnya.

Ventje mengatakan, pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka, termasuk dalam ketegori ibnu sabil. “Jadi mereka berhak mendapatkan dana zakat,” tuturnya.

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, memiliki potensi zakat dan wakaf yang signifikan. Potensi itu dapat digunakan untuk program sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi, termasuk tindakan-tindakan kemanusiaan internasional.

Menurut dia, organisasi zakat dan badan kemanusiaan di Indonesia sejak lama sudah memiliki program untuk membantu pengungsi. Mereka memberikan bantuan dalam bentuk pangan, pelayanan kesehatan, pendidikan, penampungan sementara, pemulihan trauma, dan lainnya.

“Dalam banyak kesempatan, lembaga zakat dan badan kemanusiaan Indonesia memberi bantuan dan mengadvokasi para pengungsi agar mereka memperoleh hak secara benar dan adil,” ucapnya.

Kendati demikian, Ventje mengatakan, penggunaan zakat dan sedekah tentu saja difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, termasuk kegiatan produktif mereka. “Kami di KNEKS mendorong semua organisasi filantropi Islam, lembaga amil zakat Indonesia, dan lembaga keuangan islam, menjalin kerja sama dan koordinasi erat dengan UNHCR,” ujar Ventje. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat