Penjaga stan memperlihatkan kain batik Lasem pada pameran UMKM | ANTARA FOTO

Modis

Berpadunya Keindahan Batik Cina Kecil

Pada batik Lasem, pengaruh Cina sangat kentara dari warnanya yaitu merah menyala.

 

OLEH GUMANTI AWALIYAH

Batik menjadi ikon budaya penting di Indonesia. Batik memiliki sejarah panjang hingga akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009.

Batik mendapatkan pengaruh dari berbagai budaya, termasuk Cina. Pengaruh budaya Cina terhadap motif batik di nusantara bisa dilihat dari sejarah batik di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Dalam buku berjudul Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Source pada 1960, Willem Pieter Groeneveldt menyebut kedatangan orang Cina ke wilayah Jawa diperkirakan terjadi pada 414 Masehi. Kedatangan mereka ke negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia adalah untuk berdagang, yang kemudian memberikan banyak pengaruh pada berbagai aspek budaya, termasuk batik.

Sejarawan busana dari Universitas Padjadjaran, Ayu Septiani, menjelaskan sejarah batik di Lasem dimulai ketika Raja Lasem Bhre Lasem I memerintah kerajaan kecil (1350-1375). Pada masa itu, para bangsawan sudah menggunakan batik. 

Bhre Lasem diduga memiliki pembatik sendiri dan mempekerjakan pembatik yang sudah terampil. Hal tersebut dapat dilihat dari artefak kain batik pada zaman Majapahit.

photo
Perajin menyelesaikan pembuatan batik lasem di Desa Karangturi, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (25/11/2021). Batik dengan ciri khas pesisir hasil akulturasi dari budaya Tiongkok dan Jawa tersebut memiliki motif latohan, naga, sampes engthai, kilin, kupu-kupu, burung hong hingga gunung ringgit. - (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Selain itu, di Kecamatan Lasem tumbuh sebuah pusat pemukiman orang Cina, yaitu di daerah Dasun, Babagan, dan Karangturi. Arsitektur dan tradisi Cina yang dominan di Kecamatan Lasem membuat wilayah ini disebut sebagai “Cina Kecil”.

“Di Lasem pun terdapat aktivitas produksi batik dengan mempekerjakan orang-orang pribumi sehingga terdapat dua motif batik yang terkenal asal Lasem yaitu batik dengan motif Cina dan batik dengan motif pribumi,” kata Ayu ketika dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Ayu menyebut momentum perkembangan batik di Lasem terjadi ketika Laksamana Cheng Ho singgah di Lasem untuk memperbaiki kapalnya. Dia juga menurunkan awak kapal yang sakit untuk berobat. 

Seorang nakhoda kapal Cheng Ho bernama Bi Nang Un tertarik untuk menetap di Lasem. Bi Nang Un kemudian memboyong istri dan dua putrinya, yakni Bi Nang Ti dan Bi Nang Na. Bi Nang Ti inilah yang kemudian mengajarkan warga setempat untuk membuat batik dengan motif bernuansa Cina yang dipadukan dengan motif Jawa.

photo
Pengunjung menunjuk kain batik Lasem produksi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang dipajang di pameran, beberapa waktu lalu. FOTO ANTARA/R. Rekotomo/Koz/mes/12. - (ANTARA)

Saat tumbuh dewasa, Bi Nang Ti terampil membatik, menyulam, dan menenun. Keterampilannya itu memikat Adipati Badranala yang berkuasa saat itu. Setelah dipersunting, Bi Nang Ti mengajari penduduk membatik meski ada juga penduduk yang sudah bisa membatik. 

“Bi Nang Ti mengajarkan membatik dengan teknik yang benar dan ditambah dengan kreasi,” ujar Ayu.

Batik tulis Lasem memiliki karakteristik berbeda dengan batik tulis di wilayah lainnya, baik itu dari komposisi warna, motif, maupun ragam hiasnya. Batik Lasem memiliki tiga motif utama, yakni motif naga, motif lok can atau motif burung hong, dan motif sekar jagat. Ketiga motif tersebut menjadi wujud akulturasi budaya antara Jawa dan Cina.

Menurut Ayu, orang-orang Cina dapat diterima oleh masyarakat setempat sehingga mereka dapat hidup berdampingan. “Inilah yang membuat proses akulturasi budaya pada batik berjalan dengan harmoni,” kata Ayu.

photo
Penjaga stan menata kain batik Lasem pada pameran Produk Lokal Indonesia, di Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/R. Rekotomo/foc/17. - (ANTARA FOTO)

Secara umum, ciri khas dari motif batik yang mendapat pengaruh dari Cina bisa dilihat dari komposisi warna. Utamanya warna merah yang berarti keberuntungan bagi masyarakat Cina. 

Pada batik Lasem, pengaruh Cina sangat kentara dari warnanya, yaitu merah menyala, masyarakat menyebutnya getih pitik (darah ayam). Dalam buku Nurhajarini berjudul Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perbedaan Sejarah dan Budaya (2015), pada 1900-1930, motif khas Cina pada batik Lasem seperti delima, ayam hutan, bunga seruni, bunga lotus, burung merak, dan burung phoenix. Sementara itu, motif batik Cirebon yang dipengaruhi oleh Cina adalah motif megamendung atau kabut.

