Seorang warga berjalan di tengah banjir di kawasan Cengkareng, Jakarta, Selasa (18/1/2022). Banjir tersebut terjadi karena buruknya drainase di kawasan itu serta tingginya instensitas hujan pada Selasa (18/1) siang. | ANTARA FOTO/Fauzan

Jakarta

20 Jan 2022, 02:33 WIB

Ratusan Warga Jakarta Barat Mengungsi Akibat Banjir

Banjir di Jakbar yang belum surut akibat curah hujan tinggi, rob, dan luapan Kali Semongol.

JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyatakan, sebanyak 815 warga Jakarta Barat (Jakbar) yang terdampak banjir harus mengungsi ke sejumlah kelurahan. Hal itu akibat banjir yang melanda 64 rukun tetangga (RT) di Jakbar dengan ketinggian air hingga satu meter.

“Informasi genangan ada di 64 RT,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, M Insyaf, saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (19/1).

Dari 64 RT dari total 30.470 RT di seluruh Ibu Kota, BPBD mencatat, sebanyak 234 kepala keluarga (KK) atau 743 jiwa adalah warga yang terdampak banjir di Kelurahan Tegal Alur, Kecamatan Kalideres. Mereka harus mengungsi di 11 lokasi, yaitu di Rusunawa Binaan Tegal Alur, Mushala al-Hidayah, Belakang Bubur Olo-Olo, RPTRA Alur Anggrek, dan Masjid Darurohman.

Kemudian, di Majelis Taklim al-Hikmah, RPTRA Kemuning, Majelis Taklim Durrotul Abiddin, Mushala al-Ikhlas, Masjid Nurul Hidayat, dan Majelis Nurul Husna. Insyaf menjelaskan, ketinggian air di 31 RT di Kelurahan Tegal Alur mencapai 40-100 cm. "Penyebabnya curah hujan tinggi, rob, dan luapan Kali Semongol," ucapnya.

Dia menambahkan, banjir juga melanda 12 RT di Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres, dengan ketinggian 40-50 cm. Banjir tersebut dipicu curah hujan tinggi, rob, dan luapan Kali Semongol.

Selanjutnya, ketinggian air di 13 RT di Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, mencapai 50 cm yang disebabkan curah hujan tinggi. Insyaf menyebut, jumlah pengungsi di dua kelurahan tersebut mencapai 22 KK atau 72 jiwa yang mengungsi di Mushala al-Hidayah.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BPBD DKI Jakarta (bpbddkijakarta)

Sedangkan di Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, kata dia, juga terjadi genangan yang melanda delapan RT akibat curah hujan tinggi. Hanya saja, kata dia, penanganan di Kelurahan Kapuk bisa dilakukan lebih cepat dibandingkan kelurahan lain yang kebanjiran. "Kondisi genangan sedang ditangani oleh dinas SDA, damkar, dan PPSU kelurahan yang ditargetkan surut dalam waktu cepat," kata Insyaf.

Sementara itu, banjir di Jalan Kamal Raya, Kelurahan Tegal Alur, yang belum surut, menyebabkan puluhan sepeda motor mogok. Terpantau genangan menyelimuti ruas jalan tersebut sepanjang kurang lebih 400 meter.

Pantauan di lokasi pada Rabu pukul 15.00-15.30 WIB saja, sekitar 30 motor yang mencoba menerobos genangan setinggi 15-20 cm akhirnya mogok di tengah jalan. Sebagian dari mereka ada yang harus mendorong sepeda motor sendirian hingga ujung jalanan yang tidak terendam banjir dan sebagian pengendara lagi ada yang dibantu warga sekitar.

Salah satu pengendara motor, Dimas (26 tahun), mengaku, kendaraannya tiba-tiba mengalami mesin mati saat melintasi Jalan Kamal Raya dari arah Kalideres menurut TPU Tegal Alur sekitar pukul 15.50 WIB. Ketika melintas ruas jalan pertama yang tergenang banjir, motor yang dikendarai Dimas masih bisa melewatinya.

"Pas genangan yang pertama saya masih bisa lewat. Terus pas ketemu genangan lagi pas banget kondisinya lagi macet. Jadi, motor saya, mau enggak harus berhenti," kata Dimas. Ketika motor Dimas berhenti di tengah kemacetan, mesinnya pun langsung mati diduga karena terendam air.

Ditangani cepat

Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan menjelaskan, hujan ekstrem dengan intensitas di atas 150 milimeter (mm) sempat melanda Ibu Kota dalam beberapa hari. Terakhir, hujan dengan intensitas tinggi terjadi pada Selasa (18/1). Anies mengeklaim, genangan yang terjadi di sejumlah wilayah dapat dengan cepat diatasi cepat. Hal itu tercapai berkat kerja sistematis dan kerja cepat banyak pihak.

"Jakarta dilanda hujan ekstrem, tapi bisa ditangani cepat. Kenapa? Atas izin Allah, kerja cepat itu membuatkan hasil!" kata Anies di Jakarta.

Dia memaparkan, curah hujan di Kemayoran, Jakarta Pusat, tercatat mencapai 204 milimeter. Pun di Teluk Gong, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara (Jakut), mencapai 193 mm dan di Pulomas, Jakarta Timur, di angka 177 mm. "Di Kelapa Gading 163 mm," kata Anies.

Dengan intensitas seperti itu, menurut Anies, wajar terjadi genangan di Jakarta karena debit melebihi 100 mm per hari. Pasalnya, kapasitas drainase di Ibu Kota kini ada di angka 50-100 mm.

"Jika turun hujan ekstrem hingga terjadi banjir maka prioritas Pemprov DKI Jakarta adalah memastikan warga aman dan tak ada korban jiwa. Lalu, memastikan semua usaha pemompoaan dikerjakan," ujarnya.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, mengkritik terjadinya genangan dan banjir di Jakarta selama dua hari, yaitu pada Selasa dan Rabu. Dia menyebut, hal itu menunjukkan Jakarta belum siap mengantisipasi banjir. Dia menilai, curah hujan ekstrem seharusnya tidak bisa menjadi alasan terjadinya genangan, apalagi banjir.

“Padahal, curah hujan yang cenderung tinggi menjelang puncak musim hujan di akhir Januari dan awal Februari, sudah bisa diprediksi,” kata Nirwono. 


×