Bekas menara kontrol atau ATC tower jejak peninggalan Bandara Kemayoran, di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (17/11/2021). | ALI MANSUR/REPUBLIKA

Narasi

20 Nov 2021, 03:45 WIB

Tintin dan Eks Bandara Kemayoran

Terbengkalainya bangunan eks menara kontrol Bandara Kemayoran sangat disayangkan.

OLEH ALI MANSUR, ZAINUR MAHSIR RAMADHAN

Tak banyak orang tahu bahwa kawasan Pekan Raya Jakarta (PRJ) dulunya adalah Bandar Udara Internasional Kemayoran yang dibangun pada 1934. Karena, selain sudah tidak banyak yang membicarakannya, juga keberadaan sisa jejak peninggalan bandara internasional pertama di Tanah Air itu tak terawat.

Akses satu-satunya untuk bisa melihat sisa bangunan kedigdayaan pintu masuk Indonesia dari udara pada masa orde lama itu hanya melalui gerbang besi tua berwarna hijau dan tembok corak putih, sedikit orange yang mulai memudar. Sayangnya, gerbang besi berkarat itu selalu digembok.

Cagar budaya itu dikelilingi beton setinggi dua meter dan parit dengan luas sembilan telapak kaki orang dewasa. Juga aset sejarah yang mestinya dijaga serta dirawat itu dipenuhi semak belukar, dan didominasi pohon lamtaro.

Dari pintu masuk itu, masih ada sisa jalan aspal yang mulai retak-retak dan di ujungnya, di sebelah kanan ada jalan dengan paving blok ditumbuhi rerumputan. Dari sini, sudah terlihat gedung tiga lantai bercorak catur putih-orange. Kemudian di sisi kirinya berdiri gedung bekas menara kontrol atau Air Traffic Control (ATC) lebih tinggi beberapa meter dari gedung pertama.

photo
Bekas menara kontrol atau ATC tower jejak peninggalan Bandara Kemayoran, di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (17/11/2021). - (ALI MANSUR/REPUBLIKA)

Naas, tangga untuk naik ke atas menara kontrol sudah tak ada. Di sekitar bangunan tua itu juga tidak ditemukan besi bekas anak tangga. Kemudian, plafon di lantai pertama banyak yang tak utuh, jendela kaca nyaris runtuh. Tembok di dalam kedua bangunan itu tak luput dari ‘tangan-tangan jahil’.

Padahal menara kontrol ini melegenda dan memiliki khas sendiri karena tampil di komik petualangan Tintin yang dikenal dengan rambut jambulnya. Dalam serial kartun asal benua biru, diceritakan dalam petualangan Tintin berjudul "Flight 714".

Dikisahkan Tintin, Kapten Haddock, dan Professor Calculus, mendarat di Bandara Internasional Kemayoran, Jakarta, untuk pemberhentian terakhir penerbangan 714 dari London sebelum menuju ke Sydney, Australia. Bagi para pecinta komik Tintin, mengunjungi bekas menara kontrol itu ibarat sedang ‘berziarah’.

"Itu, lihat! Kemajoran!...Apakah ini Djakarta atau bukan?" kata Professor Calculus kepada Tintin dan Kapten Haddock, sepenggal kutipan di komik yang era 1960-an itu.

Sayangnya banyak orang, bahkan masyarakat Jakarta sendiri tidak mengetahui jika di area PRJ adalah bekas bandara. Seperti Mualamin (38) driver ojek online yang biasa beroperasi di kawasan Kemayoran. Dia mengaku baru tahu beberapa bulan lalu jika di Kemayoran dulu pernah berdiri bandara. Padahal dia sudah tinggal di daerah Kemayoran sejak 1990-an.

“Saya baru tahu awal tahun, waktu ada penumpang yang minta dianter ke bekas bandara. Saya kaget memang ada bandara di sini,” cerita pria dua anak itu, saat ditemui di kawasan PRJ, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (17/11)

Mualamin juga baru tahu jika Jalan Benyamin Sueb dulunya adalah bekas landasan pacu utara-selatan (17-35) dengan ukuran 2.475 x 45 meter. Sedangkan landasan pacu barat-timur (08-26) dengan ukuran 1.850 x 30 meter, kini menjelma menjadi Jalan HBR Motik. Ia juga mengaku tak keberadaan dua menara pantau yang menjadi ikon peninggalan bandara Kemayoran saat ini. 

