Tugu Pamulang. Bangunan Tugu Pamulang berbeda dengan desain yang direncanakan. | Dok Facebook

Bodetabek

Tugu Pamulang Dibongkar Saja, daripada Memalukan

Bangunan Tugu Pamulang berbeda dengan desain yang direncanakan.

OLEH EVA RIANTI

Rencana pembongkaran Tugu Pamulang yang berlokasi di bundaran Jalan Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten masih belum terealisasi. Hal ini usai berpolemik sejak April 2021 lalu karena tak sesuai harapan.

Warga meminta Pemerintah Provinsi Banten serta Pemerintah Kota Tangsel melakukan pembangunan Tugu Pamulang yang mencirikan ikon Tangsel. Berdasarkan pantauan Republika pada Senin (26/7), Tugu Pamulang berdesain tiang-tiang melingkar dan kubah di bagian atas yang berwarna kusam masih menjadi pemandangan sehari-hari warga yang melintas di Jalan Siliwangi. Tugu tersebut dibatasi dengan seng berwarna abu-abu setinggi kira-kira dua meter di bagian kakinya.

Seorang warga Pamulang, Lani Pahrudin (28 tahun), mengatakan, seharusnya tugu tersebut sudah dibongkar sejak berpolemik karena bangunannya berbeda jauh dengan desainnya. "Dibongkar saja agar lebih baik karena sudah viral dan jadi bahan ledekan juga. Malu harusnya pemerintah, kerjanya enggak benar," kata Lani kepada Republika, Senin (26/7).

Dia mengaku kecewa dengan kinerja pemerintah terkait pembangunan infrastruktur, salah satunya pembangunan Tugu Pamulang tersebut. "Sebagai warga Pamulang, kita sudah bosan dengar omongan pejabat di sana yang ingin mengubah Tugu Pamulang. Nyatanya, hanya dikasih seng, enggak tahu gunanya buat apa, malah nunjukin kayak kerjaan mangkrak," ujar dia.

Warga lainnya, Chessie, malah tidak mengetahui bangunan di tengah bundaran Pamulang merupakan tugu yang akan menjadi ikon Kota Tangsel. “Lah, aku malah enggak tahu kalau itu tugu. Aku kira, itu toren air untuk menampung air hujan,” ujar Chessie sambil tertawa.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Sebelumnya diketahui, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Banten untuk membongkar Tugu Pamulang karena adanya kritikan publik tentang bentuknya yang berbeda dengan rancangan desainnya.

“Saya sudah perintahkan bongkar, daripada jadi permasalahan di masyarakat. Bongkar dulu, nanti kalau anggaran sudah siap, baru kita bangun,” ujar Andika.

Andika mengatakan, usai dibongkar, nantinya tugu akan dibangun sesuai dengan desain yang sudah direvisi, seperti gambar yang sempat viral di jagat maya. Desain perubahan tersebut merupakan usulan Pemerintah Kota Tangsel yang bentuknya lebih artistik dan menggambarkan ikon wilayah di Tangsel.

Tidak seperti desain awal yang saat ini terlihat pada Tugu Pamulang yang hanya berupa tiang melingkar dan kubah berwarna putih polos. Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten Tranggono juga belum memberikan tanggapannya terkait kelanjutan pembangunan Tugu Pamulang.

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Banten Dapil Kota Tangerang Selatan, Maretta Dian Arthanti, juga menyayangkan ketidakjelasan nasib Tugu Pamulang. Dia menilai, kurangnya koordinasi antara Pemprov Banten dan Pemerintah Kota Tangsel terkait infrastruktur tersebut.

 
Saya menyayangkan pembangunan Tugu Pamulang, tampaknya kurang ada koordinasi provinsi dengan Tangsel.
MARETTA DIAN ARTHANTI, Anggota Komisi II DPRD Provinsi Banten
 

“Saya menyayangkan pembangunan Tugu Pamulang, tampaknya kurang ada koordinasi provinsi dengan Tangsel. Buktinya, ya itu Tugu Pamulang terlunta-lunta sampai sekarang, masih kurang membanggakan,” kata Maretta.

Menanggapi wacana pembongkaran, Maretta berpendapat, lebih baik pembangunan Tugu Pamulang dilanjutkan. Pasalnya, tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk membangun tugu tersebut. Menurut informasi dari Dinas PUPR Banten, lanjut dia, pembangunan Tugu Pamulang menggunakan anggaran yang tersedia pada 2017 sebesar Rp 300 juta dan mulai dibangun pada 2018.

Dia mendorong Pemprov Banten untuk bisa melanjutkan proses pembangunannya saat pandemi Covid-19 nantinya melandai. “Kalau kita melihat progresnya sebenarnya apa yang menjadi desain awal itu tidak sia-sia karena kan duit sudah dikeluarkan. Itu kan bisa disempurnakan lagi saja desainnya, jangan sampai mubazir,” ujar dia.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat