Pekerja menggoreng umbi talas untuk dibuat keripik di Bandarlor, Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (7/12/2020). Asupan masakan harus dijaga agar tetap bergizi. | Prasetia Fauzani/ANTARA FOTO
21 Feb 2021, 10:02 WIB

Jaga Asupan Tetap Bernutrisi

Perbedaan risiko penyakit akibat makanan yang digoreng tergantung pada pemilihan minyak dan proses memasaknya.

OLEH SANTI SOPIA

Menjaga kesehatan tentu memerlukan berbagai upaya, termasuk menjamin kebersihan diri dan lingkungan serta berolahraga. Hal yang penting untuk kesehatan tubuh adalah nutrisi yang seimbang. Namun, nutrisi ini kerap hilang seiring proses memasak, misalnya digoreng.

Masyarakat kita akrab dengan makanan yang digoreng. Meski dianggap 'musuh kesehatan', gorengan tetap menjadi favorit banyak orang. Dokter Gizi Klinik dr Maya Surjadjaja SpGK MGizi mengatakan, baik atau buruknya gorengan bergantung pada bahannya dan proses memasaknya.

Proses memasak ini sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno, 1.600 tahun lalu. Memasak dengan minyak juga bermacam-macam, seperti ditumis, digoreng dengan minyak secukupnya, ataupun goreng terendam (deep fried). Gorengan memang dibuatnya mudah dan enak dengan tekstur yang renyah dan beraroma.

Terkait

Dalam proses menggoreng, jelas Maya, ada reaksi maillard atau saat molekul gula sederhana dan protein dipanaskan pada suhu tertentu. Reaksi ini dibutuhkan untuk mendapatkan hasil kecokelatan dan rasa yang unik.

"Dalam minyak ada beberapa asam lemak, termasuk minyak kelapa dipanaskan 180 derajat, kualitasnya masih lumayan bagus," kata Maya dalam Peluncuran Tepung Bumbu Sasa Serbaguna Bervitamin, sebulan yang lalu.

photo
Menjaga asupan masakan agar tetap bernutrisi. - (Dok PT Unilever)

Dokter di Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr Mintohardjo ini juga menyoroti studi terakhir kelompok berisiko penyakit terkait makanan digoreng. Perbedaan risiko kesehatan terkait gorengan ternyata disebabkan oleh pemilihan minyak dan kontrol memasak. Jadi, kata Maya, memasaknya adalah dengan menghindari minyak dipakai berulang, masak dengan cepat, dan pilih bahan stainless daripada pan atau teflon.

Menggoreng sering kali menggunakan tepung. Bahan perantara inilah yang ikut diproduksi PT Sasa. Sasa Tepung Bumbu Bervitamin merupakan inovasi Sasa Platinum Care+ ini yang mengandung zat besi, zink, vitamin B2 dan B9, serta serat pangan. "Inovasi ini menjadi bentuk dukungan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga," kata GM Marketing PT Sasa Inti Albert Dinata.

Head of R&D PT Sasa Inti Susi Purnama mengatakan, perusahaannya ingin mengingatkan masyarakat soal nutrisi yang baik dan sehat. Untuk itu, dua tahun timnya meneliti dan menformulasikan produk dengan sistem konvensional dan modern agar vitamin dalam makanan tidak hilang saat digoreng.

"Hasilnya, selain tekstur tetap renyah, aromanya pun lebih kuat. Ternyata ini memberikan hasil menakjubkan sehingga gizinya terproteksi," tambah Susi.

Figur publik Paula Verhoeven mengaku menyukai gorengan. "Siapa sihyang enggak suka gorengan?" kata dia.

Namun, istri Baim Wong ini sangat memperhatikan asupan nutrisi keluarganya. Memang, dengan digoreng, gizinya jadi berkurang. Namun, dengan tepung bervitamin ini, dia bisa menggunakannya agar tidak khawatir nutrisi makanan untuk keluarganya berkurang.

photo
Menggoreng bahan makanan dengan minyak yang sehat - (oliveoilfromspain.org)

Bukan Sekadar Kenyang

 

Makan kenyang memang memenuhi kebutuhan perut yang lapar. Makanan diperlukan bukan untuk sekadar kenyang, melainkan juga kesehatan dan fungsi tubuh yang optimal. Karena itu, makanan bernutrisi sangat dibutuhkan, tapi hidden hunger atau kelaparan tersembunyi selalu membayangi.