“Sebagai warga Jakarta saya bangga ada peninggalan sejarah. Harusnya pemerintah memperhatikan dan merawat peninggalan-peninggalan orang tua kita dulu, jas merah istilahnya,” harapnya.

Disayangkan

Sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI), Asep Kambali, menyoroti bangunan eks Bandara Kemayoran yang kini mulai terbengkalai. Menurut dia, hal itu sangat disayangkan mengingat bandara tersebut menjadi bandara dengan penerbangan internasional pertama di Indonesia yang memiliki banyak catatan sejarah bagi kemerdekaan Indonesia.

Dia menyebut, pemerintah saat ini seakan terlalu acuh dengan nilai sejarah dan ruh yang dimiliki oleh Bandara Kemayoran. “Dibangun pada awal abad ke-20 Bandara Kemayoran dulunya untuk mempersingkat waktu dari Belanda ke Indonesia yang awalnya bisa berbulan-bulan menjadi hitungan hari saja,” kata Asep kepada Republika, Kamis (18/11).

photo
Bekas menara kontrol atau ATC tower jejak peninggalan Bandara Kemayoran, di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (17/11/2021). - (ALI MANSUR/REPUBLIKA)

Dia menuturkan, ketidakpedulian pemerintah pusat, daerah hingga berbagai pihak soal bandara pertama di Indonesia ini, menjadi bukti jika sejarah dianggap remeh dan acuh. Situs sejarah berupa bandara internasional pertama yang dibangun pada awal abad ke-20 seharusnya bisa menjadi kebanggaan dan nilai lebih.

“Padahal situs sejarah di luar negeri itu menjadi kebanggaan dan bisa menjadi wisata sejarah juga,” katanya.

Berdasarkan laman PPK Kemayoran, bandara tersebut dibangun pada 1934 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Walaupun, peresmiannya ternyata dilakukan pada 8 Juli 1940. “Ada banyak situasi penting juga di Kemayoran sana. Bahkan Bung Karno saat menyiapkan kemerdekaan dan berkunjung ke negara lain juga berangkat dari sana (Bandara Kemayoran)” tutur Asep.

Namun demikian, seiring waktu, Asep tak menampik jika teknologi pesawat, lahan bandara yang kecil hingga kapasitas yang terbatas menyebabkan bandara ini mulai terabaikan. Dengan adanya pertimbangan itu, kata dia, akhirnya dimaksimalkan Bandara Tjililitan (Bandara Halim saat ini).

”Itu juga sama, sebagai pangkalan militer tidak cukup kapasitas hingga lahannya. Akhirnya, pada kurun 70-80-an membangun bandara Soekarno-Hatta untuk kapasitas lebih besar lagi. Sama kaya Pelabuhan Sunda Kelapa yang diganti Tanjung Priok,” ucapnya.

photo
Bagian dalam bekas menara kontrol atau ATC tower jejak peninggalan Bandara Kemayoran, di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (17/11/2021). - (ALI MANSUR/REPUBLIKA)

Dengan adanya pertimbangan itu, dia berharap agar pemerintah pusat, daerah hingga setiap pihak yang berkepentingan pada sektor sejarah bisa lebih mementingkan situs penting di Kemayoran itu. Sehingga, pengelolaan bandara dinilainya bisa berjalan dengan baik. “Tapi, semua yang berbau sejarah dan situs itu seakan dihindari,” katanya. 

Ditanya bagaimana pemanfaatan yang bisa dilakukan Pemerintah, Asep menyebut jika hal itu sesuai peruntukannya. Menurut dia, hal itu akan dimaksimalkan jika dikelola dengan kementerian terkait, baik itu Kemendikbud, PUPR, Perhubungan atau lainnya.

“Sekarang di Setneg memang. Jadi harus dilihat kacamatanya di masa depan. Kalau untuk sejarah ya peruntukan untuk sejarah, berarti di Kemendikbud,” kata dia.


×