Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
11 Apr 2021, 23:02 WIB

GOR Saparua, Rendra, dan Bergelas-gelas Kopi

Kopi bergelas-gelas dihabiskan panitia selama persiapan pentas baca puisi di GOR Saparua pada 24 Januari 1995.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Kopi bergelas-gelas dihabiskan panitia selama persiapan pentas baca puisi di GOR Saparua pada 24 Januari 1995. Penyair yang diundang saat itu adalah Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Jose Rizal Manua, Soni Farid Maulana, Juniarso Ridwan, dan Agus R Sarjono.

GOR berkapasitas 4.000 orang, malam itu, diisi 3.500 penonton. Saat ini, ada pihak yang sedang membuat dokumenter GOR Saparua dan perkembangan pentas seni di Bandung.

Sebelum hari pelaksanaan, panitia harus siang malam rapat karena urusan perizinan tak beres-beres. Rapat panitia juga sering diintai intel. “Setelah rapat yang tegang, ribut sesama panitia, lalu ngopi haha hihi. Itulah sedapnya ngopi yang pernah kurasakan,” ujar Syafiril Erman, salah satu panitia, mengenang persiapan pentas baca puisi itu.

Terkait

Kopi, di masa lalu, dikenal dengan nama kahwa. Hikayat Amir Hamzah yang diduga dibuat pada 1380 memuat kata kahwa. Menurut Samad Ahmad, editor Hikayat Amir Hamzah yang diterbitkan pada 1987, hikayat dalam bahasa Melayu ini dibuat sekitar 1500-1550 di Pasai.

Setelah sudah makan, maka Tuan Puteri Mihran Negara menyuruh pula mengangkat hidangan pelbagai juadah, halwa-halwa dan minuman kahwa. Maka, sekaliannya pun makanlah atas kadarnya, serta minum kahwa. Setelah selesailah Puteri Mihran Negara perjamu akan Asma Peri dan Quraisy Peri, maka Quraisy Peri pun duduk beberapa ketika berkata-kata dengan amat mesranya dengan Puteri. (Hikayat Amir Hamzah, 1987: 385).

 
Kopi, di masa lalu, dikenal dengan nama kahwa. Hikayat Amir Hamzah yang diduga dibuat pada 1380 memuat kata kahwa.
 
 

Namun, kita memaklumi karena naskah ini terjemahan dari naskah dari Persia. “Kopi dalam bahasa Arab: kahwa, dan kemudian berarti anggur, karena digunakan sebagai pengganti anggur,” tulis koran Nieuwsblad van het Noorden, 29 Desember 1913. Warga Makkah mengenal kopi pada 1454. Dari Arab diekspor ke Mesir dan Turki, lalu ke Eropa pada 1650.

Naskah yang asli dibuat di Kutai pada 1625, yaitu Cerita Kutai, juga menjelaskan kahwa sebagai minuman yang disajikan dalam jamuan.

Setelah sudah berhenti maka hari pun sudah jauh malam maka keluar pula santapan minuman seperti kahwa dan téh serta dengan juadahnya berjenis-jenis rupanya dan cita rasanya yang seperti dodol dan noman dan madu mungsu dan serikaya dan lelapon situkupan dan puteri mandi dan ratu berkurung maka itulah banyak jenisnya makan-makanan itu maka Sang Ratu dan Maharaja Sultan pun makan minumlah baginda dua orang itu sambil memandir-mandir…. (Cerita Kutai, 1935: 207).

Kembali ke pentas baca puisi. Panitia harus mengurus perizinan ke Direktorat Sosial Politik Pemda Jabar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemda Jabar, Kodam Siliwangi, lalu Polda Jabar. “Ke intel Kodam dua kali, tetapi ke Kapendam Herman Ibrahim lima kali. Kapendam bilang, ‘Sudah jalan terus saja, orang baca puisi kok dilarang,’” ujar Syafiril Erman, salah satu panitia.

 
Kapendam bilang, ‘Sudah jalan terus saja, orang baca puisi kok dilarang.'
 
 

Saran dari Kapendam III Siliwangi ini menjadi semangat baru bagi panitia untuk terus mengurus perizinan. Ke Ditsospol bolak-balik tiga kali, ke Dinas Dikbud tiga kali, ke Polda Jabar empat kali. “Level Rendra, izin keramaiannya ke Polda Jabar. Kalau Polwiltabes malah nyaranin acara dibatalkan saja,” ujar Sidik Hidayat, salah satu panitia yang mengurus perizinan ke Polda.

Beberapa personel panitia bahkan dipanggil satu per satu pada hari yang berbeda untuk ditanya di kantor Bakorstanasda Jabar. “Bilangnya diajak ngopi. Di sana diajak ngobrol santai dengan suguhan kopi, tapi mancing-mancing tentang ideologi,” ujar Sidik. Pengalaman Syafiril lain lagi. Ia disuguhi nasi goreng.

photo
WS Rendra di acara Konser musik Kemanusiaan Bencana Alam Maumere Flores di Jakarta, mengumpulkan dana untuk disumbangkan bagi korban bencana alam tsunami Flores (30/1/1993). Irianto PW/Republika - (DOKREP)

Acara tetap dilanjutkan. Izin keluar dengan proposal perizinan yang tidak melampirkan puisi-puisi Rendra, seperti di proposal yang diajukan sebelum-sebelumnya. Rendra sudah hadir di GOR Saparua, tapi aparat keamanan meminta panitia agar Rendra tidak membacakan tiga puisinya.

Rendra langsung yoga begitu ada permintaan itu. Dibujuk-bujuk, tak mau tampil di panggung, sehingga Jose Rizal Manua yang sedang tampil mengulur waktu dengan menambah membaca puisi.

 
Rendra sudah hadir di GOR Saparua, tapi aparat keamanan meminta panitia agar Rendra tidak membacakan tiga puisinya.
 
 

Akhirnya, Rendra bersedia tampil di panggung, tetapi ia tak bersedia tampil membaca puisi. "Warga Bandung yang saya hormati. Saya merasa bangga bahwa saya mendapatkan kehormatan untuk diundang membaca sajak memeriahkan acara ini. Saya berniat membacakan ‘Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam’, kemudian akan saya susul dengan sajak yang kedua, ‘Tokek dan Adipati Rangkasbitung’, lalu yang ketiga, ‘Demi Orang-Orang Rangkasbitung’, lalu yang keempat, ‘Kesaksian Bapak Saijah’."

"Tapi, sayang sekali, saya tidak mendapatkan izin untuk membacakan tiga sajak yang pertama." Rendra berhenti. Umpatan dan teriakan mencemooh aparat deras memenuhi ruangan. Lalu, katanya, "Tenang... tenang.... Tenang dulu. Tenang... tenang.... Ini namanya kenyataan kekuasaan politik." Rendra berhenti lagi. Teriakan kecewa membahana kembali.

"Saya bukan orang politik. Saya tidak punya kekuatan politik, tetapi saya rakyat dan saya mempunyai kekuatan moral...." Penonton menyemangatinya dengan tepuk tangan.

Demikian laporan Republika, 26 Januari 1995. Republika memuatnya di halaman pertama. Panitia menghonor Rendra dengan tiga bibit buah langka dan tujuh ekor anak ayam kampung.


×