Pekerja menyelesaikan produksi batik di UMKM Imah Batik Sahate, Lebak, Banten, Senin (9/8/2021). | ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.

Tajuk

Tantangan UMKM

UMKM menjadi salah satu sektor yang cepat bangkit dan menjadi salah satu tulang punggung pemulihan.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkapkan dua tahun terakhir merupakan perode yang tidak mudah dijalani oleh pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Para pelaku UMKM diharapkan bisa bertahan menghadapi pandemi dan menjadikan hal ini sebagai tantangan untuk perubahan ke arah yang lebih baik.

Para pelaku usaha kecil pun perlu terus berkreasi untuk bisa beradaptasi di masa sulit ini. Teten mengungkapkan hal itu saat memperingati Hari UMKM yang bertepatan pada Kamis (12/8).

Pademi memang telah memporak-porandakan sendi-sendi ekonomi. Pertumbuhan ekonomi nasional yang minus sejak kuartal kedua 2020 sampai kuartal pertama 2021 ikut menghantam sektor UMKM.

Apalagi kita juga mengetahui resesi ekonomi dalam dua tahun terakhir jauh berbeda dengan krisis moneter nasional pada 1998. Kala krisis moneter, UMKM menjadi salah satu sektor yang cepat bangkit dan menjadi salah satu tulang punggung pemulihan.

Sedangkan di masa resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19, bangkitnya UMKM terkendala seperti kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Kala krisis moneter pembatasan seperti PPKM tidak terjadi sehingga pelaku UMKM bebas bergerak dan berkreasi mengembangkan pasar.

 
Kala krisis moneter di 1998, UMKM menjadi salah satu sektor yang cepat bangkit dan menjadi salah satu tulang punggung pemulihan. 
 
 

Selama pandemi Covid-19, tantangan yang dihadapi pelaku UMKM tidak hanya pada daya beli yang menurun. Namun juga pembatasan melakukan aktivitas ekonomi sehingga sulit memasarkan produk secara langsung ke konsumen.  Dua hal tersebut menjadi faktor utama yang memengaruhi daya tahan pelaku UMKM mengembangkan pasar.

Tidak sedikit pelaku UMKM yang tumbang di era wabah Covid-19. Meski demikian tidak sedikit yang tetap eksis dan mencoba bangkit. Era digital telah sangat berperan membantu pelaku UMKM bertahan. Saat pembatasan dilakukan dan memaksa pelaku UMKM dilarang berjualan secara offline, era digital memberi solusi.

Para UMKM memasarkan produknya lewat online. Untuk beberapa jenis usaha, penjualan online memang tidak mampu mencapai target penjualan melalui offline. Namun demikian, era digital bisa membantu pelaku UMKM tidak benar-benar rontok saat terjadi pembatasan pergerakan orang selama pandemi Covid-19 diterapkan.

Era digital juga membuka peluang baru bagi pelaku UMKM untuk memulai usaha dengan modal yang lebih kecil dibandingkan penjualan melalui offline. Selain tidak membutuhkan sewa tempat, para pelaku UMKM online membutuhkan biaya tenaga kerja yang lebih sedikit.

Sebagai mana yang diungkapkan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, meskipun pandemi Covid-19 telah menghantam sebagian besar bisnis UMKM, pandemi juga yang membuat sektor UMKM bertransformasi. Pandemi mempercepat digitalisasi UMKM dan membuatnya mampu bertahan dan berperan sebagai penggerak utama pemulihan ekonomi. Proses digitalisasi UMKM hanya bisa dipercepat peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pelaku usaha UMKM, serta dukungan kebijakan akses pasar bagi produk UMKM.

Kita berharap pemerintah memainkan perannya lebih besar lagi dalam mendorong berkembangnya UMKM di era digital ini. Apalagi kita ketahui UMKM berkontribusi terhadap PDB sebesar 61,07 persen atau senilai lebih dari Rp 8.500 triliun. UMKM juga mampu menyerap 97 persen dari total tenaga kerja, dan UMKM mampu menghimpun hingga 60,4 persen dari total nilai investasi.

 
Kita berharap pemerintah memainkan perannya lebih besar lagi dalam mendorong berkembangnya UMKM di era digital ini. 
 
 

Dengan kontribusi yang begitu besar, sudah seharusnya pemerintah membantu para UMKM untuk terus berkembang. Hambatan modal yang selama ini menjadi salah satu momok para pelaku UMKM dalam mengembangkan pasar, harus dicari jalan keluarnya segera.  Kita berharap, para pelaku UMKM dapat tetap eksis di suasana yang sulit selama pandemi dan cepat bangkit setelah pandemi Covid-19 dapat diatasi.

Sebelum diterapkan PPKM Darurat di awal Juli 2021, sektor UMKM sudah mengalami perbaikan mendekati level sebelum pandemi Covid-19. Hal ini didasari dua indikator yakni penyerapan kredit perbankan untuk UMKM telah mencapai Rp 1.024 triliun per Mei 2021 atau sebesar 20 persen dari anggaran yang disiapkan mencapai Rp 5.576 triliun.

Indikator kedua, yakni survei riset mandiri yang menunjukkan di kuartal II-2021 sebesar 85 persen UMKM menyatakan sudah kembali ke kondisi normal. Kita berharap setelah pemerintah tak lagi menerapkan PPKM dan wabah Covid-19 dapat diatasi, kebangkitan UMKM benar-benar terwujud lebih cepat.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat