Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika

Refleksi

08 Jan 2022, 03:18 WIB

Menguatkan Akhlak dalam Bermuamalah

Mari kita tegakkan akhlak dalam bermuamalah, saling menghargai, saling mencintai, dan saling menolong antara sesama.

OLEH PROF DIDIN HAFIDHUDDIN

Kita sama-sama menyadari bahwa bahwa salah satu fenomena buruk yang terjadi begitu masif di sebagian masyarakat kita beberapa tahun terakhir ini adalah sering tersebarnya berita buruk yang menghujat, menghina, bahkan memfitnah yang lain tanpa ada klarifikasi atau tabayun sebelumnya.

Jika fenomena buruk ini dibiarkan, dipelihara, bahkan dikembangkan, pasti akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa mendatang. Sebab, hal itu menggambarkan kerusakan akhlak dan moral dalam bermuamalah yang punya implikasi negatif pada sendi-sendi kehidupan yang lain.

Seorang pujangga Islam, Syauqi Beik, menyatakan bahwa tegaknya umat dan bangsa itu sangat bergantung pada akhlaknya. Jika beres akhlaknya maka akan beres bangsa itu, dan jika rusak serta hancur akhlaknya makan akan hancur pula bangsa tersebut. “Sesungguhnya kekalnya suatu umat sangat bergantung pada akhlaknya. Apabila akhlak mereka hilang maka hilanglah eksistensi mereka” (Ahmad asy-Syauqiey).

Berkaitan dengan hal tersebut, kita memahami bahwa salah satu tujuan utama Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini adalah dalam rangka menyempurnakan akhlak mulia, baik akhlak kepada Allah SWT maupun akhlak pada sesama manusia. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad, dari Abu Hurairah, beliau bersabda: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu).

Dan beliau pun adalah seorang nabi dan rasul yang memiliki akhlak yang agung dan mulia, sebagaimana firman Allah dalam QS al-Qalam (68) ayat 1-4: “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis (1). Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila (2). Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya (3). Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (4).”

 
Salah satu tujuan utama Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini adalah dalam rangka menyempurnakan akhlak mulia.
 
 

Ketika Rasulullah SAW mengutus Muadz bin Jabal untuk pergi ke Yaman menjadi dai di sana, beliau berpesan kepada Muadz. Pertama, hendaknya selalu bertakwa kepada Allah SWT kapan dan di manapun berada.

Kedua, apabila melakukan perbuatan yang salah, harus segera diikuti dengan perbuatan yang baik agar perbuatan baik itu menghapus dosa dan kesalahan sebelumnya. Ketiga, pergaulilah sesama manusia dengan akhlak yang mulia/pergaulan yang baik.

Dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Turmuzi, Rasulullah SAW bersabda tentang perlunya menegakkan akhlak mulia dalam bermuamalah dengan keluarga: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku” (Hadis Riwayat Tirmidzi).

Dan jika kita memperhatikan dengan saksama, seluruh perintah dan larangan dalam Islam bertujuan membentuk akhlak mulia pada setiap pribadi Muslim serta menghindarkannya dari akhlak yang buruk dan tercela. Perintah shalat sebagai contoh, bertujuan agar terhindar dari perbuatan fakhsyak (dosa besar) dan kemungkaran, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia (mu'amalah ma’annas).

Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Ankabut (29) ayat 45: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Pelajaran dari Surat al-Hujurat

Agar pada masa mendatang terdapat perubahan yang signifikan dalam bermuamalah antara sesama anak bangsa, yaitu semakin berlandaskan pada etika dan moral, maka kiranya pesan-pesan dari surat al-Hujurat perlu kita renungkan dan perlu kita hayati.

Surah al-Hujurat (49) yang termasuk surah madaniyyah (diturunkan setelah Nabi berhijrah ke Madinah) sering disebut sebagai surah Akhlak dan kadangkala disebut surah Muamalah. Artinya, isi surat itu sebagian besar berkaitan dengan akhlak dalam muamalah.

Pertama, kaum Muslimin diperintahkan untuk selalu menghormati Rasulullah SAW, harus punya akhlak dalam berkomunikasi dan juga dalam menyebut nama beliau. Tidak boleh disamakan seperti manusia biasa.

Sebagaimana firman Allah dalam QS al-Hujurat (49) ayat 2: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.”  

Kedua, ketika ada berita buruk tentang seseorang atau satu kelompok, lakukan check and recheck sebelum mengambil tindakan. Boleh jadi berita tersebut tidak benar atau termasuk yang sering disebut sebagai berita sampah. Seperti termaktub dalam QS al-Hujurat (49) ayat 6, apalagi ketika sumber berita itu orang atau institusi yang selalu tidak adil terhadap umat Islam.

Ketiga, ketika terjadi perselisihan antara dua orang atau dua kelompok, lakukanlah islah (mendamaikan) dengan cara adil. Islah dengan adil ini adalah bagian penting dari sendi masyarakat beradab. Tanpa keadilan, tidak mungkin islah bisa dilakukan. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-Hujurat (49) ayat 9.

Keempat, orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, tidak boleh saling menghina dan saling merendahkan martabat yang satu dengan yang lainnya. Sebab, boleh jadi yang dihina lebih mulia martabatnya daripada yang menghina.

 
Sesungguhnya seluruh manusia itu sama derajatnya dalam pandangan Allah SWT. Yang membedakannya hanyalah ketakwaan kepada-Nya.
 
 

Sesungguhnya seluruh manusia itu sama derajatnya dalam pandangan Allah SWT. Yang membedakannya hanyalah ketakwaan kepada-Nya yang disertai dengan amalan saleh di tengah-tengah kehidupan. 

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia, (sesungguhnya) kalian berasal dari (keturunan) bani Adam. Dan Adam itu diciptakan dari tanah. Tidak ada keistimewaan (lebih mulia) antara orang Arab (suku Quraisy) dengan orang ‘Ajam (suku Arab Badui), dan tidak pula ada keistimewaan (lebih mulia) antara orang yang berkulit putih dengan orang yang berkulit hitam, kecuali hanya terletak pada ketakwaannya” (HR Ahmad).

Kelima, sesama orang yang beriman dilarang saling mencurigai karena sebagian dari kecurigaan itu, apalagi tanpa alasan, hanya akan melahirkan dosa dan kesalahan. Dilarang pula melakukan tajassus (saling melaporkan dan saling memfitnah dengan keburukan). Sebab, perbuatan tersebut dianggap memakan daging saudaranya sendiri yang sudah menjadi bangkai. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Hujurat (49) ayat 12.

 
Mari kita jadikan awal tahun 2022 ini sebagai starting point untuk lebih menegakkan akhlakul karimah dalam bermuamalah.
 
 

Mari kita tegakkan akhlak dalam bermuamalah, saling menghargai, saling mencintai, dan saling menolong antara sesama kita, apalagi antara sesama umat dan sesama anak bangsa. Jangan biarkan sifat hasad, dengki, iri hati, sombong, dan takabur merajalela di hati dan pikiran kita.

Insya Allah, kelak akan lahir masyarakat dan bangsa Indonesia, terutama generasi mendatang, yang hati dan pikirannya dipenuhi dengan damai dan cinta sesama disertai semangat bersinergi dan berkolaborasi dalam kebaikan dan ketakwaan.

Mari kita jadikan awal tahun 2022 ini sebagai starting point untuk lebih menegakkan akhlakul karimah dalam bermuamalah.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.


×