Bagi masyarakat Cina, makna kabut sering dikaitkan dengan hujan sebagai pembawa keberuntungan. “Sebagaimana kita sering mengaitkan Hari Raya Imlek dengan sering datangnya hujan di Indonesia,” kata Ayu.

bati

photo
Panitia menata batik Lasem yang dipajang dalam Pameran Batik Peranakan di Hotel Tugu, Malang, Jawa Timur, Rabu (3/4/2019). Pameran yang berlangsung selama lima hari tersebut diadakan untuk membandingkan ciri warna serta corak batik peranakan yang didominasi motif shio, burung hong, dan bunga. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc. - (ANTARA FOTO)

Tidak hanya pada motif batik, etnis Cina juga memengaruhi cutting batik, misalnya pada batik encim dan kebaya encim. Menurut Ayu, disebut batik dan kebaya encim karena kata encim memiliki arti sebagai seorang perempuan keturunan Cina yang sudah bersuami.

Ada yang mengatakan bahwa encim adalah panggilan untuk kakak, tapi ada pula yang mengatakan panggilan untuk bibi. “Namun, orang-orang pribumi menyebut perempuan keturunan Cina dengan encim sehingga kebaya dan batik yang dikenakannya pun disebut kebaya encim dan batik encim,” papar Ayu.

Lasem juga dikenal sebagai Cina Kecil. Di Lasem, banyak perajin dan toko batik yang menjajakan koleksi batik dengan beragam motif yang kental pengaruh etnis Cina. Salah satunya adalah Oemah Batik Lasem Tiga Negeri.

Marketing Oemah Batik Lasem Tiga Negeri Lukluk Nur Zhohiroh menyebutkan beberapa motif batik yang mendapat pengaruh budaya Cina, yakni motif kiellin, motif naga, burung hong, dan sinografi.

photo
Pengunjung memilih kain batik Lasem, pada Finance & UMKM Expo di Semarang, Jateng, beberapa waktu lalu. FOTO ANTARA/R. Rekotomo/Koz/mes/12. - (ANTARA)

Semua motif itu juga memiliki filosofi yang berbeda-beda. “Motif naga melambangkan kekuatan dan kekuasaan, motif kiellin melambangkan kekuatan, motif burung hong melambangkan panjang umur,” kata Lukluk saat dihubungi Republika, Jumat (28/1).

Saat menjelang perayaan Imlek, penjualan batik dengan motif yang kental pengaruh Cina tidak mengalami peningkatan. Menurut Lukluk, penjualan batik dengan motif perpaduan Cina masih di angka normal.

“Untuk Imlek, kami lebih fokus ke baju Imlek. Kalau penjualan batiknya, masih normal tidak ada kenaikan permintaan,” kata Lukluk.

photo
Penjaga stan menata kain batik Lasem, pada sebuah pameran di Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. ANTARA/R. Rekotomo/Koz/mes/11. - (ANTARA)

Mengapa Dinamakan Batik Tiga Negeri?

Lasem menjadi salah satu daerah yang dikenal dengan julukan Kota Batik. Alasannya karena batik tiga negeri yang diproduksi di sana memiliki motif yang indah dan berkualitas. 

Penamaan batik Lasem tiga negeri bukan tanpa alasan. Nama itu disematkan karena batik tersebut terdiri atas tiga kali proses pewarnaan, yakni merah, biru, dan cokelat. Tiga pewarnaan tersebut merupakan warna khas dari daerah berbeda, misalnya warna merah adalah warna khas dari Lasem, lalu warna biru khas dari Pekalongan, dan warna cokelat merupakan khas dari Solo.

photo
Perajin menyelesaikan pembuatan batik lasem di Desa Karangturi, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (25/11/2021). Batik dengan ciri khas pesisir hasil akulturasi dari budaya Tionghoa dan Jawa tersebut memiliki motif latohan, naga, sampes engthai, kilin, kupu-kupu, burung hong hingga gunung ringgit. - (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

“Kenapa kok dinamain tiga negeri? Karena dari tiga tempat yang berbeda dan tiga warna tadi. Kalau zaman dulu, untuk mewarnai merah, biru, cokelat tidak bisa dalam satu tempat dan harus pindah-pindah, tapi sekarang dalam satu tempat saja sudah bisa,” kata Marketing Oemah Batik Lasem Tiga Negeri Lukluk Nur Zhohiroh kepada Republika, Jumat (28/1).

Adapun untuk motif khas dari Lasem terdiri atas latohan atau anggur laut, kricak, sekar jagat, dan gringsing atau sisik ikan. Semua motif tersebut juga memiliki arti masing-masing. Motif latohan adalah makanan khas dari Kota Lasem yang biasanya dibuat urap latoh.  

Motif kricak menggambarkan penjajahan pada zaman Willem Daendels, ketika masyarakat Lasem disuruh membuat jalan dengan memecahkan batu besar menjadi batu kecil yang disebut kricak. Motif tersebut sebagai salah satu bentuk menghargai jasa para pahlawan.