Sejumlah pemulung mencari barang bekas di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (6/7/2021). Mengkaji kemiskinan multidimensi ini akan melengkapi informasi dalam upaya pengentasan kemiskinan. | ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Opini

Kemiskinan Multidimensi

Mengkaji kemiskinan multidimensi ini akan melengkapi informasi.

TASMILAH, Statistisi pada BPS Kota Malang

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka kemiskinan terbaru untuk kondisi Maret 2021. Jumlah penduduk miskin di Indonesia 27,54 juta orang atau setara 10,14 persen. Dibandingkan Maret 2020 pada masa awal pandemi, penduduk miskin meningkat 1,12 juta orang.

Namun, jika dibanding pada September 2020, jumlah penduduk miskin menurun  0,01 juta orang. Angka kemiskinan ini, mampu memotret pengeluaran penduduk miskin, tetapi belum mampu mengukur dimensi lain kehidupan penduduk.

Padahal pada masa pandemi, sebagian besar penduduk tidak hanya mengalami penurunan pendapatan/pengeluaran, tetapi juga kehilangan berbagai dimensi kehidupan, seperti kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Angka kemiskinan yang selama ini dihitung berdasarkan pengeluaran atau moneter, belum mampu menangkap semua dimensi di atas. Mengkaji kemiskinan multidimensi memberikan informasi lebih spesifik sehingga melahirkan kebijakan lebih relevan.

 
Angka kemiskinan yang selama ini dihitung berdasarkan pengeluaran atau moneter, belum mampu menangkap semua dimensi di atas. 
 
 

Alkire et al (2020) memandang, deprivasi/kehilangan yang dihadapi penduduk miskin multidimensi di negara berkembang berakibat meningkatnya kerentanan terinfeksi Covid-19. Yakni, deprivasi pada indikator air minum, nutrisi, dan bahan bakar memasak.

Hasil penelitian Prakarsa (2020) menyebutkan, terdapat korelasi positif yang kuat antara jumlah orang berisiko Covid-19 dan jumlah orang miskin multidimensi di suatu provinsi di Indonesia.

Pengukuran kemiskinan multidimensi menurut OPHI dan UNDP, memandang kemiskinan lebih holistik dan mendalam, yang mencakup permasalahan kesehatan, pendidikan, juga kualitas kehidupan.

Pada 2020, OPHI dan UNDP merilis hasil indeks kemiskinan multidimensi di 107 negara berkembang. Hasilnya, 1,3 miliar orang hidup dalam kemiskinan multidimensi atau 22 persen penduduk dunia.

Di Indonesia, penelitian mengenai pengukuran kemiskinan multidimensi digagas Prakarsa pada 2015. Hasilnya, penduduk yang mengalami kemiskinan multidimensi jauh lebih besar daripada kemiskinan moneter.

Pada 2014, penduduk yang mengalami kemiskinan moneter 11,3 persen, yang mengalami kemiskinan multidimensi 29,7 persen.

Penelitian yang dilakukan di Yogyakarta pada 2016-2017 menghasilkan temuan menarik, penurunan persentase penduduk miskin secara moneter tidak dibarengi penurunan penduduk miskin multidimensi.

Ini berarti, peningkatan pengeluaran penduduk hingga di atas garis kemiskinan tidak serta-merta meningkatkan kapabilitas penduduk miskin pada dimensi lainnya, seperti kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Hasil penelitian Artha dan Dartanto (2018) menjelaskan, dimensi kesehatan paling besar kontribusinya terhadap kemiskinan. Sedangkan variabel pendidikan kepala rumah tangga, yang menyelamatkan rumah tangga dari kemiskinan.

Dalam dimensi kesehatan, indikator body mass index (BMI) untuk melihat kecukupan gizi dan kematian bayi. Karena keterbatasan data yang tersedia, biasanya digunakan data konsumsi protein rumah tangga dan konsumsi kalori rumah tangga.

Seseorang kekurangan nutrisi kalori jika kalori yang dikonsumsi kurang dari 70 persen AKG, sedangkan protein batasnya 80 persen AKG.

 
Dibandingkan sebelum pandemi, pada September 2019 rata-rata konsumsi kalori per kapita per hari dari 2.127,19 Kkal turun jadi 2.112,06 Kkal pada Maret 2020.
 
 

Penduduk dengan pengeluaran yang sama, bisa jadi kualitas kesehatannya berbeda-beda sesuai jenis barang yang dikonsumsi. Terlebih pada keluarga miskin yang pengeluaran terbesarnya bagi mereka adalah untuk beras dan rokok.

Di perkotaan, pengeluaran penduduk miskin untuk beras 20,03 persen, rokok 11,90 persen. Untuk sumber protein, seperti telur ayam ras 4,15 persen, daging ayam ras 4,29. persen, dan tempe/tahu kurang dari dua persen.

Di perdesaan, pengeluaran untuk sumber protein nilainya bahkan lebih kecil lagi.

Dibandingkan sebelum pandemi, pada September 2019 rata-rata konsumsi kalori per kapita per hari dari 2.127,19 Kkal turun jadi 2.112,06 Kkal pada Maret 2020. Rata-rata konsumsi protein per kapita per hari 62,43 gram pada September 2019 menjadi 61,98 gram pada Maret 2020.

Pada dimensi pendidikan, dua indikator yang digunakan, yaitu lama dan kehadiran di sekolah. Saat pandemi sangat mungkin penurunan lama dan kehadiran di sekolah. Terlebih ketika diharuskan belajar daring yang membutuhkan perangkat elektronik dan jaringan internet.

Bagi penduduk 40 persen terbawah yang mengalami keterbatasan pengetahuan dan ekonomi, sekolah daring ini bisa jadi sangat memberatkan dan berdampak pada kehadiran siswa di sekolah dan angka putus sekolah.

 
Mengkaji kemiskinan multidimensi ini akan melengkapi informasi dalam upaya pengentasan kemiskinan yang lebih konkret. 
 
 

Standar hidup dalam kemiskinan multidimensi bertujuan merefleksikan pola kehidupan keseharian masyarakat. Indikatornya air minum yang layak, sanitasi layak, listrik, kondisi lantai rumah, bahan bakar untuk memasak, dan kepemilikan aset.

Saat pandemi, indikator yang sangat rentan mengalami deprivasi/kehilangan adalah kepemilikan aset. Ketika pendapatan menurun atau kehilangan pekerjaan, sangat mungkin penduduk menjual asetnya untuk menyambung hidup.

Dengan kenyataan di atas, pandemi Covid-19 jelas berdampak tidak hanya pada pendapatan/pengeluaran penduduk, tetapi juga pada berbagai dimensi kehidupan yang berisiko meningkatkan kemiskinan multidimensi.

Mengkaji kemiskinan multidimensi ini akan melengkapi informasi dalam upaya pengentasan kemiskinan yang lebih konkret. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat