Pedagang melintas di permukiman masyarakat miskin yang padat di pinggir rel di kawasan Petamburan, Jakarta, Kamis (10/6/2021). Di masa pandemi, konsumsi rokok memberi beban dan kerugian yang semakin serius bagi keluarga miskin. | Republika/Putra M. Akbar
03 Jul 2021, 12:55 WIB

Keluarga Miskin dan Rokok di Masa Pandemi

Di masa pandemi, konsumsi rokok memberi beban dan kerugian yang semakin serius bagi keluarga miskin.

OLEH TIM IDEAS

 

Rokok adalah penyebab utama kesakitan dan kematian yang seharusnya dapat dicegah. Rokok menyebabkan berbagai penyakit mematikan seperti kanker paru, stroke, jantung koroner hingga penurunan kesuburan dan gangguan pertumbuhan janin.

Penyakit terkait rokok ini muncul setelah 15-20 tahun perilaku merokok dimulai, sehingga epidemi terkait tembakau dan kematian yang menyertainya akan terus meningkat di masa depan. Dengan perokok sebagian besar berada di negara-negara berpenghasilan rendah, beban penyakit dan kematian terkait rokok paling besar ditanggung oleh orang miskin. 

Terkait

Di masa pandemi, konsumsi rokok memberi beban dan kerugian yang semakin serius bagi keluarga miskin. Untuk mengetahui pola konsumsi dan pengeluaran rokok keluarga miskin Indonesia di masa pandemi, IDEAS melakukan survei nasional ke 1.013 kepala keluarga miskin di Jabodetabek, Semarang Raya, Surabaya Raya, Medan Raya dan Makassar Raya pada Januari-Februari 2021. Survei nonprobabilitas dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner semiterbuka.

photo
Pandemi, rokok, dan keluarga miskin. Profil keluarga miskin dengan perokok di lima wilayah aglomerasi. Diolah oleh IDEAS. - (IDEAS/Dialektika Republika)

Lingkaran Kemiskinan

Prevalensi merokok adalah tinggi, terutama untuk pria dewasa, dengan perokok pemula yang semakin meningkat. Indonesia adalah pasar rokok terbesar ketiga di dunia di mana rokok kretek, yang lebih beracun dari rokok putih, mendominasi penjualan rokok.

Pada 2018, prevalensi merokok mencapai 33,8 persen, di mana prevalensi merokok penduduk laki-laki mencapai 62,9 persen, dengan konsumsi rokok mencapai 12,8 batang per hari. Secara umum, prevalensi merokok terjadi lebih tinggi pada kelompok penduduk berpendidikan rendah, kelas pendapatan lemah dan tinggal di perdesaan. 

Survei kami menunjukkan bahwa perokok di keluarga miskin didominasi laki-laki dengan posisi di keluarga sebagai ayah (suami) dan anak laki-laki mencapai 89,4 persen responden perokok. Prevalensi perokok di keluarga miskin rata-rata 11,3 persen, dengan konsumsi rokok rata-rata mencapai 8,6 batang per hari, di mana prevalensi perokok tertinggi adalah ayah (suami) yang mencapai 45,1 persen. 

Keluarga miskin dengan perokok dicirikan dengan pendidikan kepala keluarga yang rendah, lebih dari 75 persen paling tinggi hanya menamatkan SMP, dengan profesi dominan adalah berdagang, buruh bangunan, buruh lepas, dan bekerja serabutan. Secara ironis, 17,9 persen dari kepala keluarga miskin dengan perokok, berstatus tidak bekerja.

photo
Berat belanja di masa pandemi. Rokok dan prioritas pengeluaran keluarga miskin di lima wilayah aglomerasi. Diolah oleh IDEAS. - (IDEAS/Dialektika Republika)

Temuan survei kami ini menegaskan bahwa posisi ayah (suami) sebagai perokok dominan di keluarga miskin merupakan akar penyebab mengapa pengeluaran rokok keluarga miskin adalah signifikan dan sulit untuk turun meski kondisi ekonomi keluarga sedang sulit. 

