Ulama salaf menemui para sultan apabila sangat terpaksa. Nasihat ulama untuk penguasa. | Wordpress

Tuntunan

28 Nov 2021, 04:49 WIB

Nasihat Ulama untuk Penguasa

Ulama salaf menemui para sultan apabila sangat terpaksa

OLEH A SYALABY ICHSAN

 

Hisyam bin Abdul Malik merupakan seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berkuasa pada pertengahan abad ke-8. Pada satu ketika, Hisyam memasuki Makkah.

Dia pun ingin bertemu dengan salah satu sahabat Rasulullah SAW. Namun, penduduk Makkah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, mereka sudah tiada. Semunya telah meninggal dunia.” 

Hisyam lantas kembali berkata, “Panggilkan seorang tabi’in!” Lalu dipanggillah Thawus Al-Yamani. Saat Thawus maju ke hadapan Khalifah Hisyam, dia melepaskan alas kakinya dengan tepi permadani. Alih-alih memanggilnya dengan sebutan Amirul Mukminin, Thawus hanya berkata, “Assalamu’alaika wahai Hisyam!”

Thawus juga enggan memanggil Hisyam dengan nama kunyah-nya (nama nisbah keluarga yang diawali dengan abu dan ibn). Setelah duduk di hadapan Hisyam, Thawus bertanya, “Apa kabarmu wahai Hisyam?”

Mendengar sapaan tersebut, Hisyam sangat marah hingga ingin membunuhnya. Seseorang berkata kepada khalifah, ”Anda berada di tanah suci milik Allah dan Rasul-Nya. Anda dilarang membunuh!”

Setelah kemarahannya reda, Hisyam berkata kepada Thawus, “Hai Thawus, apa yang mendorongmu berbuat demikian?”

Thawus menjawab, “Apa yang aku lakukan?” Hisyam bertambah marah dan murka.

Dia berkata, “Engkau membuka kedua alas kakimu dengan tepi permadaniku. Engkau tidak mencium tanganku. Engkau tidak menyapaku dengan panggilan Amirul Mukminin. Engkau tidak menyebutkan nama kunyahku. Engkau duduk di hadapanku tanpa seizinku. Engkau berkata, ‘Apa kabarmu, hai Hisyam?'”

Thawus menjawab, “Aku membuka alas kakiku dengan tepi permadanimu. Begitulah aku melakukan shalat lima kali sehari dengan menghadap Allah Yang Mahaperkasa. Yang tidak menyiksaku dan tidak pula murka kepadaku. Aku tidak mencium tanganmu, karena aku mendengar Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Seseorang tidak boleh mencium tangan orang lain kecuali istrinya karena syahwat atau anaknya karena kasih sayang.

Aku tidak menyapamu dengan panggilan ‘Amirul Mukminin’, karena tidak semua menyukai pemerintahanmu. Sungguh aku tidak suka berbohong. Aku juga tidak menyebut kunyah-mu. Sebab, Allah SWT memanggil nabi-nabi-Nya dengan Ya Dawud! Ya Yahya! Ya ‘Isa!’ tetapi Dia menyebut kunyah musuhnya seperti firman-Nya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab.” (QS Abu Lahab: 1).

“Aku juga tidak perlu izin untuk duduk di hadapanmu. Sebab, aku mendengar Amirul Mukminin ‘Ali berkata, “Apabila engkau ingin melihat penghuni neraka, lihatlah orang duduk yang dikelilingi oleh orang-orang yang berdiri.”

 
Apabila engkau ingin melihat penghuni neraka, lihatlah orang duduk yang dikelilingi oleh orang-orang yang berdiri.
 
 

Hisyam pun meminta nasihat kepada Thawus. Dia lantas menjawab,” Aku mendengar Amirul Mukminin ‘Ali berkata, “Sesungguhnya di dalam Neraka Jahanam terdapat banyak ular seperti bukit dan kalajengking seperti bagal yang menggigit setiap pemimpin yang tidak berlaku adil kepada rakyatnya.” 

Imam Al Ghazali menjelaskan, ulama salaf menemui para sultan apabila sangat terpaksa. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk menuntut balas karena Allah atas kezaliman-kezaliman yang dilakukan sultan. Di dalam salah satu suratnya yang disampaikan kepada penguasa, Imam Al Ghazali mengungkapkan, makna sebenarnya dari seorang Amir. 

Amir memiliki arti harfiah di dalam Islam, yakni seseorang yang dapat menguasai nafsu dan syahwatnya secara mutlak. Bagi Al Ghazali, hanya orang dengan keutamaan Amir sejati yang menjadi Amir sesungguhnya meski semua manusia tidak memanggilnya dengan sebutan Amir. Sebaliknya, seorang tanpa kualitas Amir bukanlah Amir sesungguhnya meski dia dipanggil Amir.


×