Aspek perencanaan keuangan perlu dipersiapkan dalam menjalani kehidupan masa depan. | Pixabay
08 Jun 2021, 21:49 WIB

Teliti Merancang Masa Depan

Aspek perencanaan keuangan perlu dipersiapkan dalam menjalani kehidupan masa depan.

OLEH FARAH NOERSATIVA

Membina sebuah keluarga merupakan salah satu fase yang penting dalam kehidupan. Oleh karenanya, merancang rencana dalam mewujudkan proses tersebut diperlukan agar dapat mengantisipasi segala tantangan yang ada. 

Menurut psikolog keluarga Kasandra Putranto, merancang masa depan dalam keluarga bisa dilakukan sejak sebelum membina keluarga. Sebab, berumah tangga melibatkan dua insan dengan kepribadian berbeda, sehingga perlu persiapan.

"Belum lagi jika masing-masing belum mengenal diri sendiri, apalagi pasangannya," kata dia lewat pesan singkat kepada Republika, dua pekan lalu. 

Terkait

Itu sebabnya, papar dia, konsultasi pernikahan jadi hal penting sebelum menapaki jenjang berikutnya. Psychological check up juga penting, idealnya minimal tujuh kali dalam kehidupan.

Pemeriksaan psikologi itu dilakukan saat persiapan sekolah, pencarian minat bakat, memilih jurusan, melamar pekerjaan, menikah, juga dalam proses mengandung sampai melahirkan anak, serta menjelang pensiun.  

Pada saat membina keluarga, tentu ada banyak tantangan yang muncul. Pengelolaan emosi pun dibutuhkan. Komunikasi diutamakan agar tercipta pengertian dari masing-masing anggota keluarga. Salah satu tantangan yang dihadapi keluarga saat ini adalah perubahan situasi akibat pandemi.

photo
Aspek perencanaan keuangan perlu dipersiapkan dalam menjalani kehidupan masa depan. - (Freepik.com)

 

Kasandra mengatakan, dari berbagai hasil penelitian menyebut setidaknya ada tiga hal yang perlu diwaspadai dalam perubahan tersebut. Tiga kewaspadaannya adalah memutus rantai penyebaran virus, memastikan rantai kehidupan manusia tidak terputus, dan menjaga diri serta keluarga dari berita bohong. 

Berbagai tantangan itu, lanjut Kasandra, berakibat pada peningkatan kecemasan yang berpotensi menurunkan imunitas. "Penting bagi kita untuk menjaga kesehatan fisik dan mental dengan makan sehat, tidur cukup, olahraga, dan menjaga kebersihan serta pembatasan sosial."

Konsekuensi lainnya dari pandemi bagi keluarga adalah kehilangan kesempatan berlibur dan bersosialisasi, sampai pada perekonomian keluarga. Inilah yang menyumbang potensi tekanan dan depresi. "Kita membutuhkan pikiran yang tenang dan mencari solusi-solusi kreatif untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul sebagai akibat dari pandemi," jelas dia.

 
Kita membutuhkan pikiran tenang dan mencari solusi kreatif untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul sebagai akibat pandemi.
KASANDRA PUTRANTO, Psikolog Keluarga
 

 

Tak hanya aspek psikologi yang harus diperhatikan dalam menjalani berbagai fase hidup. Aspek keuangan pun perlu dipersiapkan sebelum membina sebuah keluarga. Perencana keuangan Ila Abdurrahman mengatakan, perencanaan keuangan seseorang dilakukan sejak seseorang tersebut mulai berpenghasilan. Seperti bepergian, tentu perlu peta untuk mencapainya.

"Demikian juga dalam kehidupan yang butuh tujuan dan peta keuangan untuk mewujudkannya." 

Sebagai orang tua, setidaknya ada tiga kewajiban kepada anak selain memenuhi kebutuhan untuk kebutuhan hidup pokok, seperti sandang, pangan, dan papan. Setiap proses dan tahapan dalam kehidupan juga perlu perencanaan, seperti pernikahan, punya anak, dan lain-lain.

Untuk itu tentunya perlu mempersiapkan dana dengan memperhatikan aspek inflasi per tahunnya. "Sehingga ketemu faktor investasinya harus berapa per bulan atau per tahun, disesuaikan dengan kondisi cashflow dan aset," kata Ila.

photo
Aspek perencanaan keuangan perlu dipersiapkan dalam menjalani kehidupan masa depan. - (Freepik.com)

Perencanaan-perencanaan dalam kehidupan keluarga tentunya tak hanya itu saja. Keluarga butuh untuk berlibur, perjalanan atau kegiatan ibadah seperti berhaji, perencanaan waqaf, perencanaan asuransi, dan berbagai hal lainnya, termasuk keuangan untuk masa pensiun. Setelah itu dirancang dengan baik, kata Ila, barulah melakukan perencanaan lain, seperti rumah kedua atau pun mobil kedua, juga warisan dengan menggunakan dokumen tercatat. 

Tentu, dalam perencanaan keuangan tersebut tak mesti kita dapatkan jalan yang mulus. Ada banyak tantangan yang membuat komitmen untuk berdisiplin keuangan runtuh. "Kita perlu disiplin dan bersedia mencapai tujuan atau mimpinya sesuai dengan kemampuan finansialnya," ungkap dia.

Ila mengatakan, kondisi keuangan akibat pandemi tak dipungkiri menurun karena adanya peristiwa pendapatannya turun, bisnis turun, penyesuaian gaji, dan lain-lain. Dia menyarankan untuk menurunkan gaya hidup sesuai dengan kondisinya. "Tunaikan kewajiban, penuhi kebutuhan. Pajak tetap dibayar, cicilan utang harus dibayar termasuk uang sekolah," jelas dia.

 
Tunaikan kewajiban, penuhi kebutuhan. Pajak tetap dibayar, cicilan utang harus dibayar termasuk uang sekolah
ILA ABDURRAHMAN, Perencana Keuangan
 

 

Jika dirasa belum bisa cukup dengan cara itu, Ila menyarankan menjual aset yang dimiliki agar mencegah tambahan utang. Pengaturan keuangannya adalah dengan metode 10 persen, 20 persen, 30 persen, dan 40 persen. n ed: dewi mardiani

 

Metode Pengaturan Keuangan

Bagian dari Pendapatan Peruntukan

10 persen                 zakat, sedekah, sosial, jatah orang tua

20 persen                 penyimpanan atau investasi (termasuk dana darurat) 

30 persen                 pembayaran cicilan, tagihan, dan pembayaran

40 persen                 untuk hidup selama satu bulan. 

Sumber: Perencana keuangan Ila Abdurrahman


×