Halaman muka Dialog Jumat membahas mengenai Shalawat Badar. | Dialog Jumat/Republika
12 Sep 2021, 04:42 WIB

Melawan PKI dengan Shalawat

Habib Ali Kwitang mengajak agar shalawat badar dipopulerkan sehingga dapat menyaingi lagu Genjer-Genjer.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Shalawat Badar diusulkan menjadi warisan budaya tak benda. Shalawat ini dipandang berkontribusi menghidupkan ruh perjuangan umat khususnya kaum Nahdliyin dalam melawan komunisme. Dalam konteks kekinian, shalawat dengan 28 bait ini  memiliki syair peneduh saat bangsa menghadapi badai kesulitan.

Shalawat Badar Warisan Budaya

 

Terkait

 

Dengan penuh semangat, beberapa anak melantunkan Shalawat Badar menjelang kumandang adzan Maghrib di Masjid Fathur Rahman, Cilimus, Kuningan, Jawa Barat. Mereka bergantian melantunkan shalawat itu melalui pengeras suara.

Sesekali ada anak yang lupa beberapa baitnya. Anak yang lainnya membantu mengingatkan. Shalawat Badar memang menjadi salah satu shalawat yang kerap dibacakan di masjid ini. 

Mohammad Yusuf salah satu sesepuh masjid mengatakan, shalawat tersebut telah sering dilantunkan oleh jamaah serta anak-anak. Majelis taklim kaum ibu pun sering membacanya sebelum memulai pengajian. 

Meski kerap melantunkan Shalawat Badar, Yusuf mengaku tidak mengetahui persis tentang siapa pencipta syair shalawat tersebut dan apa kisah di baliknya. ”Tahunya itu ya shalawat,” ujar Yusuf saat berbincang kepada Republika, beberapa waktu lalu. 

Dalam torehan sejarah bangsa ini, kepopuleran Shalawat Badar tergolong fenomenal. Shalawat ini tak hanya dilafazkan oleh jamaah masjid. Para ulama, aktivis, dan politisi pun mengumandangkan syair tersebut saat melawan komunisme hingga pada era Reformasi.

KH Ali Manshur Siddiq merupakan sosok di balik terciptanya shalawat itu. Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (PP Lesbumi NU) KH Muhammad Jadul Maula mengatakan dalam sebuah catatan abjad pegon, Kiai Ali Manshur menuliskan, Shalawat Badar ditulis sekitar tahun 1962 atau setelah Dekrit Presiden 1959 dan jelang upaya kudeta G-30 S/PKI alias Gestapu.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Menurut Kiai Jadul Maula, Kiai Ali Manshur merasa gelisah dengan situasi umat dan kebangsaan pada era tersebut. Dia pun ingin menulis shalawat itu sebagai doa.

Pada catatan itu, Kiai Ali Manshur mengatakan, pada malam jumat tetangganya bermimpi didatangi sekelompok orang berjubah putih. Bersamaan dengan itu, istrinya yakni Nyai Khotimah bercerita mimpi melihat Kiai Ali Manshur berangkulan dengan Rasulullah.

Kiai Ali Manshur pun mendapat penjelasan dari Habib Hadi al Haddar Banyuwangi bahwa orang-orang berjubah itu adalah Ahlul Badr (para sahabat Nabi yang bertempur di perang Badar). Dari situ, Kiai Ali menulis shalawat dan menamainya Shalawat Badar.  

Shalawat Badar kemudian dibacakan Kiai Ali Manshur di hadapan pamannya, yakni KH Ahmad Qusyairi dan para muridnya. Beberapa waktu kemudian, para habib yang dipimpin Habib Ali bin Abdurahman Al Habsyi Kwitang datang menemuinya untuk mendiskusikan situasi kebangsaan.

Di tengah diskusi, Habib Ali Kwitang meminta Kiai Ali Manshur membacakan Shalawat Badar. Para habib yang bertamu pun mendengarkan, mengaminkan, meluapkan rasa haru ketika shalawat itu dibacakan. Saat itu, Habib Ali Kwitang mengajak agar Shalawat Badar dipopulerkan sehingga dapat menyaingi lagu Genjer-Genjer yang dipopulerkan PKI.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by khofifah indar parawansa (khofifah.ip)

KH Ali Manshur kemudian diundang ke Jakarta untuk membacakan Shalawat Badar di hadapan jamaah. Habib Ali segera menginstruksikan murid-muridnya mencatat Shalawat Badar, mencetak, dan memperbanyak untuk disebarkan ke berbagai daerah.

"Shalawat Badar diciptakan mengiringi keprihatinan kebangsaan, nasib rakyat, umat di tengah situasi tahun enam puluhan. Komunisme menggunakan kebudayaan melalui seni rakyat untuk mengusung tema komunisme yang itu bersitegang dengan kiai-kiai. Atas situasi itulah shalawat Badar tercipta,” kata Kiai Jadul Maula. 

Hubungan NU dan PKI begitu memanas pada era-1960an. Terlebih banyak para kiai NU yang mendapatkan perlakuan kekerasan karena menentang ideologi PKI serta menolak upaya paksa perampasan tanah-tanah wakaf umat untuk pesantren dan masjid atau lembaga pendidikan Islam oleh PKI.

Sejarawan Islam yang juga Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah Kencong Jember, Rizal Mumazziq mengatakan, sebelum peristiwa Gerakan 30 September (Gestapu), bentrok antara NU dengan PKI sering terjadi di sejumlah daerah. Misalnya saja di Surabaya, pada 1960-an PKI melalui Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia menyerobot tanah milik Muslimat NU yang bertujuan untuk wakaf Yayasan Khadijah.

photo
Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang (20 April 1870 – 13 Oktober 1968) - (DOK Wikipedia)

Menurut Gus Rizal, PKI menginginkan agar tanah-tanah wakaf yang dimiliki pesantren atau kiai itu harus dibagikan secara merata bagi para rakyat atau Barisan Tani Indonesia. Patok-patok yang dipasang Pemuda Rakyat dan BTI itu pun menyulut kemarahan para santri terutama Banser hingga berujung bentrok.

Penistaan terhadap agama Islam juga dilakukan PKI untuk memancing kemarahan warga Nahdliyyin. Di Jember, misalnya, di tengah istighatsah dan pembacaan Shalawat Badar oleh para santri dan GP Ansor, tak jauh dari lokasi, para anggota PKI justru menggelar parade nyanyian seni dan drama yang menyinggung umat Islam.

Di antara drama yang ditampilkan berjudul Matine Gusti Allah, Malaikat Kawin, dan juga Haji Bahrum sebagai upaya merendahkan para ulama. "Jadi memang ini pertarungan ideologi melalui budaya atau seni,” kata dia.

 


×