Nama-nama penumpang perahu tradisional yang tenggelam di Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (3/11). | Dok. BPBD Bojonegoro

Jawa Timur

BPBD Duga Korban Perahu Tenggelam Bisa 23 Orang

Sebanyak 12 korban berhasil diselamatkan hingga Rabu (3/11) petang.

BOJONEGORO -- Jumlah korban laka air perahu tenggelam di Bengawan Solo masih simpang-siur. Namun berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk sementara, jumlah penumpang di perahu tradisional tersebut sekitar 23 orang.

Kalaksa BPBD Jawa Timur, Budi Santosa menegaskan, pihaknya langsung merespons cepat setelah mengetahui hilangnya sejumlah korban akibat tenggelamnya perahu nambang (penyeberangan tradisional) dari Kecamatan Rengel, Tuban menuju Desa Semambung Kanor, Bojonegoro.

Budi mengatakan, pihaknya langsung menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk membantu pencarian korban hilang di sekitar lokasi kejadian aliran Sungai Bengawan Solo. Sebanyak tujuh personel TRC BPBD Jatim telah diberangkatkan menuju lokasi kejadian. "Mereka dilengkapi dua unit perahu karet dan tiga unit alat penyelam," jelasnya dalam pesan tertulis kepada wartawan, Rabu (3/11).

Para personel TRC BPBD di lokasi kejadian akan melakukan asessment mengenai kejadian laka air. Kemudian juga akan berkordinasi dengan BPBD Kabupaten Bojonegoro, masyarakat dan perangkat desa setempat. Berdasarkan laporan kejadian, laka air tersebut terjadi sekitar pukul 09.30 WIB. Perahu penambang yang nahas itu dikemudikan oleh Kasian (60) dan Mardiani. Saat ini masih banyak data penumpang yang belum teridentifikasi.

photo
Warga menyaksikan proses pencarian penumpang perahu tradisional yang tenggelam di Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, Rabu (3/11). Dok. BPBD Bojonegoro - (Dok. BPBD Bojonegoro)

Kepala BPBD Kabupaten Bojonegoro, Ardhian Orianto mengaku pihaknya menurunkan 16 petugas untuk mencari korban laka air di Bengawan Solo. Untuk mempercepat proses pencarian, BPBD setempat juga menerjunkan tiga perahu karet. Ardhian mengatakan, perahu-perahu tersebut diterjunkan untuk menelusuri Bengawan Solo. "Dengan radius satu sampai dua kilometer dari lokasi kejadian," ucapnya saat dihubungi wartawan, Rabu (3/11).

Menurut Ardhian, peristiwa ini bermula dari adanya penyebrangan yang menggunakan perahu tradisional di lokasi. Perahu yang ditarik dengan tambang ini berusaha menyebrangi penumpang dari arah Desa Ngadirojo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban menuju Desa Semambung, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro. 

Adapun mengenai jumlah penumpang, sampai saat ini belum ada data pasti dari lapangan. Namun BPDB Bojonegoro memperkirakan jumlahnya sekitar 23 orang. Di perahu tersebut juga dilaporkan ada tujuh unit kendaraan roda dua.

Diselamatkan

Ketua Elang Bengawan Rescue Lugito mengatakan, setidaknya ada 12 orang yang berhasil diselamatkan hingga Rabu (3/11) sore. Adapun identitas korban yang berhasil diselamatkan antara lain Mardiani, Hafid, Mujianto, Budi (24) dan Arif Dwi Setiawan. Kemudian Matsarmuji, Adit, Tasmiatun (33), Aat, Noviandik, Abdul Hadi (9) dan Nofi Andi Susanto (29).

photo
Warga menyaksikan proses pencarian penumpang perahu tradisional yang tenggelam di Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, Rabu (3/11). Dok. BPBD Bojonegoro - (Dok. BPBD Bojonegoro)

Di samping itu, relawan setempat juga sudah mendapatkan identitas beberapa korban yang belum ditemukan. Mereka antara lain pengemudi perahu bernama Kasian, Erma Azila dan Dian yang merupakan warga Desa Semambung, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro. Kemudian warga asal Rembang, Koro lalu Sutri dan Basori asal Tuban.

Selain itu, tim relawan juga menduga ada lima orang lainnya yang turut menjadi korban. Namun identitas mereka belum diketahui karena tidak ada data penumpang yang pasti.

Kapolres Tuban AKBP Darman menduga kecelakaan perahu penyeberangan di Sungai Bengawan Solo terjadi karena arus sungai yang deras. Ditambah, saat perahu menyeberang laju perahu terhambat banyaknya tanaman enceng gondok. Darman mengaku beberapa hari terakhir memang terjadi hujan di wilayah hulu Bengawan Solo yang membuat arus sungai menjadi deras.

“Jadi kemungkinan arus perahunya ini kurang lancer, sehingga pada saat kena dorongan arus air dari atas, menjadi terbalik,” ujar Darman dalam pantauan video media lokal, Rabu. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat