Sejumlah petugas gabungan membersihkan sampah di Sungai Ciliwung, Bendung Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/9). Aksi yang diikuti oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, Satgas Naturalisai Ciliwung dan Relawan Pramuka tersebut dilaksana | Republika/Putra M. Akbar
12 Oct 2021, 18:18 WIB

Terapkan Teknologi Demi Wujudkan Kelestarian

Teknologi memainkan peranan penting dalam mewujudkan ekosistem ekonomi sirkular. 

Isu lingkungan dan pemanfaatan teknologi yang mendukung keberlanjutan, kian menjadi perhatian. Urgensi untuk mewujudkan sistem ekonomi sirkular, dan inovasi-inovasi yang mendukung kelestarian lingkungan pun saat ini kian diperlukan. 

PT Waste4Change Alam Indonesia (Waste4Change) pun menjadi salah satu perwakilan Indonesia dalam ajang inovasi internasional, G20 Innovation League pada 9-10 Oktober 2021, yang digelar di Sorrento, Italia. Waste4Change menjadi salah satu dari 100 usaha rintisan perwakilan 20 negara dunia yang membuat inovasi untuk menyelesaikan lima tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini.

Sebagai usaha rintisan manajemen persampahan di Indonesia yang telah berdiri sejak 2014, Waste4Change mendapat kesempatan menjelaskan bisnis dan inovasi di bidang teknologi bersih untuk mendukung pelestarian lingkungan. Khususnya, manajemen persampahan, kepada investor global.

photo
Warga memungut sampah di pinggir pantai kawasan Kedung Cowek, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (29/8/2021). Kegiatan bersih-bersih sampah yang dilakukan oleh Tunas Hijau dan warga tersebut sebagai wujud kepedulian terhadap kebersihan lingkungan di kawasan pantai. - (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Founder dan Managing Director Waste4Change, M Bijaksana Junerosano, mengapresiasi kesempatan yang diberikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dan penyelenggara G20 Innovation League tahun ini. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kominfo yang telah memberikan kesempatan pada Waste4Change sebagai start-up Indonesia yang fokus pada bidang Cleantech,” ujar pria yang biasa disapa Sano ini. 

Terkait

Menurutnya, pada ajang G20 Innovation League, Sano memaparkan berbagai permasalahan sampah dan menyampaikan beberapa solusi pengelolaan sampah. “Waste4Change sebagai start-up penyedia layanan manajemen persampahan yang bertanggung jawab dari hulu ke hilir, menawarkan solusi konsultasi dan edukasi masyarakat, pengangkutan sampah yang tersegregasi, hingga pengelolaan dan daur ulang sampah agar tidak berakhir di TPA,” jelasnya.

G20 Innovation League tahun ini menyoroti usaha rintisan di sektor clean technologies yang diharapkan dapat menyumbangkan inovasi untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan melalui bantuan teknologi dan kolaborasi antarpara pemangku kepentingan. 

Waste4Change, Sano melanjutkan, bertekad akan terus aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai para pihak terkait untuk memperkuat ekosistem persampahan di Indonesia. “Selain itu, kami akan senantiasa berupaya melahirkan inovasi di bidang Cleantech, sehingga diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah persampahan di Indonesia dan berkontribusi mempercepat mitigasi perubahan iklim secara global,” ujarnya. 

Budidaya Pertanian dengan Drone

photo
Pemanaatan drone untuk membantu efisiensi sektor pertanian. - (Dok Ajinomoto)

Pemanfaatan teknologi kini semakin banyak ditemui untuk menunjang ketahanan pangan dan budidaya pertanian. Selama ini, pemanfaatan teknologi di sektor pertanian, diharapkan dapat semakin meningkatkan efisiensi, hemat biaya, dan menunjang tingkat produksi untuk kesejahteraan para petani. 

Dalam memproduksi Monosodium Glutamat (MSG), PT Ajinomoto Indonesia melakukan proses Bio Cycle. Bahan baku utama produksi MSG selama ini menggunakan tetes tebu yang telah melalui proses fermentasi. 

Kemudian, dari proses produksi tersebut dihasilkan produk samping pupuk Ajifol (Ajinomoto Foliar Fertilizer). Ajifol memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang lengkap untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mulai dari, awal tanam hingga panen, serta dengan kandungan asam amino berkualitas tinggi di dalamnya. 

Sebagai salah satu cara efektif dan efisien terhadap penggunaan air, sumber daya manusia, dan penghematan biaya guna mendukung budidaya pertanian berkelanjutan, Departemen Agriculture Development (Agri Dev) PT Ajinomoto Indonesia yang beroperasi di Pabrik Mojokerto, Jawa Timur, baru-baru ini melakukan inovasi penyemprotan Ajifol dengan menggunakan teknologi drone.

Yudho Koesbandryo selaku Factory Manager sekaligus Direktur PT Ajinomoto Indonesia menjelaskan, sejalan dengan Ajinomoto Share Value (ASV) perusahaan, Ajinomoto mulai melakukan pengolahan produk samping yang dalam prosesnya mengacu pada Eco Activity dan Bio Cycle, yang dapat diolah menjadi produk dengan nilai jual. Salah satunya, pupuk Ajifol yang telah dilengkapi dengan izin edar dari Kementerian Pertanian RI. 

Menurutnya, dengan memanfaatkan teknologi yang ada, Ajinomoto juga mulai membantu beberapa komunitas petani padi, jagung, dan tebu yang berada di daerah Jawa Timur, yaitu Mojokerto, Madiun dan Malang dengan mengenalkan Ajifol. “Dengan begitu, perusahaan dapat membantu menjaga pertumbuhan tanaman agar menghasilkan panen dengan kualitas terbaik serta menyediakan jasa aplikasi dengan memanfaatkan teknologi drone,” ujarnya. 

Penggunaan drone diyakini akan memberikan dampak lingkungan yang positif serta dapat menghemat biaya. Termasuk juga, menyokong budidaya pertanian berkelanjutan di Indonesia. 

Yudho menjelaskan, sebagai gambaran berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan di September 2021, untuk tanaman padi, jagung dan tebu, proses penggunaan teknologi ini, mendapatkan respon yang cukup baik dari para petani. “Pengaplikasian teknologi drone sangat efisien dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit per hektar dengan jumlah air berkisar 16 liter per hektar. Sedangkan jika pengaplikasiannya secara manual, membutuhkan waktu sekitar setengah hari hingga satu hari dengan jumlah air sekitar 200 liter per hektar,” ujarnya. 

Sedangkan, dari segi biaya pengaplikasian, menggunakan teknologi drone juga mampu memangkas biaya secara signifikan. Dengan drone biaya yang diperlukan, berkisar antara Rp 100 ribu per hektar, sedangkan jika pengaplikasian manual berkisar Rp 150 ribu per hektar. 

 
Penggunaan teknologi drone diyakini akan memberikan dampak lingkungan yang positif serta dapat menghemat biaya.
 
 

 


×