Hidden hunger terjadi akibat tidak terpenuhi kebutuhan zat gizi mikro, yaitu iodium, zat besi, vitamin, dan mineral. Guru besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia, Universitas IPB, Dodik Briawan menjelaskan, hidden hunger berbeda dengan kelaparan yang diperlihatkan dengan fisik yang kurus. Kelaparan tersembunyi ini tak tampak dan semua usia bisa mengalaminya.

Sekitar 20 persen sampai 40 persen populasi kita menderita defisiensi gizi tadi, kata Dodik dalam acara Lezatnya Royco Baru dengan Garam Beriodium untuk #BantuTumbuhSesuai, Senin (25/1). Banyak masyarakat tak menyadarinya, padahal, kata dia, dampaknya berjangka panjang, terutama dalam proses metabolisme tubuh.

Itu sebabnya, penyanyi Tantri Syalindri Ichlasari atau Tantri Kotak berupaya menjauhkan hidden hunger ini dari keluarganya. Caranya adalah dengan memenuhi gizi dengan varian menu untuk keluarganya. Yang dilihat bukan hanya porsi, tapi pemenuhan vitamin dan mineral. "Kita harus melek informasi, cermati tumbuh kembang anak untuk terhindar hidden hunger," ujar dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Chef Norman (chefnormanismail)

Dokter Spesialis Gizi Klinik dr Diana F Suganda sepakat dengan Tantri tentang pentingnya orang tua memahami soal nutrisi bagi keluarga. Contohnya, jika kekurangan garam iodium dapat memicu masalah kesehatan. Selain gondok, kekurangan iodium mengakibatkan perkembangan otak terganggu. Dampaknya jauh lebih luas dan dapat terjadi pada semua usia.

Untuk iodium, selain garam, sumbernya ada beragam. Royco kini memberikan pilihan bagi keluarga untuk mendapatkan sumber iodium, yaitu dari Royco Garam Beriodium pada Kaldu Ayam dan Sapi. Sejak 2019, Director of Foods and Refreshment PT Unilever Indonesia Tbk Hernie Raharja menjelaskan Unilever membantu masyarakat untuk bertransisi ke pola makan sehat sambil mengurangi dampak lingkungan.

"Kandungan iodium dalam Royco baru sangat baik untuk anak, karena dapat membantu membentuk hormon pertumbuhan, sehingga perkembangan kecerdasan, fisik dan mental anak menjadi lebih optimal," kata dia.

Untuk menyajikan menu yang bernutrisi, Chef Norman Ismail membagi resepnya yang lezat. "Ini mudah dibuat dan mengandung syarat kebutuhan gizi untuk semua, kata chef Norman.

Menu pertama adalah Nasi Kacang Hijau Ubi Merah.

Bahannya, beras merah (150 gram), jagung manis pipil (75 gram), kacang hijau (50 gram) direbus, ubi merah (setengah buah dipotong dadu kecil), daun salam dan sereh, lada bubuk, Royco Kaldu Ayam (setengah sendok teh), dan air (250 ml).

Didihkan air, lalu masukkan semua bahan dan diaduk rata sampai matang, kemudian sajikan.

Norman membagi menu keduanya, yaitu Steam Kembung Daun Kelor. Ikan kembung yang sudah dilumuri jeruk nipis, ditaburi gula, lada, dan Royco Kaldu Ayam (satu sendok teh).

Tambahkan sedikit cincangan jahe, bawang putih (tiga siung), dan petikan daun ketumbar. Kukus ikan dan menjelang matang, taburi ikan dengan daun kelor (enam sendok makan) dan pakcoy. Kukus lagi hingga matang, lalu angkat dan hiasi dengan cabai merah besar. "Proses kukus 20-30 menit, tergantung besar kecilnya ikan," ujar chef Norman.


×