Anak-anak bermain di pengungsian al-Hol di Hasakeh, Suriah, Mei 2021 lalu. | AP/Baderkhan Ahmad

Internasional

04 Mar 2022, 03:45 WIB

Mengapa tak Ada yang Melihat Kami?

Polandia menyambut pengungsi perang Ukraina, tapi menolak pengungsi Timur Tengah.

OLEH DWINA AGUSTIN

Pengungsi Suriah, Ahmad al-Hariri, melarikan diri dari perang di negaranya ke negara tetangga Lebanon 10 tahun lalu. Dia menghabiskan satu dekade terakhir dengan harapan sia-sia untuk melarikan diri ke kehidupan baru di Eropa.

Ia menyaksikan negara-negara Eropa membuka tangan kepada ratusan ribu orang Ukraina dalam waktu kurang dari seminggu. Ayah tiga anak ini mau tak mau membandingkan nasibnya.

"Kami bertanya-tanya, mengapa orang Ukraina diterima di semua negara, sementara kami, pengungsi Suriah, masih di tenda dan tetap di bawah salju, menghadapi kematian, dan tidak ada yang melihat kami?" katanya di sebuah pusat pengungsi dengan 25 keluarga berlindung di tepi kota Mediterania, Sidon, Lebanon.

Sebanyak 12 juta warga Suriah telah tercerabut oleh perang, kritikus mulai dari Hariri hingga aktivis dan kartunis membandingkan reaksi Barat terhadap krisis pengungsi yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina. Mereka menyoroti cara Eropa berusaha menahan pengungsi Suriah dan pengungsi lainnya pada 2015.

photo
Para imigran dari Timur Tengah menghangatkan diri di dekat perbatasan Belarus-Polandia di Grodno, Sabtu (13/11/2021). Tak seperti pengungsi dari Ukraina saat ini, pemerintah Polandia melarang mereka masuk kala itu. - (AP/Leonid Shcheglov/BelTA)

Beberapa orang mengingat peristiwa ketika pengungsi yang berjalan selama berhari-hari dalam cuaca buruk. Terkadang, banyak yang kehilangan nyawa di penyeberangan laut yang berbahaya ketika mencoba menembus perbatasan Eropa.

Pada awal 2021, sepuluh tahun setelah konflik Suriah meletus, negara-negara Uni Eropa telah menerima satu juta pengungsi dan pencari suaka Suriah, lebih dari setengahnya diterima oleh Jerman. Sebagian besar dari mereka tiba sebelum kesepakatan 2016, saat Uni Eropa setuju membayar miliaran euro kepada Turki untuk terus menampung 3,7 juta warga Suriah.

Perdana Menteri Bulgaria Kiril Petkov membandingkan pengungsi Ukraina saat ini dengan gelombang pengungsi Timur Tengah dan Afrika. Ia menggambarkan orang Ukraina sebagai orang yang cerdas, berpendidikan, dan berkualifikasi tinggi. Bulgaria berjanji akan membantu semua orang yang datang dari Ukraina, ada sekitar 250 ribu etnis Bulgaria.

"Pengungsi yang ada kali ini berbeda dari yang dulu -- yaitu orang tak jelas masa lalunya," kata Petkov. Tahun lalu, sebanyak 3.800 warga Suriah mencari perlindungan di Bulgaria. Sebanyak 1.850 orang diberikan status pengungsi atau alasan kemanusiaan.

Pemerintah Polandia menyambut orang-orang yang melarikan diri dari perang Ukraina. Padahal negara ini mendapat kecaman internasional tahun lalu karena menolak gelombang imigran yang menyeberang dari Belarus, sebagian besar dari Timur Tengah dan Afrika.

Sedangkan Hungaria membangun penghalang di sepanjang perbatasan selatannya untuk mencegah terulangnya arus masuk orang dari Timur Tengah dan Asia pada 2015. Kali ini kedatangan pengungsi dari negara tetangga Ukraina telah memicu banjirnya dukungan dan tawaran transportasi, akomodasi jangka pendek, pakaian, dan makanan.

Sementara sejumlah pewarta Barat berpendapat bahwa bencana kemanusiaan di Ukraina berbeda dengan krisis di Suriah, Irak, atau Afghanistan. Misalnya, Charlie D'Agata, seorang reporter televisi di jaringan CBS, menggambarkan Kiev sebagai kota yang relatif beradab dan sama dengan Eropa. Ia menilainya berbeda dengan zona perang lainnya.

Sang reporter pun akhirnya meminta maaf. Dia mengatakan telah berusaha menyampaikan skala konflik.

Dengan tindakan diskriminasi negara-negara Eropa dalam menerima pengungsi, beberapa pengungsi di Suriah utara, Lebanon, dan di Yordania mengatakan, tanggung jawab atas penderitaan  terletak pada pihak berwenang yang lebih dekat ke tempat asal mereka. Mereka menyatakan negara-negara Arab seharusnya berbuat lebih banyak untuk para pengungsi.

"Kami tidak menyalahkan negara-negara Eropa, kami menyalahkan negara-negara Arab," kata Ali Khlai, yang tinggal di sebuah tenda di dekat kota Azaz, Suriah barat laut. "Negara-negara Eropa menyambut mereka dari rakyatnya. Kami menyalahkan saudara-saudara Arab kami, bukan yang lain," ujarnya.  ';

×