Bagi keluarga miskin perokok, rokok telah menjadi “kebutuhan dasar”, setara dengan kebutuhan pangan. Rokok adalah pengeluaran keluarga miskin yang prioritas dan signifikan, mencapai hingga Rp 400 ribu per bulan, dan tidak tergeser bahkan ketika pandemi menerpa.

Di antara pengeluaran utama lainnya, pengeluaran rokok keluarga miskin lebih besar dari pengeluaran untuk pulsa/kuota internet, tagihan listrik dan biaya pendidikan anak. Pengeluaran rokok keluarga miskin setara dengan sepertiga pengeluaran untuk makan sehari-hari, dan 2,5 kali lebih besar dari tagihan listrik.

 
Meski secara nominal turun, tapi secara riil beban pengeluaran rokok keluarga miskin tidak menurun antara sebelum dan saat pandemi.
 
 

Terempas pandemi, pengeluaran rokok rata-rata keluarga miskin turun hingga 10 persen, dari Rp 406 ribu menjadi Rp 364 ribu per bulan. Meski secara nominal turun, tapi secara riil beban pengeluaran rokok keluarga miskin tidak menurun antara sebelum dan saat pandemi.

Proporsi pengeluaran rokok pada pengeluaran utama keluarga miskin tidak berubah di kisaran 15 persen, baik sebelum maupun saat pandemi. Krisis tidak membuat keluarga miskin mengurangi beban pengeluaran rokoknya.

Pengeluaran utama keluarga miskin nonmiskin secara umum lebih rendah dari keluarga miskin perokok. Namun dengan tidak adanya beban pengeluaran rokok, keluarga miskin nonperokok dapat memfokuskan belanja keluarga pada kebutuhan utama. Proporsi pengeluaran keluarga miskin nonperokok untuk pangan, sewa rumah dan pendidikan anak secara konsisten lebih tinggi dari keluarga miskin perokok, baik sebelum maupun saat pandemi. 

Dari komparasi pengeluaran keluarga miskin perokok dan nonperokok ini juga terlihat bahwa untuk bisa merokok dibutuhkan daya beli yang cukup memadai. Menjadi terlalu miskin akan menghalangi seseorang untuk menjadi perokok.

Dengan adanya pengeluaran rokok yang signifikan, pengeluaran keluarga miskin perokok lebih tinggi hingga 20 persen dari pengeluaran keluarga miskin nonperokok, baik sebelum maupun di saat pandemi. Namun demikian, terdapat kasus keluarga miskin perokok tidak memiliki pengeluaran rokok sama sekali, di mana konsumsi rokok sepenuhnya bergantung pada pemberian orang lain.

Jerat Pembunuh Senyap

Rokok adalah produk olahan tembakau yang menimbulkan kecanduan. Sifat adiktif rokok ini membuat kebiasaan merokok di masa lalu berdampak positif pada perilaku merokok di masa depan.

Perokok memiliki sifat kecanduan miopik yang membuatnya tidak lagi rasional dan mengabaikan konsekuensi negatif dari perilaku merokoknya tersebut. Jerat adiktif ilalang mematikan ini membuatnya menjadi salah satu akar utama kemiskinan para perokok, terlebih perokok miskin. 

Pandemi telah memukul keluarga miskin secara keras. Survei kami menemukan bahwa pengeluaran rokok keluarga miskin turun secara rata-rata hingga 10,3 persen di masa pandemi.

Pandemi telah menurunkan daya beli keluarga miskin secara drastis, membuat si miskin semakin miskin. Namun krisis tidak menghentikan perokok miskin untuk terus merokok. Di tengah pandemi, perokok miskin keras mempertahankan konsumsi rokok dan, dengan kendala anggaran yang kini lebih terbatas, berusaha mencari keseimbangan baru.

 
Pandemi telah menurunkan daya beli keluarga miskin secara drastis, membuat si miskin semakin miskin.
 
