Rita Pranawati (kanan). Keluarga bisa menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi setiap anggota keluarganya | REPUBLIKA

Uswah

28 Nov 2021, 04:09 WIB

Tak Lelah Berjuang demi Ketahanan Keluarga

Keluarga bisa menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi setiap anggota keluarganya

OLEH IMAS DAMAYANTI

Membangun generasi unggul tak lepas dari peran penting keluarga sebagai garda utama mendidik generasi bangsa. Untuk itu, berjuang demi ketahanan keluarga tak boleh berhenti.

Sosok Rita Pranawati (44 tahun) sangat lekat dengan isu ketahanan keluarga. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini telah berkontribusi dalam menguatkan keluarga Indonesia.

”Bukan hanya terkait pemberdayaan perempuan, tapi juga bagaimana keluarga bisa menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi setiap anggota keluarganya,” kata Rita saat dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Rita juga kerap memberikan pandangan mengenai kehadiran teknologi dan pengaruhnya terhadap keluarga. Menurut dia, tantangan terbesar dari isu anak adalah bagaimana teknologi mengubah kultur masyarakat.

Hal itu bahkan diperparah di masa pandemi menjadikan kultur sosial semakin terdigitalisasi. Jika dahulu teknologi komunikasi hanya menggunakan sarana telepon dan SMS, sekarang kulturnya semakin berubah. Pola-pola tersebut terkadang mempengaruhi pola anak dan keluarga.

“Anggapannya jika berkomunikasi melalui sosial media, melalui gawai, itu cukup. Padahal dalam konteks hubungan dengan anak, pasangan, (komunikasi) itu tidak bisa selalu terwakilkan oleh media digital,” jelas dia.

photo
Komisioner KPAI Rita Pranawati. - (Antara)

Menurut Rita, hal tersebut merupakan disrupsi yang harus disikapi dengan bijaksana. Dia menegaskan, teknologi sangat bermanfaat dalam beragam aspek, tapi jika penggunaannya tidak hati-hati maka dikhawatirkan menimbulkan masalah dalam keluarga. Pola-pola serba digital yang tidak disikapi dengan bijak akan sangat berpengaruh pada kehidupan keluarga-keluarga Indonesia.

Problem yang lain, kata dia, situasi sosial semakin kompleks. Rita melihat bagaimana perubahan sosial yang luar biasa itu terjadi. Banyak perempuan yang secara akademik lebih baik ketimbang laki-laki, sementara kultur Indonesia secara umum masih menganut sistem patriarki.

“Kemudian keberterimaan di keluarga itu kadang kurang. Padahal konsep samawa adalah adanya kesalingan dan saling menghormati,” kata dia.

Dalam kultur saat ini, Rita menjelaskan, adanya perubahan sosial belum diterima secara luas oleh masyarakat. Faktanya, banyak perempuan yang saat ini menjadi kepala keluarga bahkan di antaranya memiliki karier lebih baik dibanding laki-laki. “Jadi antara kultur dan fakta sosial di kita ini tidak sama,” ujar Rita.

Mencontoh keluarga

Aktivitas Rita sebagai seorang organisatoris terbilang padat. Sosoknya yang sangat produktif dalam menelurkan gagasan dan disandingkan dengan aktivitas di bidang keluarga ini tak lepas dari latar belakang keluarga.

Sedari kecil, Rita kerap melihat sang ibu melakukan beragam aktivitas di 'Aisyiyah. “Karena dari kecil saya melihat ibu saya mimpin rapat, ngajar ngaji, saya jadi melihat bahwa kita ini harus berbuat untuk orang lain,” kata dia.

Contoh dari keluarga tersebut menjadikan Rita semakin aktif dalam beragam aktivitas. Terhitung sejak duduk di bangku kelas SD, Rita sudah aktif berorganisasi.

Selama SMA, dia bahkan sudah aktif melakukan aktivitas pemberdayaan perempuan di OSIS. Aktivitas itu terus berlanjut dan menjadi proses panjang yang menjadikan sosok Rita yang dikenal masyarakat Indonesia seperti sekarang.

 

PROFIL

Nama lengkap: Rita Pranawati

Tempat, tanggal, lahir: Kebumen, 6 April 1977

Riwayat pendidikan: Master of Arts di bidang Sosiologi dari Monash University dan Magister Agama dari Interdisciplinary Islamic Studies UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Riwayat aktivitas: Komisioner KPAI periode 2014-2017, komisioner bidang hak sipil 2014-2015, dan sekretaris pada periode 2015-2017. Ia kemudian terpilih lagi menjadi komisioner KPAI periode 2017-2022. Saat ini dia menjadi Wakil Ketua KPAI sekaligus komisioner bidang pengasuhan.


×