 

Terlihat pola yang konsisten di mana perokok miskin berpindah dari kelas pengeluaran yang lebih tinggi ke kelas pengeluaran yang lebih rendah. Secara keseluruhan, pengeluaran rata-rata tidak banyak berubah kecuali di kelas pengeluaran teratas dan terbawah.

Penurunan pengeluaran rokok keluarga miskin terlihat didominasi oleh kelompok pengeluaran terbawah, di bawah Rp 100 ribu per bulan, di mana penurunan pengeluaran rokok rata-rata mencapai 17,6 persen. 

Penurunan pengeluaran rokok di kelas terbawah ini terutama disebabkan oleh 3,5 persen responden di kelas ini yang kini setelah pandemi tidak lagi memiliki pengeluaran untuk rokok. Menjadi terlalu miskin membuat perokok miskin tidak lagi mampu membeli rokok, meski hal ini tidak selalu berarti berhenti merokok.

Perokok miskin yang terlalu miskin untuk membeli rokok, masih berusaha merokok dengan mengharapkan pemberian dari orang lain. Hanya 1,6 persen responden di kelas ini yang mengaku berhenti merokok setelah pandemi.

photo
Tertekan pandemi namum tidak berhenti. Pengeluaran rata-rata rokok per bulan keluarga miskin di lima wilayah aglomerasi. Diolah oleh IDEAS. - (IDEAS/Dialektika Republika)

Krisis tidak mampu membuat si miskin mengurangi konsumsi rokoknya, terlebih berhenti darinya. Di tengah kondisi ekonomi yang kian terpuruk pun, perokok miskin tetap keras berusaha untuk dapat terus merokok.

Secara umum, penghasilan dan daya beli perokok serta harga dan ketersediaan rokok adalah faktor utama yang memfasilitasi (enabling factors) konsumsi rokok individu. Meski enabling factors adalah terbatas bagi keluarga miskin, tapi kondisi kemiskinan membuat mereka rentan untuk mengenal dan mengonsumsi rokok, bahkan sejak usia dini. 

Pengaruh interpersonal, seperti keluarga dan teman sebaya, dan pengaruh lingkungan, seperti guru, tokoh masyarakat dan iklan rokok, sebagai determinan sosial terpenting dari merokok, cenderung kondusif di kelompok ekonomi lemah, terutama laki-laki. Hal ini diperparah dengan rendahnya pemahaman individu miskin tentang rokok dan ketiadaan motivasi untuk berhenti merokok, membuat merokok menjadi kebiasaan kultural yang melekat kuat di kelompok miskin.

Prevalensi merokok penduduk laki-laki di kelompok pendapatan 20 persen termiskin mencapai 82,0 persen, jauh di atas prevalensi merokok penduduk laki-laki di kelompok pendapatan 20 persen terkaya yang “hanya” 58,4 persen (SDKI, 2017).

Kombinasi dari umur pertama merokok, sikap dan perilaku orang tua, teman, guru, tokoh masyarakat dan pengaruh iklan serta lemahnya pengaruh individual, membuat kelompok miskin memiliki prevalensi dan tingkat konsumsi rokok yang tinggi. Sebesar 77,1 persen responden menyatakan tidak menurun konsumsi rokoknya selama pandemi, bahkan meningkat.

 
Pengeluaran kebutuhan lain yang turun atau bahkan ditiadakan agar dapat terus merokok dengan kuantitas yang sama.
 
 

Dengan berposisi sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah, sebesar 73,2 persen perokok miskin mempertahankan pengeluaran rokoknya meski kondisi ekonomi menurun. Dengan kata lain, pengeluaran kebutuhan lain yang turun atau bahkan ditiadakan agar dapat terus merokok dengan kuantitas yang sama. Sebesar 39,7 persen responden bahkan mengaku rela membeli lebih mahal rokok pilihannya, yang di masa pandemi harganya meningkat. 

Namun jatuhnya penghasilan secara drastis dan menjadi terlalu miskin, mempengaruhi perilaku merokok si miskin. Sebesar 21,2 persen responden menurunkan pengeluaran rokoknya di masa pandemi, meski hal ini tidak selalu berimplikasi pada turunnya konsumsi rokok.

Sebesar 16,1 persen responden mengaku di masa pandemi beralih ke rokok dengan harga yang lebih murah. Berpindah ke rokok murah mengizinkan perokok miskin mempertahankan kuantitas konsumsinya dengan pengeluaran yang lebih rendah atau meningkatkan kuantitas konsumsinya dengan pengeluaran yang sama.

Sifat adiktif rokok membuat konsumsi rokok si miskin terus meningkat seiring waktu dan bersifat inelastis, bahkan di saat krisis menyergap. Pengeluaran rokok karenanya adalah signifikan dan dengan kecenderungan meningkat.

Di masa pandemi, rokok memukul keluarga miskin sangat keras: membuat tingkat kesehatan dan produktivitas perokok miskin tergerus, sekaligus membuat kebutuhan dasar keluarga miskin semakin tidak terpenuhi karena digunakannya pendapatan yang semakin terbatas untuk terus membeli rokok.

photo
Terus hisap meski krisis menyergap. Respons dan strategi konsumsi rokok keluarga miskin di masa pandemi. Diolah oleh IDEAS. - (IDEAS/Dialektika Republika)

Warisan yang Mematikan

Kemiskinan membuat individu rentan terjerat rokok, bahkan sejak usia dini, sehingga prevalensi dan konsumsi rokok adalah tinggi di kalangan kelompok miskin. Dengan sikap dan perilaku orang tua, teman sebaya dan masyarakat di lingkungan keluarga miskin yang permisif terhadap rokok, budaya merokok terlestarikan dan terwariskan dari generasi ke generasi. 

Survei kami menemukan bahwa prevalensi dan konsumsi rokok di kalangan keluarga miskin terhitung rendah, yaitu 11,3 persen dan konsumsi rata-rata 8,6 batang per hari. Hal ini kuat disebabkan distribusi sampel penelitian yang terfokus di lima wilayah metropolitan utama di Indonesia dan lemahnya daya beli keluarga miskin di masa pandemi. 

Secara menarik, usia perokok miskin aktif terentang dari termuda di usia 16 tahun hingga usia 97 tahun. Semakin muda individu miskin mulai merokok, semakin besar peluang mereka menjadi perokok tetap di masa depan.

photo
Rokok di sepanjang kemiskinan. Umur perokok dan jumlah konsumsi rokok di keluarga miskin. Diolah oleh IDEAS. - (IDEAS/Dialektika Republika)

Menjadi krusial regulasi iklan dan promosi rokok yang secara vulgar menyasar kelompok muda sebagai konsumennya. Iklan rokok yang masif dan agresif, yang menancapkan asosiasi positif merokok di alam bawah sadar publik, dan terdapat di hampir semua kanal media, berbuah prevalensi perokok muda yang meningkat signifikan.

Kemampuan perokok miskin untuk terus merokok bahkan di masa pandemi banyak terbantu oleh harga rokok yang murah sehingga terjangkau oleh kelompok miskin dan distribusi penjualan yang masif nyaris tanpa batas dimana sebagian besar jalur distribusi rokok dilakukan melalui jalur ritel tradisional. Penjualan rokok yang didominasi melalui ritel tradisional, yaitu pedagang asongan dan warung – kios rokok, sangat memudahkan akses dan ketersediaan rokok bagi perokok miskin.

Penjualan jalur ritel tradisional ini tidak hanya menjual rokok per bungkus namun juga secara “ketengan” (per batang), yang kian memudahkan perokok muda dan perokok termiskin sekalipun untuk tetap terus merokok.

*Tim IDEAS:

YUSUF WIBISONO, Direktur IDEAS;

FAJRI AZHARI, FEBBI MEIDAWATI, MELI TRIANA DEVI, Peneliti IDEAS


×